SOLO, MettaNEWS – Umat Gereja Katolik St. Petrus Purwosari menggelar kegiatan Sowan Ibu Kanthi Laku (SIKL), Minggu (20/9/2026) pagi. Mengenakan seragam kaos biru, mereka berjalan bersama dari Kapel St. Yusup Cemani Banaran, bukan sekadar jalan sehat, peziarahan ini membawa doa, harapan, dan semangat persaudaraan.
Dari titik awal, peserta bergerak menuju Bumi Laweyan, Purwosari, Mahahan Selatan, Mahahan Utara, Manggung (CP1), Mangkubumen, Punggawan, Penumping, Sriwedari (CP2), Panularan, Tipes, kemudian kembali ke Cemani Banaran dan berakhir di Kapel St. Yusup Cemani Banaran.
Konsep tersebut sesuai dengan semangat yang diusung SIKL, yakni “Mider Wilayah Nyambung Paseduluran Ngawa Berkah.”
Di tengah perjalanan, dua titik pemeriksaan atau check point disiapkan di Manggung dan Sriwedari. Peserta tidak hanya mengejar jarak, tetapi menikmati perjalanan sebagai sebuah kebersamaan.
Kabid Paguyuban Gereja St. Petrus Purwosari, Florentina Sri Hartati, mengatakan kegiatan SIKL lahir dari perpaduan dua hal yang dekat dengan umat, yakni berjalan kaki dan kegiatan doa.
“Kegiatannya itu berjalan, melangkah ke tempat-tempat berdoa atau Gua Maria, tapi yang kali ini kita wilayah, jadi kita mengelilingi semua wilayah di Paroki Purwosari,” kata Florentina.
Florentina mengungkapkan, peserta yang terlibat mencapai sekitar 200 orang. Mereka datang dengan latar belakang yang beragam, tetapi dipertemukan oleh kegemaran yang sama.
“Ada rasa cinta di jalan, ada guyub, ada saling mengenal, kita tetap beribadah,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk merangkul umat yang sebelumnya mungkin belum tergabung secara resmi dalam sebuah paguyuban.
Florentina menambahkan, SIKL tidak ingin berhenti pada kegiatan perdana atau satu rute perjalanan. Rute baru akan disiapkan dalam kegiatan berikutnya agar semakin banyak umat dapat bergabung.
“Ke depannya pasti akan diadakan lagi dengan rute yang berbeda dan semoga umat yang belum ikut,” katanya.
Menyatukan 12 Wilayah
Ketua SIKL Stefanus Hariono Budi mengatakan perjalanan keliling wilayah tersebut memiliki makna lebih jauh daripada sekadar menempuh jarak.
Menurutnya, kegiatan itu menjadi bentuk pendekatan spiritual kepada Bunda Maria sekaligus upaya memperkuat persaudaraan umat.
“Dari kepercayaan kita, kita mendekati Bunda Maria supaya semua doa kita, semua harapan kita disampaikan lewat Bunda Maria pada Yesus,” ujar Hariono.
Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai Mider Projo, yakni perjalanan melintasi wilayah-wilayah yang berada dalam lingkungan paroki.
“Kita melintasi atau melewati semua wilayah di paroki kita supaya kita lebih solid, bisa lebih kompak,” katanya.
Harapannya, kedekatan yang terbangun tidak hanya terasa ketika kegiatan berlangsung. Ketika gereja menghadapi persoalan, umat diharapkan memiliki semangat untuk saling menopang.
“Bila di gereja ada sesuatu masalah, diharapkan kita akan bersatu untuk menyelesaikan masalah itu,” tutur Hariono.
Semangat tersebut juga sejalan dengan harapan Wakil Dewan Paroki St. Petrus Purwosari, Robertus Poerbo Putranto. Ia mengatakan keberadaan paguyuban menjadi bagian penting dalam mendukung berbagai kegiatan gereja.
“Gereja itu perlu dukungan paguyuban. Manakala gereja ini mempunyai paguyuban-paguyuban yang cukup banyak, kegiatan-kegiatan gereja pasti juga akan banyak yang terbentuk,” ujar Poerbo.
Menurut Poerbo, Sowan Ibu Kanthi Laku merupakan salah satu paguyuban yang diharapkan mampu menjadi penggerak kegiatan menggereja, baik di tingkat wilayah maupun paroki.
“Harapan kami, dari 12 wilayah mempunyai kelompok-kelompok seperti ini. Sehingga tentu saja kegiatan-kegiatan yang ada di wilayah masing-masing bisa berjalan,” katanya.
Ia juga berharap muncul kelompok serupa dari kalangan anak muda yang memiliki kegiatan ziarah dan kerohanian.
Menguatkan Persaudaraan, Merawat Kebersamaan
Romo Yoseph Tjoek Prasetyo, MSF, yang memimpin Misa Pengukuhan Paguyuban SIKL pukul 10.00 WIB, melihat kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata gerakan umat.
“Dengan paguyuban mereka ingin mencari teman yang sama sehingga bisa berdialog dan akhirnya juga bisa menumbuhkan iman yang mereka terima dan dianugerahkan oleh Allah sendiri,” kata Romo Tjoek.
Romo Tjoek berharap keberadaan SIKL tidak menjadi kelompok yang hanya aktif dalam kegiatan sosial atau berjalan bersama. Lebih dari itu, kebersamaan tersebut diharapkan membawa umat pada pertumbuhan iman.
“Harapan Romo sebagai gembala supaya mereka semakin bersaudara dalam kelompok itu sendiri. Dan nanti bisa juga semakin mewujudkan gerakan-gerakan yang mengarah kepada pertumbuhan iman,” ujarnya.
Romo Tjoek juga menyoroti keterlibatan umat lanjut usia dalam kegiatan semacam ini. Menurutnya, mereka tetap bisa mengikuti perjalanan dengan dukungan dari peserta lain.
“Bapak-Ibu banyak saling membantu. Ada yang di tengah perjalanan ziarah tidak kuat bisa naik mobil, naik motor yang tim sediakan dan selalu mengiringi perjalanan. Semangat mereka ingin ikut, jadi tidak harus dari awal sampai akhir,” tuturnya.
Bagi SIKL, perjalanan peziarahan 10,3 kilometer itu akhirnya bukan hanya tentang seberapa jauh kaki melangkah. Ada doa yang dibawa, persaudaraan yang dirajut, dan harapan agar langkah kecil dari satu wilayah ke wilayah lain dapat menjadi jalan untuk semakin mengenal, menguatkan, dan menyatukan umat dalam kehidupan menggereja.












