Wali Kota Respati Apresiasi Emparty Art Fest 2026, Solo Perkuat Predikat Kota Seni yang Inklusif

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan bahwa seni memiliki peran penting sebagai jembatan kemanusiaan yang mampu menyatukan berbagai perbedaan. Hal itu disampaikannya saat menghadiri pembukaan Emparty Art Fest 2026 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Selasa (4/8/2026).

Festival seni bertema “Art for Humanity” tersebut juga dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha, Ketua Seniman Merdeka Barata Sena, para seniman, budayawan, akademisi, komunitas kreatif, hingga pelaku UMKM.

Dalam sambutannya, Respati memberikan apresiasi kepada Seniman Merdeka Indonesia sebagai penyelenggara Emparty Art Fest 2026. Menurutnya, festival yang berlangsung selama sepekan itu bukan hanya menjadi panggung bagi karya seni, tetapi juga ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam semangat kepedulian dan kemanusiaan.

“Kehadiran Emparty Art Fest menjadi ruang yang mempertemukan seniman, budayawan, komunitas kreatif, akademisi, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam satu semangat yang sama, yaitu menjadikan seni sebagai media untuk membangun kepedulian, memperkuat kemanusiaan, dan merawat kebudayaan bangsa,” tutur Respati.

Beragam kegiatan digelar dalam festival tersebut, mulai dari pameran seni rupa, pertunjukan budaya, lokakarya (workshop), diskusi, creative market, hingga aksi sosial yang melibatkan berbagai komunitas.

Respati menilai tema “Art for Humanity” memiliki makna yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, seni bukan sekadar media ekspresi atau hiburan, tetapi juga mampu membangun empati, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan harapan di tengah keberagaman.

“Seni memiliki kekuatan untuk menyatukan perbedaan, menumbuhkan empati, dan menghadirkan harapan,” katanya.

Ia juga mengapresiasi komitmen penyelenggara yang membuka ruang seluas-luasnya bagi berbagai kalangan, mulai dari komunitas difabel, pelaku UMKM kreatif, generasi muda, hingga para empu dan pelestari budaya.

Menurut Respati, semangat inklusivitas tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat ekosistem seni dan budaya di Kota Solo agar semakin hidup, terbuka, serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Ketika seni bertemu dengan nilai-nilai kemanusiaan, lahir ruang yang inklusif, tempat setiap orang dapat berkarya, berkolaborasi, dan saling menguatkan,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha mengatakan nama Emparty yang menggabungkan kata empathy dan art mencerminkan pesan utama festival tersebut, yakni menghadirkan seni sebagai medium untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan.

“Ini makna sesungguhnya dari Art for Humanity. Seni mempersatukan kita, siapa pun kita menjadi keluarga besar umat manusia. Empati tidak hanya cukup dirasakan, tetapi juga harus dirayakan, dipraktikkan, dan diwujudkan melalui kolaborasi,” ujar Giring.

Senada dengan itu, Ketua Seniman Merdeka, Barata Sena, menegaskan Emparty Art Fest bukan sekadar menghadirkan hiburan intelektual, melainkan menginspirasi masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik melalui kepedulian bersama.

“Kalau kepedulian dilakukan sendirian akan sulit. Tapi ketika dilakukan bersama, semuanya menjadi lebih ringan. Empati harus diwujudkan dengan sukacita, dan Emparty Art Fest lahir dari semangat itu,” katanya.

Melalui penyelenggaraan Emparty Art Fest 2026, Solo kembali menegaskan posisinya sebagai kota budaya yang tidak hanya menjaga warisan seni, tetapi juga mendorong lahirnya ruang-ruang kreatif yang inklusif, kolaboratif, dan berdampak bagi kemanusiaan.