SOLO, MettaNEWS – Sepekan sudah aksi demonstrasi solidaritas ojek online (ojol) pada Jumat, (28/9) terjadi. Dampak aksi masih dirasakan pedagang kecil di kawasan Selter Manahan Solo. Salah satunya adalah Aris, pedagang sekaligus agen es kristal.
Masih jelas di ingatan Aris, sore itu, sekitar pukul 14.30 WIB, situasi unjuk rasa yang awalnya kondusif berubah menjadi aksi anarkis. Situasi memanas, massa mulai melempari batu, merusak pagar dan berusaha mendobrak pintu gerbang Markas Komando (Mako) Brimob Batalyon C Kota Solo.
Tembakan gas air mata pun tak terhindarkan. Massa semakin menjadi, aksi semakin tak terkendali, kerusuhan pecah di sudut Kota Solo yang nyaman dan tenang.
Pedagang dan pengunjung panik berlarian. Menyelamatkan diri dari amukan massa yang tak lagi bisa dikondisikan. Ketakutan tersisa.
“Awalnya kondusif. Tapi setelah adzan ashar, terdengar suara lemparan, lalu gas air mata ditembakkan. Banyak warga dan pengunjung selter panik, berlarian, bahkan ada yang naik ke meja,” kenangnya.
Di tengah situasi itu, Aris sang kepala keluarga harus melindungi keluarganya di tengah kekacauan. Anaknya sempat panik karena memiliki riwayat sesak napas.
“Saya sempat suruh keluarga tiarap. Lalu mencari anak saya yang lari karena sesak napas. Banyak warga dan pedagang terkena efek gas air mata,” ujarnya.
Hari-hari setelahnya tak lagi sama. Setelah aksi itu, aktivitas perdagangan terganggu. Sabtu dan Minggu, yang biasanya ramai pengunjung, justru sepi. Pedagang pun trauma untuk kembali melapak. Khawatir akan terjadi hal serupa, mereka memilih untuk rehat sejenak.
“Biasanya Sabtu-Minggu ramai. Tapi kemarin paling hanya 20 persen dari biasanya. Banyak pedagang libur karena trauma,” jelasnya.
Di antara pilihan keselamatan atau melanjutkan berdagang agar roda ekonomi terus berputar, Aris nekat. Ia ambil risiko tetap berdagang dan melakoni profesinya sebagai agen es kristal. Alhasil Aris mengalami penurunan omzet signifikan.
“Biasanya bisa sekitar Rp80 ribu per hari. Kemarin cuma Rp30 sampai Rp60 ribuan. Jadi turun lebih dari 50 persen,” tambahnya.
Di lain sisi, salah satu pengujung Selter Manahan, Yericho justru mendukung aspirasi solidaritas ojol tersebut. Hanya saja sebagai pengunjung, ia menyayangkan aksi yang berujung anarkis dan merusak fasilitas umum.
“Kalau pro-nya, suara rakyat memang harus disampaikan. Tapi kontra-nya, banyak fasilitas hancur, UMKM kena dampak, bahkan ada pedagang jadi korban gas air mata. Itu sangat disayangkan,” tuturnya.
Kini kondisi di sekitar Selter Manahan mulai berangsur normal. Namun, trauma pedagang dan turunnya pengunjung masih terasa hingga sepekan setelah kejadian. (KKL UNISRI/Alif Noor Pratama)








