Jasa Marga Solo Ngawi Salurkan 20 Rumah Burung Hantu untuk Petani Ngawi

oleh
oleh

NGAWI, MettaNEWS – PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN) menyalurkan bantuan 20 unit Rumah Burung Hantu (Rubuha) kepada petani di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Bantuan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) ini diharapkan membantu mengendalikan hama tikus secara alami sekaligus mendukung ketahanan pangan.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Direktur Utama PT JSN, Mery Natacha Panjaitan, kepada Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bangun Tani, Suyadi, di balai desa setempat, Selasa (20/10/2026).

Mery mengatakan, program tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional jalan tol Solo-Ngawi.

“Melalui kegiatan TJSL ini, kami ingin menunjukkan kepedulian sekaligus mendukung keberlanjutan ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas para petani di desa ini,” ujar Mery.

Ia berharap, 20 unit Rubuha tersebut dapat menjadi tempat burung hantu bersarang dan berkembang biak. Dengan meningkatnya populasi burung hantu di area persawahan, petani diharapkan terbantu dalam menekan populasi tikus yang menjadi salah satu hama tanaman padi.

“Harapannya, 20 rumah burung hantu ini bisa menjadi rumah awal bagi burung hantu yang memang diharapkan semakin banyak di tengah-tengah sawah. Burung hantu ini nantinya menjadi alat bantu petani untuk membasmi hama tikus,” jelasnya.

Mery menambahkan, program bantuan Rubuha tidak berhenti di Desa Bangunrejo Kidul. JSN berencana melanjutkan penyaluran bantuan serupa ke desa-desa lain yang memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan bisnis perusahaan.

Menurutnya, bantuan yang disalurkan pada Oktober ini baru menjangkau Desa Bangunrejo Kidul. Dalam dua bulan berikutnya, perusahaan berencana memperluas program tersebut ke wilayah lain.

“Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan berkesinambungan, termasuk untuk desa-desa lain yang memang memiliki keterkaitan langsung dengan bisnis kami,” katanya.

Ngawi Butuh Ribuan Rumah Burung Hantu

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi, Supardi, mengapresiasi dukungan JSN kepada para petani. Menurutnya, rumah burung hantu merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan untuk mendukung pengendalian hama tikus secara alami.

Supardi menjelaskan, Kabupaten Ngawi memiliki lahan pertanian sekitar 49.715 hektare. Jika mengacu pada kebutuhan ideal satu rumah burung hantu untuk setiap lima hektare lahan, daerah tersebut memerlukan ribuan unit Rubuha agar pemanfaatannya dapat menjangkau seluruh kawasan pertanian.

“Kalau idealnya satu rumah burung hantu untuk lima hektare, dengan luas lahan pertanian Ngawi sekitar 49.715 hektare, tentu dibutuhkan ribuan rumah burung hantu,” ungkap Supardi.

Namun, ketersediaan Rubuha di Kabupaten Ngawi saat ini masih terbatas. Berdasarkan perkiraan DKPP, jumlah yang tersedia baru mencakup sekitar 20 persen dari kebutuhan berdasarkan luas lahan pertanian.

Karena itu, keterlibatan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan dinilai dapat membantu pemerintah daerah memperluas penggunaan metode pengendalian hama yang ramah lingkungan.

“Dengan adanya rumah burung hantu ini, kami berharap burung hantu bisa bersarang dan berkembang biak. Burung hantu merupakan pemangsa tikus, sehingga keberadaannya diharapkan dapat membantu menekan populasi hama tikus di persawahan,” jelasnya.

Supardi menilai, pengendalian hama secara alami tersebut dapat berjalan efektif apabila didukung ketersediaan rumah burung hantu yang memadai serta populasi burung hantu yang terus berkembang.

Ia berharap kolaborasi pemerintah daerah, perusahaan, dan kelompok tani semakin kuat untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung keberlanjutan ketahanan pangan di Kabupaten Ngawi.