SOLO, MettaNEWS – Belum adanya SMA di Pasar Kliwon dan Laweyan Solo membuat kelas virtual kembali diandalkan. Di tahun ketiganya, kelas virtual dirasa belum mampu menanpung semua siswa SMP di dua wilayah ini.
Masalahnya, Dinas Pendidikan Provinsi Jateng hanya memberikan kuota satu rombongan belajar (rombel) sebanyak 36 siswa saja. Sementara jumlah siswa yang tak lolos Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi melebihi itu.
Anggota DPRD Kota Solo Komisi IV, Ekya Sih Hananto mengatakan pihaknya terus mendesak Dinas Pendidikan Provinsi Jateng melalui Cabang Dinas Wilayah VII untuk segera membangun SMA. Lantaran kerap menjadi masalah setiap tahunnya membuat dua wilayah ini terlempar ke sekolah luar Solo.
“Dengan adanya zonasi ini warga kita yang selalu di swasta. Padahal warga Pasar Kliwon juga ada yang di bawah ekonominya. Maka kalau tidak bisa sekolah di negeri kan kasihan,” kata Ekya saat ditemui di acara arahan dan penjelasan kelas virtual SMAN 2 Solo, Kecamatan Pasar Kliwon, Selasa (5/7/2022).
Awalnya kelas virtual hanya akan dijadikan solusi sementara. Namun sudah dua tahun sejak diadakan, solusi dalam jangka panjang belum juga terwujud. Selama gedung SMA belum dibangun, pihaknya mencari cara lain yakni dengan meminta pertambahan kuota.
“Kemarin hasil rapat itu dibawa ke provinsi keluar SK Dinas Provinsi kita dimasukan ke sekolah virtual itupun hanya satu kelas 36 orang, dan itu wewenang khusus yang diberikan ke pak camat. Maka walaupun seperti itu kita sudah terima kasih sudah diberikan satu kelas yang lain malah belum,” bebernya.
Namun 36 kuota ini dirasa belum mampu menyelesaikan masalah.
“Kuota 36 itu tidak menyelesaikan masalah karena warga kita yang terlempar banyak sekali yang ke swasta, ratusan lebih, bahkan ada yang tidak sekolah atau pindah ke daerah lain [luar Solo],” beber Ekya.
Sebelumnya upaya pembangunan gedung SMA ini telah direncanakan sejak masa kepemimpinan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo dengan menghibahkan lahan HP 01 namun tak berproses.
“Memohon ke Dinas Jateng bahwa kita membutuhkan dan siap dibangun SMAN 2 di sini, pemkot waktu itu Pak Rudy dan DPRD sudah memberikan sebagian lahan HP01 diberikan ke SMAN 2 seluas 3 ribu meter, tetapi sampai saat ini belum ada proses pembangunannya,” bebernya.
Alasan rencana pembangunan ini tak dapat berjalan lantaran luas lahan tak memenuhi persyaratan. Bahkan sebelumnya sempat ada wacana akan dibangun di dua kampus di SMAN 2 dan Mojo.
“Alasannya dari provinsi standar SMA itu 4 ribu sekian, makanya ini menjadi tarik ulur lagi, kemarin bagaimana kita di awal-awal kalau disampaikan kita bisa memotong lahan HP01 seluas lahan tersebut tetapi diusulkan kepada provinsi tetapi sampai saat ini belum ada lanjutan,” beber Ekya.
Pihaknya membeberkan dalam rapat kerja bersama Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, mantan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo dan Komisi IV DPRD terdapat usulan untuk menghibahkan murid.
“Kayak contoh ya SMPN 24-25 itu kan salah satunya ada yang minim murid, dihibahkan diijoli SMAN 5 pindah untuk ke Laweyan misalkan diganti SMPN 24, salah satu alternatif, kalau Pasar Kliwon jelas pembangunan baru karena tidak ada sekolah,” tutupnya.









