Edukasi Demokrasi di SMPN 11 Solo, Pelajar Diajak Bijak Gunakan Hak Suara

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong penguatan pendidikan demokrasi sejak dini untuk membentuk generasi muda yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab. Pemahaman demokrasi dinilai tidak cukup hanya melalui teori, tetapi perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah.

Hal itu disampaikan Astrid saat menjadi pembicara utama (keynote speaker) dalam program edukasi Kelas Demokrasi Goes to School di SMP Negeri 11 Surakarta, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan pemahaman pelajar tentang demokrasi sekaligus mempersiapkan mereka menjadi pemilih pemula yang berintegritas pada Pemilu 2029.

Astrid mengatakan, sekolah merupakan ruang strategis untuk mengenalkan nilai-nilai demokrasi melalui pengalaman langsung. Praktik sederhana seperti pemilihan ketua kelas dan ketua OSIS dapat menjadi sarana bagi siswa untuk belajar menggunakan hak suara, menghargai perbedaan pendapat, serta menerima hasil keputusan bersama.

“Praktik demokrasi itu sangat dekat dengan kehidupan kalian. Mulai dari pemilihan ketua kelas hingga ketua OSIS, semuanya merupakan bentuk nyata bagaimana kita belajar berdemokrasi, menghargai perbedaan pendapat, dan menggunakan hak suara secara bijak,” ujarnya.

Menurut Astrid, pengalaman berdemokrasi di sekolah dapat menjadi bekal bagi pelajar untuk memahami proses demokrasi yang lebih luas. Dengan begitu, mereka diharapkan mampu berpartisipasi secara bertanggung jawab ketika memiliki hak pilih dalam pemilu.

Pelajar Diajak Kritis Menghadapi Informasi Digital

Selain memahami hak dan kewajiban dalam demokrasi, Astrid menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi digital.

Generasi muda perlu memiliki kecakapan untuk memilah informasi, memeriksa kebenaran berita, serta tidak mudah terpengaruh hoaks atau konten yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Materi edukasi dalam kegiatan tersebut turut diperkuat oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surakarta, perwakilan DPRD Kota Surakarta Yudha Sindhu Riyanto, serta perwakilan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo).

Para narasumber memberikan pemahaman mengenai demokrasi, sistem pemerintahan daerah, dan pentingnya literasi digital dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di masyarakat.

Pembekalan tersebut diharapkan membantu siswa memahami bahwa partisipasi demokrasi tidak hanya diwujudkan melalui penggunaan hak suara, tetapi juga melalui sikap kritis, tanggung jawab, dan kemampuan menghormati perbedaan.

Demokrasi Sehat Dimulai dari Generasi Muda

Astrid menegaskan, pendidikan demokrasi sejak bangku sekolah merupakan investasi penting untuk membangun kehidupan demokrasi yang sehat. Pelajar perlu memahami hak sebagai warga negara sekaligus menyadari tanggung jawab menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan berpartisipasi positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, pemahaman tersebut perlu ditanamkan secara berkelanjutan agar generasi muda tidak hanya menjadi pemilih, tetapi juga mampu menjaga kualitas proses demokrasi.

“Demokrasi harus berasal dari rakyat, untuk rakyat, dan kembali kepada rakyat. Dengan memahaminya sejak di bangku sekolah, kita sedang mempersiapkan generasi yang mampu menjaga proses demokrasi agar berjalan secara terbuka, jujur, dan berintegritas,” pungkasnya.

Melalui program Kelas Demokrasi Goes to School, diharapkan para pelajar semakin memahami pentingnya demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Bekal tersebut juga diharapkan membentuk generasi muda yang mampu menggunakan hak politik secara bijak, menangkal informasi palsu, serta berkontribusi dalam mewujudkan demokrasi yang sehat menjelang Pemilu 2029.