Transaksi QRIS Solo Raya Tembus Rp11,62 Triliun, Merchant Tak Aktif Berpotensi Ditutup Bank Indonesia

oleh
oleh
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Dwianto Cahyo Sumirat, di kegiatan Srawung Awak Media Bersama Bank Indonesia (SRAMBI) di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (31/7/2026) | MettaNEWS / Puspita

MALANG, MettaNEWS – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Solo Raya terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga akhir Juni 2026, nilai transaksi QRIS telah mencapai Rp11,62 triliun, meningkat 113,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Tak hanya dari sisi nominal, volume transaksi juga melonjak tajam. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, tercatat 139.342.162 transaksi QRIS di Solo Raya atau tumbuh 168,4 persen (yoy).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Dwianto Cahyo Sumirat, mengungkapkan hingga Juni 2026 terdapat 932.494 merchant QRIS yang tersebar di wilayah Solo Raya.

“Dari sisi pangsa, Kota Surakarta masih mendominasi, baik jumlah merchant maupun transaksi QRIS,” terang Dwianto saat kegiatan Srawung Awak Media Bersama Bank Indonesia (SRAMBI) di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (31/7/2026) malam.

Ia menjelaskan, Kota Solo menguasai 38,1 persen dari total merchant QRIS di Solo Raya dan menyumbang 38,8 persen dari total transaksi QRIS.

Meski jumlah merchant saat ini mendekati satu juta, Dwianto mengungkapkan ada kemungkinan jumlah tersebut akan berkurang dalam waktu dekat. Pasalnya, sejumlah perbankan berencana menonaktifkan atau menutup akun QRIS yang tidak digunakan dalam jangka waktu tertentu.

“Kemungkinan jumlah merchant akan turun karena ada perbankan yang akan memblokir akun QRIS yang tidak digunakan dalam jangka waktu tertentu. Tapi kita belum tahu berapa banyak yang akan ditutup,” kata Dwianto yang akrab disapa Anto ini.

Langkah tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas ekosistem pembayaran digital agar data merchant tetap aktif dan akurat.

Selain memaparkan perkembangan transaksi, BI Solo juga menyampaikan hasil survei penggunaan QRIS di Solo Raya yang dilakukan pada periode November 2025 hingga Juni 2026.

Survei tersebut melibatkan 1.852 responden, dengan 1.203 orang atau 64,9 persen di antaranya mengaku telah menggunakan metode pembayaran non-tunai.

Dari kelompok pengguna transaksi digital tersebut, 66,64 persen menyatakan paling sering memanfaatkan QRIS untuk membeli makanan dan minuman.

Penggunaan QRIS untuk transaksi kuliner juga menjadi yang paling dominan di seluruh kelompok usia. Bahkan pada kelompok usia 11 hingga 20 tahun, angkanya mencapai 74,5 persen, menunjukkan tingginya adopsi pembayaran digital di kalangan generasi muda.

Pertumbuhan pesat transaksi dan merchant QRIS ini mencerminkan semakin kuatnya budaya transaksi digital di Solo Raya. Bank Indonesia pun terus mendorong perluasan penggunaan QRIS sebagai sistem pembayaran yang aman, cepat, mudah, murah, dan inklusif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital di daerah.