Wali Kota Respati Soroti Potensi Warga Binaan Rutan Solo, Ada Kreativitas dan Kesempatan Kedua

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wali Kota Solo Respati Ardi menyoroti potensi dan kreativitas warga binaan saat menyaksikan langsung Pagelaran Seni Kontemporer Rutan Kelas I Solo, Kamis (13/8/2026) malam.

Pagelaran bertajuk “Suasana Malam Merdeka Rutan Surakarta: Akulturasi Jiwa, Rasa, dan Karsa” tersebut menjadi ruang bagi warga binaan untuk belajar, berkarya, sekaligus membangun harapan baru.

Kegiatan itu sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Solo.

Sejumlah pertunjukan seni dan budaya ditampilkan warga binaan. Di antaranya drama Roro Djonggrang, fashion show kolaborasi dengan Batik diNaDi, peluncuran produk batik dengan desain “Melipat Malam”, hingga pertunjukan musik gamelan.

Respati menilai pagelaran tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga menunjukkan bahwa warga binaan memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan selama menjalani proses pembinaan.

“Ini menunjukkan bahwa di balik status sebagai warga binaan, tetap ada potensi, kreativitas, dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Ini merubah wajah rutan, karena ini benar-benar menyembuhkan dan merubah karakter warga binaan,” kata Respati.

Menurutnya, proses pembinaan melalui seni, budaya, kreativitas, hingga pemberdayaan ekonomi merupakan bagian penting dalam mempersiapkan warga binaan sebelum kembali ke masyarakat.

Respati memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo akan memberikan dukungan terhadap upaya warga binaan untuk terus berkarya. Ia menilai setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

“Kita siap support karena setiap orang pasti punya penyesalan. Dan setiap insan manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk terus tumbuh,” tuturnya.

Respati juga memberikan apresiasi kepada Rutan Kelas I Solo atas pembinaan yang dilakukan dengan pendekatan seni dan budaya. Menurutnya, pembangunan Kota Solo tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana manusia di dalamnya dapat diberdayakan.

Karena itu, ia berharap masyarakat turut memberikan ruang bagi warga binaan untuk kembali berbaur setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Pemkot Solo, lanjut Respati, siap mendukung berbagai upaya yang dapat membantu warga binaan memiliki bekal keterampilan dan kepercayaan diri sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Rutan Solo Siapkan Warga Binaan Kembali ke Masyarakat

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas I Solo Bhanad Shofa Kurniawan menjelaskan bahwa pagelaran seni tersebut merupakan salah satu bagian dari proses pembinaan warga binaan.

Pihaknya berkomitmen memberikan berbagai pembinaan agar warga binaan dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki keterampilan yang dapat digunakan setelah bebas.

“Di sini, warga binaan sedang berproses merubah dirinya menjadi lebih baik. Di sini kita berikan bekal sehingga ketika pulang nanti bisa ada keterampilan yang bisa berkontribusi untuk Kota Surakarta,” papar Bhanad.

Bhanad berharap masyarakat dapat melihat proses perubahan yang sedang dijalani warga binaan dan memberikan kesempatan ketika mereka nantinya kembali ke lingkungan masing-masing.

“Harapan kami, masyarakat bisa menerima dan memaafkan serta membimbing mereka juga,” imbuhnya.

Menurut Bhanad, dukungan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam membantu warga binaan kembali menjalani kehidupan secara positif setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Salah satu karya yang menjadi perhatian dalam pagelaran tersebut adalah motif batik “Melipat Malam”. Motif tersebut tidak hanya menjadi produk kreativitas warga binaan, tetapi juga memiliki pesan filosofis tentang proses perubahan diri.

Bhanad menjelaskan, “Melipat Malam” menggambarkan keberanian warga binaan untuk meninggalkan masa lalu dan menyongsong kehidupan yang lebih baik.

“Motif ini bermakna melipat masa lalu yang kelam warga binaan untuk menyongsong masa depan yang menjadi lebih baik,” tandasnya.

Melalui pagelaran seni kontemporer tersebut, Rutan Kelas I Solo menunjukkan bahwa proses pembinaan tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku, tetapi juga membuka ruang kreativitas, keterampilan, dan pemberdayaan warga binaan agar lebih siap kembali menjadi bagian dari masyarakat.