SOLO, Metta NEWS – Sebagai organisasi sosial, Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) terus memperbaiki manajemen organisasinya. Untuk mewujudkan manajemen mutu organisasi yang standar, dan terukur, PMS melakukan kick off ISO 9001 : 2015, Jumat (24/01/2022).
Persiapan menuju sertifikasi ISO ini, PMS menggandeng Total Quality Indonesia (TQI) untuk mendampingi dalam berbagai pembenahan yang harus dilakukan oleh PMS.
Sekretaris Umum PMS, Idayanti Willy Santosa mengatakan PMS ingin memperbaiki sistem agar jalannya organisasi sosial dalam melayani masyarakat dapat lebih tertata.
“Jadi kami ingin memperbaiki sistem sehingga semua itu lebih tertata. Jadi kami menginginkan PMS meskipun karyawannya tidak terlalu banyak, tetapi kami lebih tertata sehingga kami lebih bertanggung jawab terhadap masyarakat, itu salah satu tujuannya,” tutur Idayanti.
Idayanti menjelaskan sebagai organisasi sosial, PMS wajib bertanggung bertanggung jawab terhadap masyarakat.
“Sehingga kami merasa sangat perlu untuk mengambil sertifikasi ISO ini. Harapannya setelah mendapatkan sertifikasi mutu, PMS menjadi lebih maju dalam pelayanan dan lebih bertanggung jawab terhadap semua kegiatannya,” ungkap Idayanti.
Wakil Ketua Umum PMS Sumartono Hadinoto menerangkan, melalui rapat pengurus diputuskan untuk mengambil sertifikasi ISO 9001 : 2015 melihat perkembangan zaman yang terus bergulir saat ini.
“Kami berpikir PMS yang hingga saat ini telah melalui berbagai zaman, dari orde lama, orde baru, reformasi tetap masih eksis ini karena semua kegiatan PMS murni untuk sosial kemasyarakatan, olahraga dan budaya, dan kami betul-betul tidak berpolitik,” tutur Sumartono.
Dengan karakter organisasi yang netral, lanjut Sumartono membuat PMS bisa terus bekerja sama dengan pemerintah, TNI, Polri dan siapapun yang punya pelayanan maupun visi misi yang sejalan.
“Tapi kami juga sadar hingga saat ini PMS mendapatkan pengurus-pengurus yang komitmen dan ikhlas, dilandasi niat baik dan mempunyai konsistensi,” tandasnya.
Berdasarkan hal tersebut, lanjut Sumartono, pengurus PMS ingin mempunyai manajemen yang profesional dan terukur sehingga memperlancar untuk regenerasi berikutnya.
“Alih generasi mungkin semakin tidak gampang mencari pengurus-pengurus yang mau meluangkan waktu dan mampu untuk mengurus sebuah organisasi sosial. Karena kehidupan kedepan perjuangannya akan semakin keras. Untuk itulah kalau kita sudah punya manajemen yang profesional dan terukur untuk pengurusnya tidak terlalu banyak organisasi bisa tetap berjalan,” papar Sumartono.
Dengan sertifikasi ISO 9001 : 2015, pengurus yang punya ketulusan dan konsistensi akan terbantu dengan pengelolaan sistem manajemen yang profesional dan terukur.
“Sehingga segenap pengurus berkomitmen menggunakan TQI untuk mendapatkan sertifikasi ISO yaitu ISO pelayanan. Pengurus mau ikut berkoordinasi langsung dengan TQI untuk membuat SOP yang terukur dan profesional, juga semua karyawan mau melaksanakan,” tegasnya.
Sementara itu, Managing Director Total Quality Indonesia Johan Yang menambahkan organisasi sosial apapun bentuknya baik itu kemasyarakatan ataupun sosial sudah seharusnya bisa menerapkan sistem ISO.
“Sistem ISO yang terbaru yaitu versi 9001 : 2015 mempersyaratkan organisasi untuk menggunakan tata kelola yang lebih profesional. Jadi dengan kita menerapkan sistem ISO versi terbaru ini diharapkan masyarakat akan tumbuh rasa percaya kepada organisasi kita,” ungkap Johan.
Menurut Johan, banyak organisasi yang melakukan improvement hanya berdasarkan kejadian yang ada.
“Bagaimana manajemen resiko dapat kita lakukan sebelum masalah itu datang. Kita sudah mulai dapat menghitung resiko-resiko apa yang seharusnya dapat kita minimalisir. Kemudian perlu juga dilakukan performance evaluation atau evaluasi performa yang transparan yang diharapkan dapat membuat kepuasan pelanggan atau kepuasan masyarakat menjadi tinggi,” papar Johan.
Johan menyebut keberanian PMS mengambil sistem ISO maka PMS membuka diri pada pengawasan masyarakat sehingga pada akhirnya kepercayaan menjadi lebih besar dan lebih transparan.
Johan mengungkapkan, untuk menuju tata kelola yang profesional, transparan berbasis ISO 9001 : 2015 tidak dapat dikerjakan satu orang.
“Top manajemen harus didukung oleh jajaran-jajaran yang ada dibawahnya. Dan kita bentuk sebuah manajemen profesional yang memang berbasiskan kepada budaya kerja di PMS, sehingga dapat diturunkan pada generasi-generasi berikutnya,” kata Johan.
Johan mengaku salut pada pengurus PMS yang memiliki pemikiran besar terhadap legacy atau peninggalan yang seharusnya mulai dipikirkan oleh sebuah organisasi.
“Saya melihat PMS ini adalah sebuah paguyuban atau organisasi kemasyarakatan yang memiliki visi yang sangat kuat untuk merubah tata kelolanya menjadi tata kelola yang lebih profesional dan tata kelola yang lebih profesional itu memang bertujuan supaya mendapatkan perhatian dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat yang lebih tinggi,” katanya lagi.
Johan menyebut langkah PMS untuk mengambil ISO 9001 : 2015 ini adalah langkah yang berani karena tata kelola profesional yang dipilih adalah ISO versi 2015 yang menerapkan sistem internasional tanpa pengecualian.
“Pengurus PMS memiliki visi sampai ke arah sana adalah orang-orang besar yang ingin memberikan legacy kepada penerus-penerus pengurus PMS dikemudian hari. Sebuah sistem manajemen bermutu yang berstandar internasional itu layak kita support bersama. Karena PMS adalah milik masyarakat Solo jadi kita harus support bersama,” pungkasnya.








