Majelis Agama Khonghucu Indonesia Surakarta Adakan Sembahyang King Hoo Ping, Kirimkan Doa dengan Bakar Replika Kapal 3.5 Meter

oleh
oleh
MAKIN
Pembakaran replika Bahtera King Hoo Ping dengan ukuran panjang sekitar 3,5 meter. Dalam kapal berisi nama-nama arwah yang telah didoakan | dok Panitia

SOLO, MettaNEWS – Majelis Agama Khonghucu Indonesia atau MAKIN Surakarta kembali melaksanakan sembahyang  King Hoo Ping atau Sembahyang Rebutan. Upacara sembahyang ini bagi arwah umum. Dalam artian mengirimkan doa kepada semua arwah baik leluhur maupun arwah yang tidak lagi mendapat perhatian dari sanak keluarganya yang masih hidup.

Rohaniwan Ws. Adjie Chandra memimpin sembahyang King Hoo Ping ini, dengan kedua pendamping, dan para rohaniwan lain. Mengenakan jubah berwarna biru dan hadir puluhan umat dan simpatisan Khonghucu lainnya.

“Menurut legenda atau dongeng pada Jit Gwe (bulan 7 Imlek) pintu akherat dibuka, para arwah dapat kesempatan untuk turun ke dunia menengok sanak keluarganya. Menyambut kehadiran mereka masyarakat Tionghoa khususnya umat Khonghucu wajib melakukan sembahyang pengenangan penghormatan kepada mereka. Pelaksanaanya pada tanggal 15 bulan 7 Imlek (Jit Gwe Poa) dirumah masing-masing. Sedangkan pada akhir Jit Gwe sebelum para arwah kembali ke alamnya kita adakan upacara King Hoo Ping untuk menghormati mereka seakan mengantar mereka untuk segera kembali. MAKIN Surakarta biasanya memilih hari Minggu yang paling akhir pada bulan 7 Imlek tepatnya ya tanggal 10 September 2023 ini,” paparnya.

Maka lanjut Adjie Candra, untuk masyarakat Tionghoa yang masih memegang adat tradisional pada Jit Gwe ini ada yang pantang mengadakan kegiatan misalnya mantu, hajatan. Karena menganggap bahwa bulan 7 Imlek adalah bulan khusus untuk persembahyangan.

“Sembahyang King Hoo Ping ini juga merupakan sebuah rekomendasi bagi para arwah, atau setidaknya rasa simpati manusia yang masih hidup kepada mereka yang telah meninggal. Nabi Khongcu mengajarkan agar kita memperlakukan mereka yang telah tiada atau meninggal seperti atau seakan orang yang hidup. Hendaknya kita pahami kata seperti tidak berarti sama, karena bukankah orang yang meninggal itu dahulu pernah menjadi orang (hidup). Maka pengalaman atau jasa dan segala kebaikannya sebagai manusia seharusnya tidak dapat dan tidak boleh kita lupakan,” kata Adjie.

Tradisi sembahyang arwah umat Khonghucu sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu

MAKIN Surakarta sudah sejak puluhan tahun selalu melaksanakan upacara ini. Dari tahun ke tahun biasanya semakin banyak umat yang hadir. Selain menitipkan nama leluhurnya yang ditempel pada belakang altar sembahyang, mereka juga hadir untuk ikut berdoa bersama. Mereka beriman bahwa dengan melakukan sembahyang kepada lelulur maknanya adalah mengingatkan agar manusia tidak lupa akan sejarahnya, asal-usulnya. Tidak melupakan budi, jasa dan kasih dari leluhurnya, dengan membacakan doa-doa.

“Upacara sembahyang King Hoo Ping merupakan bentuk pendidikan etika moral dan budi pekerti kepada umat Khonghucu. Khususnya para generasi muda agar selalu bersedia membantu orang lain,” imbuhnya.

Selain ada altar Tuhan YME juga ada dua jenis altar sembahyang lainnya. Yaitu altar sembahyang umum dan altar Vegetarian untuk menghormati kepada mereka yang semasa hidupnya hidup vegetarian (tidak makan daging).

Ketua panitia sembahyang King Hoo Ping tahun ini adalah Js. Novita Luisiana Dewi. SE yang juga ketua WAKIN (Wanita Agama Khonghucu Indonesia) Surakarata beserta ibu-ibu yang lain.

Penyempurnaan upacara dengan pembakaran replika kapal Bahtera King Hoo Ping dengan ukuran panjang sekitar 3,5 meter. Dalam kapal berisi nama almarhum yang telah didoakan.

“Ini suatu lambang dengan sarana transpotasi tersebut kita mengantar agar para roh itu segera kembali ke tempatnya. Karena bulan 7 Imlek akan segera berakhir. Sembahyang ini adalah sembahyang rebutan. Karena menurut legenda para arwah yang hadir untuk menikmati sesaji ini sangat banyak sehingga terjadilah saling berebutan. Atau juga ada tradisi daerah yang lain selesai sembahyang sesajinya bisa peserta ambil. Kadang terjadi rebutan seperti tradisi ketika gunungan. Tapi yang jelas sebuah makna yang indah dapat kita peroleh yaitu “Jangan melupakan leluhur, jangan lupa asal usul kita,” tambah Novita.

Selain itu pada akhir acara ada pembagian beras kepada peserta upacara. Beras ini ada lah sumbangan dari para donatur dan simpatisan.