1.000 Anak Putus Sekolah di Kota Solo Bisa Sekolah Gratis Lewat Program Ayo Sekolah, Cah Solo Kudu Pinter

oleh
putus sekolah
Dinas Pendidikan Kota Solo membuka program gratis sekolah bagi anak-anak putus sekolah lewat "Ayo Sekolah, Cah Solo Kudu Pinter" | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo lewat Dinas Pendidikan membuat program penanganan anak putus sekolah lewat “Ayo Sekolah, Cah Solo Kudu Pinter”.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dian Rineta menyebut ada 1000 anak yang putus sekolah dari usia 7 hingga 21 tahun.

“Kita baru memverifikasi data rilis Bappeda tahun 2017 sampai 2018. Ini sedang kita verifikasi tetapi berdasarkan data itu ternyata temuan-temuan yang tidak terdata itu masih ada.  Jadi banyak sekali yang menyampaikan hal ini di masyarakat termasuk dari Dinas Sosial,” ujarnya.

“Data dasar itu ada ribuan tetapi berdasarkan prinsip verifikasi awal pertama itu ada yang sudah sekolah dan yang lainnya,” sambung dia.

Dari 1000 anak yang putus sekolah, Dinas Pendidikan menuntaskan 718 anak terlebih dahulu.

“Tapi dari ribuan itu ternyata sudah terdeteksi tidak semuanya tidak sekolah. Jadi ada yang sudah melanjutkan itu kan data rilis belum Covid. Ternyata pas Covid itu ada yang sudah melanjutkan di luar sekolah gitu,” paparnya.

Pemkot Solo mendorong anak-anak yang masuk usia sekolah dengan rentang usia 10 hingga 12 tahun untuk menempuh sekolah regular.  Tanpa pungutan biaya, siswa yang sekolah regular akan mendapat Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo (BPMKS).

“Sebenarnya kita sedang menjaring datanya ya tetapi beberapa informasi data terakhir itu masuk tambahan data 130 dari Dinas Sosial. Berdasarkan hasil verifikasi BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai-red) itu anak-anak yang memang benar-benar terputus sekolahnya,” ujar dia.

Penyebab Putus Sekolah

Adapun penyebab banyaknya anak putus sekolah diungkapkan Dian karena kesadaran orangtua yang kurang dan menganggap bahwa sekolah adalah hal yang tidak penting.

“Sekarang ada yang di lokasi-lokasi tertentu itu menganggap sekolah tidak penting sehingga program ini kita mengajak stakeholder pentahelix itu siapa saja. Satu pemerintah internal dan eksternal ya Dinas Pendidikan eksternal itu pemerintah. Terus ada yang kedua ada masyarakat yang ketiga ada media sangat penting untuk akademisi juga,” jelasnya.

“Jadi itu diperlukan barang-barang kerjasama untuk menyadarkan masyarakat melihat kiri kanannya bagaimana siapa yang belum sekolah ya itu harus dipaksa untuk sekolah,” sambungnya.

Selain itu alasan putus sekolah juga karena hadirnya handphone yang membuat anak-anak malas sekolah. Yang tak kalah penting anak-anak yang broken home, hamil di luar nikah dan pernikahan dini juga paling banyak menyumbang banyaknya anak putus

“Kalau ekonomi sih saya pikir alasan saja. Karena kan pemerintah juga sebenarnya sudah gratis ada PPMKS ada PKH ya. Tapi itu tetap dijadikan alasan ekonomi,” terangnya.

“Gakin sama broken home sama ya yang kurang perhatian dari orang tuanya. Ada yang sudah melanjutkan sekolah dengan bantuan Babinsa misalnya anak dari wanita tuna susila di area Pasar Kliwon atau Semanggi,” bebernya.

Tidak ada Batasan kuota untuk program “Ayo Sekolah, Cah Solo Kudu Pinter” ini. Pihaknya menyebut siapa saja yang putus sekolah maka diwajibkan untuk bersekolah.

“Jangankan putus sekolah karena menikah keluar apa saja kita fasilitasi untuk sekolah. Artinya tidak ada anak ber-KTP Solo yang tidak sekolah harus bersekolah,” kata Dian.

Model program ini bermacam-macam menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak. Dian menyebut pihaknya akan melakukan assessment (penilaian) ke orangtua anak.

“Anggaran khsusu belum ada tapi kita perlu komitmen, anggaran nanti mengikuti kalau sudah jelas angkanya. Sebenarnya sekolah itu kalau dia mau sekolah saja,” tandasnya.

Bagi orangtua yang miliki anak putus sekolah bisa mendaftarkan anaknya ke Dinas Pendidikan Kota Solo.