Solo Jadi Penentu Arah Baru APSF, 11 Negara Asia Tenggara Pilih Presiden Periode 2026-2030

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Sebanyak 11 negara anggota ASEAN yang tergabung dalam federasi olahraga disabilitas Asia Tenggara atau ASEAN Para Sports Federation (APSF) berkumpul di Kota Solo untuk mengikuti rapat umum sekaligus pemilihan anggota komite eksekutif periode 2026-2030.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut menjadi momentum strategis bagi APSF untuk menentukan kepemimpinan baru organisasi. Para delegasi dari 11 negara anggota yang memiliki hak suara (voters) akan memilih presiden APSF yang akan memimpin organisasi selama empat tahun ke depan.

Pemilihan kali ini menandai berakhirnya masa kepemimpinan Osoth Bhavilai yang telah menjabat sejak 2015. Dua kandidat yang maju dalam pemilihan presiden APSF periode 2026-2030 adalah Senny Marbun dari Indonesia dan Maitree Kongruang dari Thailand.

Rangkaian kegiatan diawali dengan acara welcoming dinner yang digelar di Alila Solo pada Jumat (5/6/2026) malam. Mengusung tema “No One Left Behind”, acara berlangsung hangat dengan suguhan kuliner khas Nusantara dan nuansa persaudaraan antarnegara anggota.

Ketua Organizing Committee, Reda Manthovani, menyampaikan kebanggaannya atas kepercayaan yang kembali diberikan kepada Indonesia sebagai tuan rumah, setelah sebelumnya sukses menggelar agenda serupa pada 2022.

“Malam ini bukan sekadar makan malam penyambutan. Ini adalah momen persahabatan, rasa syukur, dan kebersamaan. Setelah perjalanan ke Indonesia, kami berharap malam ini memungkinkan Anda merasakan kehangatan keramahan kami dan semangat kekeluargaan yang menghubungkan kita semua dalam gerakan olahraga disabilitas Asia Tenggara,” papar Reda.

Reda menyampaikan, perkembangan olahraga disabilitas di Indonesia menunjukkan tren yang sangat positif. Saat ini Indonesia telah memiliki fasilitas khusus pembinaan atlet disabilitas melalui Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, yang menjadi pusat pelatihan atlet paralimpiade nasional.

Reda menegaskan, tema “No One Left Behind” mencerminkan semangat inklusivitas yang menjadi fondasi olahraga disabilitas di kawasan Asia Tenggara.

“Setiap atlet berhak mendapatkan kesempatan, setiap negara berhak berkembang, setiap suara layak didengar, dan setiap orang layak diterima,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal APSF, Wandee Tosuwan, mengaku terkesan dengan penyelenggaraan kegiatan di Solo. Ia menilai Indonesia, khususnya National Paralympic Committee Indonesia, selalu mampu menghadirkan penyelenggaraan acara yang profesional dan berkesan.

“Kami mengira ini hanya makan malam biasa, tetapi ternyata luar biasa. Kami berkumpul di bawah lingkaran cahaya yang melambangkan kegembiraan sebelas negara yang bersatu hari ini,” kata Wandee.

Ia bahkan menyebut welcoming dinner di Solo sebagai salah satu yang paling istimewa dan inovatif yang pernah diselenggarakan dalam komunitas olahraga disabilitas ASEAN.

Wandee berharap sidang umum dan pemilihan yang berlangsung di Solo dapat berjalan sukses serta semakin memperkuat kolaborasi antarnegara anggota dalam memajukan olahraga disabilitas di kawasan.

“Kami yakin APSF akan terus berkembang dan bergerak maju dari satu generasi ke generasi berikutnya. Negara-negara ASEAN akan terus bekerja sama dan melangkah bersama,” pungkasnya.