Ladies Study, 5 Tahun Mengasah Perempuan dengan Pengetahuan

oleh
oleh
Ladies Study
Keluarga besar Ladies Study saat perayaan ulang tahun ke-5 | MettaNews/Ari Kristyono

SURABAYA, MettaNEWS – Rintisan kebaikan yang sudah berumur 5 tahun, sudah pasti pantas dirayakan. Ladies Study (dulunya bernama Lembaga Belajar Perempuan Indonesia), komunitas perempuan di Surabaya, kini semakin kokoh di jalurnya: mencerdaskan perempuan untuk bangsa yang berkualitas.

“Selama lima tahun, kami berproses. Ladies Study terus menjadi wadah belajar tiada henti. Menanamkan nilai-nilai dan pengetahuan bagi kaum perempuan,” tutur Ursulla Pradjonggo, founder Ladies Study di sela-sela perayaan ulang tahun ke-5 yang digelar di rumah makan XO Palace di Jalan Kupang Indah, Surabaya, Rabu (7/6/2023).

Sebuah seremonial yang sederhana tapi tak sekadarnya. Di sela-sela sajian makan malam, anggota-anggota bergantian menampilkan performa masing-masing. Beberapa membacakan quote, puisi, bernyanyi. Di penghujung acara, semua anggota pun larut menari dan bergandengan tangan.

Suasana kebersamaan yang hangat tak putus dari awal hingga akhir. Beberapa nama pun disebut untuk tampil di atas panggung. Di antaranya, tiga nama dari delapan penasihat yang paling aktif berkontribusi pada organisasi. Mereka adalah Ririn Asih Pindari, Astrid Wiratna dan Sumartono Hadinoto.

Juga ada 15 nama anggota yang mendapatkan hadiah, mereka terpilih sebagai peserta terbaik pelatihan kepemimpinan yang berlangsung sebelumnya.

“Kami selalu belajar mengembangkan diri dan berguna untuk sekeliling. Kepemimpinan salah satu yang terus menerus kami asah. Lihat saja, yang pada tampil hari ini, kemarin-kemarin mereka mungkin belum berani. Masih ragu-ragu dan kurang percaya diri. Jadi ada banyak kemajuan,” ujar Ketua Umum Ladies Study, Ina Gunawan.

Begini Syarat Menjadi Anggota Ladies Study

Ladies Study
Anggota Ladies Study menari bersama di perayaan ulang tahun ke-5 | MettaNews/Ari Kristyono

Ladies Study saat ini memiliki 50 anggota dan 8 penasihat. Ursulla Pradjonggo menyebut, komunitas memang tidak merekrut anggota secara luas. Bahkan secara berseloroh dia menyebut perekrutan berlangsung secara “rahasia.”

“Ha ha ya gak gitu juga. Tapi memang, untuk menjadi anggota, reputasi adalah nomor satu. Karena kami memang harus mencari orang-orang baik untuk bisa menyebar kebaikan,” tandasnya

Ketua Ladies Study Ina Gunawan menambahkan tentang keanggotaan.

“Begitu pentingnya harus diatur, agar menjaga kerukunan. Keharmonisan oleh karakter-sikap-gaya hidup yang sesuai dengan tujuan kita di dalam wadah belajar yg sederhana ini,”pesannya.

Ada beberapa syarat yang wajib, seperti memiliki spiritualisme berketuhanan yang mahaesa. Memiliki reputasi positif di masyarakat, tidak ada catatan kriminal dalam bentuk apapun.

“Termasuk tidak tercatat sebagai anggota di komunitas lain yang –mohon maaf—reputasinya negatif. Dan tentu, harus memiliki jiwa murid yang mudah diajar, sekaligus jiwa guru yang menjadi teladan,” imbuh Ina Gunawan.

Mengapa Ladies Study Jarang Aksi Sosial

Ladies Study
Ketua Laadies Sutdy Ina Gunawan memberikan plakat penghargaan kepada penasihat yang aktif berkontribusi | dok Ladies Study

Sebagai komunitas yang lahir dengan misi kemanusiaan, Ladies Study tergolong jarang menggelar aksi sosial. Ternyata, ada alasan khusus yang melandasi keputusan itu.

Ursulla mengaku telah memikirkan, melihat realita dan memastikan dinamika dunia kemanusiaan. Pihaknya melihat sudah sangat banyak komunitas yang melakukan aksi sosial secara aktif dan rutin.

“Di sinilah, Ladies Study terpanggil untuk merawat sisi kehidupan yang satunya. Yakni kemiskinan batiniah yang justru menjadi penderitaan kaum berada. Ya itu pada donator-donaturnya.”

Topeng-topeng harus dibuka sebagai awal memperbaiki diri sendiri.

“Ketuhanan yang genuine  bukan kemunafikan untuk agenda-agenda pribadi. Hanya melalui mengenal diri sendiri dan mengasihi diri sendiri dahulu, maka manusia dapat beproses kearah jiwa  yang sehat dan merawat jiwa-jiwa lain lebih sehat dan kuat,” imbuh Ursulla.

Bahkan tidak hanya itu, penguatan adab di dalam wadah lintas agama dan budaya dilakukan melalui beberapa cara. Seperti berbahasa Indonesia dengan benar, sikap mental positif, menghargai budaya Indonesia.

Satu prinsip baku lain dalam komunitas, Ladies Study tidak menerima sumbangan. Sebaliknya, para pakar yang berbagi ilmu pun tidak menerima honor.

“Kami belajar hidup dengan uang kas. Karena, kami ingin mendahulukan kemanusiaan di atas uang. Semua mahluk memiliki hak yang sama: berharga!” pungkas Ursulla.