SOLO, MettaNEWS – Musyawarah Kota atau Muskot Taekwondo Indonesia Solo tahun 2023 yang berlangsung di Hotel Asia, Minggu (7/5/2023) lalu menuai kritik tajam dari berbagai pihak.
Dalam pemilihan itu terdapat nama FX Hadi Rudyatmo mantan Walikota Solo sebagai kandidat ketua umum. Namun FX Rudy kalah dalam peroleh suara, dan melahirkan ketua umum baru yakni Brilian Noktiluca dengan perolehan 41;7.
Hal tersebut diungkapkan Tanu Kismanto, salah seorang sesepuh olahraga Terkwondo di Solo, pada Selasa (9/5/2023) siang.
Tanu mengatakan sejumlah pelatih senior ikut melayangkan kritik terhadap musyawarah kota tersebut. Mereka sempat mencoba masuk ke lokasi penyelenggaraan acara namun mendapatkan hadangan dan tak boleh masuk dalam proses pemilihan ketum baru itu.
Hal itulah yang akhirnya menyulut sejumlah pihak yang tidak setuju dengan putusan itu untuk memulai aksi protes di depan hotel terkait.
“Yang kasi itu sebetulnya dari orang tua murid. Kalau kami menyampaikan pendapat tidak sepakat dengan hasil musyawarah kota. Bukan berarti kami mau ngotot memaksakan ketua, tapi harusnya atas asas etika dan keelokan harusnya ada perubahan dulu di kepengurusan ini dengan menimbang kondisi di bawah,” beber Tanu Kismanto, Selasa (9/5/2023).
Pihak pelatih senior pun memutuskan untuk walk out dalam musyawarah kota itu, namun sebelumnya para pelatih senior telah menyampaikan sejumlah aspirasi. Salah satu poin yang paling penting adalah memilih ketua umum dari luar lingkungan olahraga taekwondo yang ada di Solo.
Muskot Taekwondo Solo, Usulan Nama FX Hadi Rudyatmo oleh Pelatih Senior
Oleh sebab itu mereka mengusulkan nama FX Hadi Rudyatmo dalam pemilihan itu. Tokoh dan sosok mantan Wali Kota Solo itu dianggap mampu mengembalikan marwah Taekwondo. Yang sempat tercoreng karena ada salah seorang pelatih yang kini jadi tersangka pelecehan seksual pada anak.
“Kami menghormati mekanisme Pengkot karena pengurus provinsi, ikut di dalamnya. Kasus kemarin itu belum tuntas, jadi mari beri ruang agar proses hukum berjalan terus. Harusnya tahu diri lah, kita duduk manis dulu biar prosesnya berjalan dulu karena situasi taekwondo ini tidak gampang ke depannya karena adanya pelatih taekwondo yang melakukan pelecehan. Masih banyak PR untuk membenahi nama tersebut. Kami bukannya melakukan penolakan, tapi mari kita timbang dulu aspirasi dari orang tua siswa,” terang dia.
Pelatih senior menginginkan situasi yang lebih tenang sebelum Pengkot Taekwondo Indonesia Solo menjalankan organisasi. Misalnya dengan melakukan pembenahan organisasi, pengarahan anggota, penyehatan, dan penyelamatan organisasi.
Di sisi lain, pihaknya menegaskan tidak bermasalah dengan siapa ketum yang baru saat ini dan tidak melandasi penolakan itu atas dasar suka dan tidak suka maupun secara personal, melainkan lebih pada situasi yang tidak kondusif pada saat ini.
“Kami sudah jelas mengusulkan Pak Rudy waktu itu. Mengapa, karena tokoh beliau yang terbukti bisa menganyomi. Menyelamatkan organisasi itu penting. Untuk situasi ini memang harus dari tokoh yang dari lingkungan luar taekwondo. Harapannya bisa berfikir ulang agar lebih bijak. Kami para-para pelatih ini berpikir soal prestasi, bukan siapa yang memimpin,” tukasnya.








