SOLO, MettaNEWS – Museum Tumurun kembali mengadakan Night at The Museum untuk keempat kalinya, Minggu (28/5). Kali ini Tumurun Museum memboyong karya seni menakjubkan dari seniman Aditya Novali. Karya seni yang mampu membuat orang betah berlama-lama ini kabarnya baru pertama kali diadakan di Solo oleh sang seniman.
Padahal Kota Solo merupakan tempat lahir dari sang seniman, namun ternyata karya seni Aditya telah lebih dulu melalang buana hingga luar negeri. Wajar saja, karya-karya apiknya memang pantas untuk bisa menembus pameran luar negeri.
“Kenapa namanya why jadi why itu artinya mengapa kenapa jadi itu sebenarnya perwakilan dari sebuah seri pertanyaan yang saya dapatkan. Ketika kita mempersiapkan pameran ini ternyata dari pilihan-pilihan projek yang ditampilkan ini itu semuanya dimulai dari semua kejadian yang ada di sekitar saya kehidupan sehari-hari,” ucap Aditya Novali saat ditemui tim MettaNEWS di Tumurun Museum, Minggu (28/5/2022)
Menjadi titik awal dalam sebuah proses pameran WHY, Aditya menyebut pameran ini menyuguhkan 7 projek yang dibuat dari waktu yang berbeda-beda.
“Tidak dalam satu periode. Ini Ngaco ini malah dibuat di awali tahun 2014 tapi bentukan terakhir ini adalah bentukan terakhir 2016. Jadi dia berkembang juga kemudian ada juga projek yang dimulai tahun 2010 ada juga yang tahun 2014. Jadi memang berbeda-beda,” tambahnya.
Ia pun melihat antusiasme pengunjung di Night at The Museum sangat baik terhadap seninya. Tak sedikit Aditya kerap ditanyai oleh sejumlah pengunjung yang ingin tahu lebih banyak akan karya seninya.
“Sepertinya kalau saya lihat di IG slot-nya selalu lumayan. Makanya kita selalu bikin ini supaya ada tambahan kalau orang mau datang juga,” sebutnya.
Para pengunjung pun nampak berfoto di depan project-project karya Aditya Novali. Tak heran memang karya yang disuguhkan sangat cocok untuk spot foto karena sangat Instagram able. Para pengujung yang lebih didominasi oleh anak-anak muda ini nyatanya senang menghabiskan waktu malam hari di museum. Namun ternyata Aditya Novali tak begitu memperhitungakan akan penilaian ini. Kenapa?
“Sebetulnya tidak (memperhatikan Instagram able). Jadi memang kalau saya menyadari fenomena itu. Karena fenomena itu tidak mungkin kita lepaskan. Tapi kalau saya lebih memilih mempertanyakan fenomena melalui karya,” ucapnya.
Karya structure of presentation salah satunya, di mana Aditya Novali ingin menceritakan tentang bagaiamana sebuah pencitraan.
“Bagaimana kita menampilkan diri kita di realitas dan dunia maya yang berbeda gitu. Tapi display pameran dan karya yang akan dibuat itu tidak ditentukan dari itu. Kalau misal dia bisa jadi Instagram able atau orang pengin foto di depannya itu terserah,” bebernya.
Merupakan karya tunggal, dalam bekerja Aditya Novali dibantu oleh tim instalasi. Memiliki tingkat kesulitan tersendiri disetiap karyanya, Aditya Novali menyebut pengerjaan project Ngaco merupakan salah satu karya yang paling lama dalam pembuatanny.
“Beda-beda sih sebetulnya semuanya jadi memang nggak bisa dijadi satukan. Nggak semacam projek ini kalau dibilang yang paling lama ya ini yang paling lama berkembang dulu istilahnya dari tahun 2010 itu saya bikin projek Ngaco,” jelasnya.
Telah mengikuti pemeran diberbagai negara seperti Jepang, Singapura, Liste Bastel, Ngaco menjadi karya yang berkembang dalam proses pembuatannya.
“Mungkin nggak cuma 1/8 nya terus dia berkembang sendiri tapi itu juga nggak diplanning. Berkembang di pameran waktu itu di tiga negara berbeda waktu terakhir ini di Jepang, skalanya dibesarkan. Akhirnya yaudah jadi berkembang begitu. Jadi memang beda-beda sih,” tutupnya.









