SOLO, MettaNEWS – Harga kedelai yang melambung tinggi sejak September tahun lalu, membuat perajin tahu mengeluh. Meski harga bahan baku naik dari sekitar Rp 6.500 menjadi Rp 11.550 sekarang, mereka tak bisa begitu saja menaikkan harga jual produk, karena takut tidak laku.
“Sudah ada satu dua perajin yang kehabisan modal. Makanya kemarin ada demo untuk menyuarakan kenaikkan harga yang sangat parah. Harga yang sudah tinggi sekali menyusutkan penjualan yang sangat banyak pula,” ungkap Saryanto, perajin tahu di Krajan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, saat ditemui MettaNews, Jumat (25/02/2022).
Saryanto yang juga ketua Koperasi Sumber Agung Krajan yang mewadahi sejumlah perajin tahu tempe di Mojosongo memaparkan, saat ini kondisi mayoritas perajin kurang lebih sama.
Lonjakan harga bahan baku sering menjadi kendala perajin tahu sejak lama. Namun, biasanya kenaikan hanya menyentuh kisaran 30-40 persen. Dalam kondisi seperti itu, perajin masih bisa melakukan beberapa langkah termasuk menaikkan harga untuk menutup modal.
“Kalau sekarang, mau dinaikkan jadi berapa? Sekarang saja karena pandemi, banyak pelanggan yang lari setidaknya mengurangi omzet. Kantin-kantin sekolah tutup, warung-warung hingga restoran juga berkurang omzetnya. Imbas ke perajin, penyusutan omzet sampai 40 persen,” keluhnya.
Di ambang panik, sejumlah perajin tahu dan tempe dari berbagai daerah, menggelar unjuk rasa di Jakarta, tanggal 21-23 Februari lalu. Menurut Saryanto, dari Jawa Tengah diwakili perajin dari Pekalongan.
“Saya dan teman-teman dari Solo lainnya, memilih tidak ikut. La wong hasilnya juga tidak pasti. Tapi kita tetap menyuarakan masalah ini ke pemerintah setempat. Karena, masalah kedelai ini kalau pemerintah tidak ikut campur, kami yakin tidak ada jalan keluar. Kalau seperti ini kan perajin kelas menengah ke bawah bisa jatuh semua. Yang tersisa nanti cuma kelas menengah atas yang modalnya banyak,” tuturnya.
Saryanto mengaku, dalam kondisi normal dia dibantu dua karyawan bisa mengolah 1 hingga 1,5 kuintal kedelai menjadi tahu. Sekarang, 80 kilogram. Kondisi yang demikian tidak membuatnya berfikir untuk meliburkan karyawan.
“Sambil jalan kita cari solusinya. Kalau berhenti produksi dampaknya ke karyawan nanti nggak kerja. Solusi sementara tetep disusutkan dulu ukurannya. Kenyataan di pasar kalau kita naikkan harganya nggak laku. Kita tetap produksi sambil lihat perkembangan pasar gimana. Kita menunggu pemerintah memberikan solusi, mungkin bakal lebih baik nanti,” ucapnya.
Tetap Pertahankan Kualitas Produksi
Merek kedelai impor yang terjual di pasaran sangatlah beragam. Terdapat harga dari yang paling murah sampai yang paling mahal dengan kualitas yang berbeda-beda. Saryanto mengaku tetap akan menggunakan merek yang sama meskipun mahal. Ia tetap akan pertahankan kualitas produksi agar tidak membuat pelanggan kecewa.
“Paling, supaya bisa tetap sama-sama jalan, ukuran yang kami perkecil sedikit. Kalau bahan yang diganti, dampaknya bisa lebih parah untuk jangka panjang, pelanggan pada lari,” ucapnya.
Sebagai ketua koperasi, Saryanto mengaku akan mencoba berkomunikasi dengan Dinas Perdagangan Kota Solo. Bulan Desember tahun lalu, pihaknya mendapat bantuan kedelai untuk para perajin, masing-masing mendapat 1 kuintal kedelai.
“Bantuan itu bisa melonggarkan biaya produksi untuk waktu 1-2 hari saja, Jumlah tersebut mampu membantu produksi dalam waktu satu sampai dua hari. Tapi itu sudah disambut sangat senang hati. Kami berharap ada bantuan lagi,” tandasnya. .








