Jawab Tantangan Industri Pariwisata Global, AKPARTA Rebranding Jadi Surakarta Tourism Academy 

oleh
oleh
Rebranding AKPARTA Surakarta menjadi Surakarta Tourism Academy | Selasa (19/7/2022) | Metta NEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Menjawab tantangan dunia usaha dan dunia industri pariwisata global, dengan pengalaman dibidang Pendidikan pariwisata selama 30 tahun, serta upaya merevitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi, Akademi Pariwisata Widya Nusantara Surakarta (AKPARTA) dan AKPARTA Training Center (ATC) melebur menjadi Surakarta Tourism Academy (STA).

Ketua Yayasan Pendidikan Widya Nusantara Astrid Widayani S.E., S.S., M.B.A, mengatakan Surakarta Tourism Academy (STA) mempunyai spirit yang sama, untuk meningkatkan kualitas SDM pariwisata yang dapat bersaing secara global.

Berawal dari Akademi Pariwisata Widya Nusantara Surakarta (AKPARTA) yang berdiri sejak 17 November 1992, dibawah Yayasan Pendidikan Widya Nusantara. AKPARTA telah mencetak tenaga kerja professional baik di dalam maupun di luar negeri. Di era pandemi, pada tanggal 27 April 2020, dibawah yayasan yang sama, AKPARTA menciptakan suatu program baru bernama AKPARTA Training Center atau ATC, yang lebih berfokus pada keterampilan dan kesiapan tenaga kerja Industri pariwisata,” jelas Astrid. 

Astrid mengungkapkan, STA menghadirkan program-program unggulan, yang memadukan kurikulum berbasis internasional dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Diantaranya Perhotelan, Cruise Ship, Digital Tourism, Culinary, Barista, Eco Tourism, Event Organizer atau MICE dan Tour Guide. 

“Dalam pengembangan SDM yang unggul, STA memiliki 5 values yakni Dynamic, Collaborative, Responsive, Up-to-date, and Sharing Resources,” terang Astrid. 

Sebagai bentuk komitmen pada keberlanjutan program, Edushift dan STA menyelenggarakan launching dan rebranding dalam seminar dengan tajuk “Revitalisasi Pendidikan Vokasi di Era Digital”. 

Dalam kegiatan ini, Edushift dan STA juga turut mengundang narasumber dari Kementerian Tenaga Kerja yang diwakili oleh Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Budi Hartawan, S.E., M.A. 

Budi menyoroti kebijakan pelatihan vokasi untuk meningkatkan daya saing dan melindungi tenaga kerja. Kemnaker sangat memperhatikan skill pencari tenaga kerja yang selama ini belum bisa memenuhi kebutuhan industri modern. 

“Kemnaker secara konkrit memberikan akses pelatihan vokasi untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja. Pelatihan bisa melibatkan balai latihan kerja pemagangan dalam negeri dan luar negeri serta penerbitan sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi,” ujar Budi. 

Budi menambahkan Kemnaker juga mencermati perubahan skill yang dibutuhkan di pasar kerja akibat digitalisasi. 

“Skill yang dibutuhkan diantaranya pemikiran analisis dan inovatif, pembelajaran aktif dan strategi pembelajaran, dan pemecahan masalah yang kompleks,” pungkas Budi.