SOLO, MettaNEWS – Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo menyampaikan hasil pertemuan dalam forum Bloomberg New Economy Forum yang digelar di New Delhi, pekan kemarin. Pertemuan yang dikemas dengan sarapan pagi bersama tersebut membahas isu strategis terkait kedaulatan data dan kedaulatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut Jokowi, hampir seluruh negara peserta forum menyoroti pentingnya data sovereignty dan AI sovereignty di tengah pesatnya perkembangan teknologi global.
Namun, Indonesia menegaskan posisi yang realistis dan strategis dalam menyikapi dua isu besar tersebut.
“Hampir semua negara berbicara mengenai data sovereignty dan AI sovereignty. Jadi kedaulatan data dan kedaulatan AI,” ujar Jokowi menyampaikan pada wartawan, Jumat (27/2/2026).
Jokowi menegaskan bahwa kedaulatan data merupakan hal yang mutlak dan sangat penting bagi semua negara, terutama negara-negara berkembang. Data, menurutnya, adalah fondasi utama dalam pembangunan ekonomi digital dan pengambilan kebijakan nasional di masa depan.
“Saya sampaikan di sana bahwa kedaulatan data itu mutlak dan sangat perlu bagi semua negara, utamanya negara-negara berkembang,” tegasnya.
Sementara itu, terkait kedaulatan AI, Jokowi menilai hal tersebut sebagai tantangan yang sangat besar, bahkan bagi negara-negara maju. Ia mencontohkan bagaimana negara besar pun masih bergantung pada rantai pasok global, baik dari sisi teknologi maupun sumber daya manusia.
“Untuk kedaulatan AI saya kira itu sebuah hal yang sangat sulit. Untuk negara besar saja akan sulit. Amerika mau kedaulatan AI seperti apa? Wong chip semikonduktor masih impor dari negara lain. Kemudian talent internasionalnya juga masih banyak yang dari India, apalagi negara-negara berkembang,” paparnya.
Oleh karena itu, Jokowi menekankan bahwa fokus utama negara-negara berkembang seharusnya adalah memperkuat kedaulatan data sekaligus menyiapkan fondasi infrastruktur digital secara menyeluruh. Infrastruktur tersebut meliputi satelit, pusat data (data center), jaringan fiber optik, hingga menara BTS yang akan menjadi tulang punggung ekosistem digital nasional.
“Yang paling penting adalah kedaulatan data. Kemudian untuk negara-negara berkembang memang perlu mempersiapkan infrastruktur digital,” katanya.
Jokowi juga mengingatkan bahwa dunia tengah bersiap memasuki era revolusi besar berbasis Artificial Intelligence dalam kurun waktu 5 hingga 15 tahun ke depan. Ia memprediksi seluruh aktivitas manusia akan sangat bergantung pada AI.
“Menurut perkiraan saya, 5 sampai 15 tahun yang akan datang akan ada revolusi besar Artificial Intelligence. Semua aktivitas manusia tidak akan lepas dari AI,” tukasnya.
Menghadapi pergeseran besar tersebut, Jokowi menegaskan pentingnya kesiapan menyeluruh, tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusia dan regulasi. Transformasi ekonomi, menurutnya, akan bergerak dari ekonomi konvensional menuju ekonomi digital, hingga akhirnya memasuki era ekonomi AI atau intelligent economy.
“Semua negara harus mempersiapkan. Kita juga harus mempersiapkan infrastruktur digitalnya, human resources-nya, sumber daya manusianya disiapkan, regulasinya disiapkan. Harus siap betul karena akan ada pergeseran besar dari ekonomi normal ke ekonomi digital, lalu ke ekonomi AI,” pungkas Jokowi.








