Central Java Archibition 1.0 Launching Buku ImaJIWAktu, Dedikasi Arsitektur Membangun Rona Kota

oleh
Central Java Archibition
Central Java Archibition launching buku Imajiwaktu, Sabtu (11/2/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Mitra Pabrik melaunching sebuah buku rangkaian garis karya 10 arsitek Solo bernama ImaJIWAktu dalam event Central Java Archibition 1.0 di Mini Atrium Solo Paragon, Sabtu (11/2/2023).

Founder Mitra Pabrik, Hendra Dwi Chandra mengatakan buku ImaJIWAktu bercerita mengenai bagaimana ide kreatif bisa muncul.

“Pasti arsitek itu punya masa lalu dari waktu ke waktu yang ia alami dan itu menjadi dasar untuk mereka berkreasi,” jelas Hendra kepada Mettanews, Sabtu (11/2/2023).

Hendra menuturkan tiap desainer memiliki imajinasi yang tertuang dalam setiap karya. Karya tersebut menjadi perpaduan antara jiwa dan gaya representasi dari desainer.

“Dari hasil imajinasi tersebut akan menuangkan jiwa dan style desainnya mereka. Jiwa dan stylenya pemilik projek itu seperti apa dan bagaimana keilmuan tersebut tertuang dalam buku itu,” tambahnya.

ImaJIWAktu merupakan akronim dari Imaji Jiwa dan Waktu. Bagaimana suatu proses kreatif muncul karena tiga hal tersebut.

Sayangnya buku ini tidak dijual belikan secara bebas ke pasaran. Hendra menyebut buku ImaJIWAktu hanya ia cetak sebanyak 300 eksemplar saja.

“Buku ini tidak kami jual belikan, tapi kami akan memberikan buku tersebut ke kampus-kampus arsitek ada juga ke asosiasi arsitek. Buku ini akan membantu mereka yang terjun ke dunia arsitektur,” jelasnya.

Kendati demikian Hendra berharap dapat lebih luas dalam menjalin kerjasama dengan daerah-daerah Indonesia untuk ia tuangkan dalam buku ImaJIWAktu.

“Kami mencetak buku ImaJIWAktu baru 300 eksemplar. Ini memang pilot project kami untuk menciptakan buku tersebut kemudian nanti kami akan kolaborasi dengan daerah-daerah yang lain, karena Indonesia pasti punya kekhasan masing-masing dalam suatu karya,” kata dia.

Hendra berharap hadirnya buku ImaJIWAktu dapat membawa manfaat keilmuan arsitektur yang tak lekang oleh waktu.

“Harapan kami kenapa bentuknya buku karena buku itu tidak lekang untuk waktu. Jadi bisa kita turunkan dan dibaca oleh banyak orang. Harapan kami apa yang sudah kami buat karya yang sudah teman-teman desainer Solo buat. Bisa sharing keilmuannya ceritanya sampai bangunan tersebut berdiri,” harapnya.

Isi Buku ImaJIWAktu Dalam Central Java Archibition

Buku ImaJIWAktu membahas tentang keberadaan suatu bangunan sesungguhnya telah terciptakan sebanyak dua kali. Yaitu ketika proses pembangunan dan sebelumnya adalah saat sang arsitek merancang atau mendesain bangunan tersebut.

Dalam mendesain bangunan, terlepas dari pertimbangan kebutuhan dan idealisme pengguna tentunya, perspektif arsitek memengaruhi pengalaman masa lalunya, kehidupannya saat ini, dan harapannya di masa mendatang.

Salah satu arsitek legendaris Ieoh Ming Pei pernah menyebutkan bahwa arsitektur adalah cermin dari kehidupan. Membahas arsitektur bisa berarti membicarakan dinamika kehidupan manusia yang berkorelasi dengan lingkungan dan zaman. Berdasarkan premis itulah buku ImaJIWAktu tersusun.

ImaJIWAktu tidak membahas desain dan spesifikasi teknis bangunan secara rinci sebagaimana yang sudah banyak tersajikan oleh banyak buku arsitektur. Tetapi mencoba melihat manusia (tepatnya sang arsitek) di belakang sketsa. Jiwa di tengah imaji(nasi) yang terbentuk selama perjalanan waktu. Tentu ada yang bisa kita pelajari dari pengalaman, pemikiran, dan harapan dari sepuluh arsitek dari kota Surakarta yang telah bersedia berbagi cerita dan cita.

Bertahan pada premis arsitektur adalah cermin dari kehidupan. Alur buku disusun berdasarkan proses desain sebagaimana perjalanan kehidupan manusia. dimulai dengan proses desain yang menyertai kehamilan (Kala Imaji dan Jiwa Berjumpa); desain yang dipengaruhi oleh permainan masa kecil anak (Tata Lego dalam Goresan Karya dan Kinestetik Ruang dari Permainan Modern); perjuangan manusia yang mulai beranjak dewasa (Asa dari Desa); mulai mengenal orang lain, berinteraksi, dan bekerjasama (Tenun Sinergi Dua Karsa); belajar pada alam dan lingkungan secara lebih komprehensif (Rima dan Kejujuran Rasa, Elok Budaya Buah Karya, Garis Hujan Ide Hunian, dan Menghidupkan Nafas Alam); kemudian berhenti sejenak untuk memotret apa yang telah dilakukan dalam waktu yang pernah dilalui (Kala Waktu jadi Penentu).

“Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan arsitek dari Surakarta yang bersedia berbagi cerita. Kami berharap agar semangat berbagi cerita ini juga menular pada kawan-kawan arsitek dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Semoga buku ini dapat berperan serta dalam memasyarakatkan arsitek dan mengarsitekkan masyarakat Indonesia,” tutup Hendra.