SEMARANG, MettaNEWS – Perekonomian Jawa Tengah menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa sebesar 5,65 persen dan nasional sebesar 5,29 persen.
Kinerja tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, berlanjutnya investasi, serta kinerja sejumlah sektor utama perekonomian Jawa Tengah.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Media Briefing Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) se-Jawa Tengah yang melibatkan KPwBI Provinsi Jawa Tengah, KPwBI Solo, KPwBI Tegal, dan KPwBI Purwokerto.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan sinergi komunikasi kebijakan Bank Indonesia sekaligus menyampaikan perkembangan ekonomi dan berbagai langkah strategis untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.
Konsumsi, Investasi, dan Industri Jadi Penopang Ekonomi Jateng
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga Jawa Tengah pada triwulan II 2026 tumbuh 4,31 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut didukung meningkatnya mobilitas masyarakat selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan periode libur panjang.
Sementara itu, investasi mencatat pertumbuhan yang cukup kuat sebesar 8,84 persen (yoy) seiring berlanjutnya pembangunan kawasan industri dan Proyek Strategis Nasional (PSN). Konsumsi pemerintah juga tumbuh tinggi, yakni mencapai 15,69 persen (yoy).
KEpala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho Direktur menyampaikan, dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh 5,03 persen, perdagangan 7,52 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh mencapai 12,80 persen (yoy).
Capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi Jawa Tengah masih bergerak positif meskipun perekonomian global menghadapi berbagai ketidakpastian.
Inflasi Jateng Juli 2026 Terkendali 2,60 Persen
Selain pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga juga tetap menjadi perhatian Bank Indonesia bersama pemerintah daerah.
Inflasi Jawa Tengah pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,60 persen (yoy). Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,88 persen.
Pengendalian inflasi dilakukan melalui sinergi Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), baik di tingkat provinsi maupun 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Strategi pengendalian inflasi dilakukan melalui pendekatan 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Strategi tersebut tidak hanya diarahkan untuk merespons gejolak harga dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur pasokan dan distribusi dalam jangka panjang.
“Upaya yang dilakukan antara lain meningkatkan produktivitas komoditas pangan strategis, memperluas Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara wilayah surplus dan defisit, memperkuat outlet pangan dan BUMD sebagai offtaker, serta mengembangkan digitalisasi data sebagai sistem peringatan dini,” tutur Noor Nugroho.
BI Waspadai Kenaikan Biaya Produksi dan Risiko Global
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai.
Hasil liaison Bank Indonesia dengan pelaku usaha pada triwulan II 2026 menunjukkan pelaku usaha masih optimistis terhadap prospek perekonomian ke depan.
Namun, terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian, seperti kenaikan biaya produksi, biaya pembiayaan, keandalan energi, serta dinamika perdagangan global.
Karena itu, penguatan permintaan domestik, keberlanjutan investasi, serta penciptaan iklim usaha dan pembiayaan yang kondusif dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.
BI Perkuat Riset dan Pengembangan UMKM
Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, KPwBI se-Jawa Tengah terus melakukan asesmen, riset, dan penyediaan data sebagai dasar rekomendasi kebijakan.
Sejumlah kajian yang dilakukan antara lain terkait daya saing kawasan industri, ketahanan pasokan telur dan daging ayam, sumber pertumbuhan ekonomi baru, hingga quick survey untuk mengantisipasi isu terkini seperti dampak El Nino terhadap inflasi pangan.
Bank Indonesia juga melakukan kajian terkait pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT) di Jawa Tengah serta survei pengembangan Komoditas/Produk/Jenis Usaha Unggulan (KPJU).
Di sektor UMKM, pengembangan dilakukan melalui berbagai program seperti onboarding, UMKM ekspor, klaster ketahanan pangan, kemandirian pesantren, sertifikasi halal, hingga pengembangan UMKM hijau.
Pengguna QRIS Jateng Capai 9,08 Juta
Digitalisasi sistem pembayaran juga terus diperkuat sebagai salah satu instrumen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS di Jawa Tengah mencapai 9,08 juta, menjadikan Jateng sebagai provinsi dengan jumlah pengguna QRIS terbanyak ketiga secara nasional.
Sementara jumlah merchant QRIS mencapai 4,52 juta, atau menjadi yang terbanyak keempat secara nasional.
Bank Indonesia terus mendorong perluasan akseptasi pembayaran digital melalui Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026 yang berlangsung 11–17 Agustus 2026 dan dirangkaikan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Digitalisasi pembayaran dinilai mampu meningkatkan efisiensi transaksi, baik dari sisi waktu maupun biaya, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap ekosistem ekonomi digital.
Edukasi Rupiah Jangkau 29.909 Peserta
Selain mendorong digitalisasi, Bank Indonesia tetap memperkuat edukasi dan pemahaman masyarakat mengenai Rupiah.
Sepanjang paruh pertama 2026, sebanyak 49 kegiatan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP Rupiah) telah dilaksanakan dengan menjangkau 29.909 peserta di Jawa Tengah.
Bank Indonesia juga menjaga kualitas pengelolaan uang Rupiah hingga wilayah terluar melalui kegiatan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 di Kepulauan Karimunjawa.
Dalam kegiatan tersebut, Bank Indonesia menyalurkan Rp3,62 miliar uang layak edar ke empat pulau sekaligus menghadirkan layanan kas keliling dan edukasi CBP Rupiah.
Literasi Rupiah juga diperluas melalui kegiatan pendidikan, keagamaan, budaya, dan sport tourism di berbagai wilayah, termasuk Rupiah Borobudur Playon, Adipati QRIS Run di Solo, Tegal City Run, dan QRIS Purwokerto Run.
Ekonomi Syariah Jateng Terus Diperkuat
Penguatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah juga dilakukan melalui pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
KPwBI se-Jawa Tengah bersinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai mitra strategis untuk memperkuat literasi, ekosistem halal atau halal value chain (HVC), serta pengembangan usaha syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
Salah satunya melalui sinergi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah untuk membentuk Sekolah Pelopor Ekonomi Syariah (SPES), termasuk pengembangan zona KHAS atau Kuliner Halal, Aman, dan Sehat di lingkungan sekolah.
Pendampingan sertifikasi halal juga diberikan kepada penyelia, auditor, juru sembelih, pelaku usaha, hingga rumah potong hewan dan unggas untuk memperkuat ekosistem halal.
Berbagai aktivasi ekonomi syariah juga dilakukan melalui Olimpiade Aksi dan Syiar Ekonomi Syariah (OASE) 2026, Festival Ekonomi Syariah (FESYAR) Jawa, serta program syariah di wilayah kerja KPwBI Solo, Purwokerto, dan Tegal.
Di Solo Raya, penguatan ekonomi syariah dilakukan melalui Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren Solo Raya (SYEKATEN). Sementara KPwBI Purwokerto menggelar Semarak Festival Ekonomi Syariah (SELARAS), sedangkan KPwBI Tegal mengembangkan Syariah Festival Ekonomi Tegal (SYAFAAT).
BI Dorong Pertumbuhan Ekonomi Jateng yang Inklusif
Berbagai program tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesia yang diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi atau pro-growth.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dan program lintas wilayah bersama pemerintah daerah serta seluruh mitra strategis.
Fokusnya mencakup menjaga stabilitas harga, memperluas digitalisasi pembayaran, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan literasi Rupiah, serta mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Dengan sinergi yang semakin kuat, kinerja ekonomi Jawa Tengah yang telah tumbuh 5,71 persen pada triwulan II 2026 diharapkan dapat terus dipertahankan dan diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang lebih inklusif, berdaya tahan, serta memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.








