Umat Khonghucu Adakan Sembahyang King Hoo Ping untuk 700 Nama Leluhur

oleh
oleh
Umat Khonghucu mengadakan sembahyang pada leluhur. Sebanyak 700 an nama otang tua atau mereka yang sudah meninggal didoakan dalam ritual yang diadakan di Litang Gerbang Kebajikan tempat ibadah umat Khonghucu, Minggu (21/8/2022) | MettaNEWS/Puspita

SOLO, MettaNEWS – Majelis Agama Khonghucu Indonesia Surakarta,  melaksanakan sembahyang & doa yang diperuntukkan bagi arwah umum, artinya kepada semua arwah termasuk arwah yang bukan leluhur sendiri dan arwah yang tidak lagi mendapat perhatian dari sanak keluarganya yang masih hidup. 

Ritual yang diadakan di Litang Gerbang Kebajikan, MAKIN Surakarta, Minggu (21/8/2022) ini dikenal dengan upacara Sembahyang King Hoo Ping atau Sembahyang Rebutan.

Pada ritual keagamaan ini, selain ada altar Tuhan YME juga disediakan dua jenis altar sembahyang lainnya, yaitu altar sembahyang umum dan altar vegetarian yang diperuntukkan untuk menghormat kepada mereka yang semasa hidupnya menjalankan hidup vegetarian (tidak makan daging).

Upacara dipimpin Ws. Adjie Chandra dengan kedua pendamping, sedangkan di altar vegetarian sembahyang dipimpin oleh  Ws. Mulyadi W.S, serta diikuti para rohaniwan lain yang mengenakan jubah berwarna biru dan dihadiri oleh puluhan umat dan simpatisan Khonghucu lainnya.

Ketua Panitia sembahyang King Hoo Ping tahun ini adalah Js. Novita Luisiana Dewi yang juga ketua WAKIN (Wanita Agama Khonghucu Indonesia) Surakarta dibantu oleh ibu – ibu yang lain.

Usai ritual sembahyang, Novita mengatakan tanggal 21 Agustus 2022  bertepatan dengan tanggal 24 bulan 7 tahun 2573 penanggalan Imlek. 

“Menurut kisah legenda pada Jit Gwe (bulan 7 Imlek) pintu akhirat dibuka, para arwah diberikan kesempatan untuk turun ke dunia menengok sanak keluarganya, menyambut kehadiran mereka masyarakat Tionghoa khususnya umat Khonghucu diwajibkan melakukan sembahyang penghormatan kepada mereka yang dilaksanakan tanggal 15 bulan 7 Imlek (Jit Gwe Poa) di rumah masing-masing,” papar Novi. 

Novita melanjutkan, di akhir Jit Gwe sebelum para arwah kembali ke alamnya diadakan upacara King Hoo Ping untuk menghormati mereka seakan mengantar mereka untuk segera kembali, MAKIN Surakarta biasanya memilih hari Minggu yang paling akhir di bulan 7 Imlek (21 Agustus 2022).

“Maka untuk masyarakat Tionghoa yang masih memegang adat tradisional pada Jit Gwe ini ada yang pantang mengadakan kegiatan misalnya mantu, hajatan dan lainnya. Karena menganggap bulan 7 Imlek adalah bulan khusus untuk persembahyangan,” jelas Novita. 

Novita memaparkan, sembahyang King Hoo Ping ini merupakan sebuah rekomendasi bagi para arwah, atau setidaknya rasa simpati manusia yang masih hidup kepada mereka yang telah meninggal, Nabi Khongcu mengajarkan agar kita memperlakukan mereka yang telah tiada, meninggal seakan mereka masih hidup, maka pengalaman/jasa dan segala kebaikannya sebagai manusia seharusnya tidak dapat atau tidak boleh dilupakan.

Banyak umat yang hadir, selain menitipkan nama-nama leluhurnya yang ditempel di belakang altar sembahyang, mereka juga hadir untuk ikut berdoa bersama. 

“Mereka meyakini bahwa dengan melakukan sembahyang kepada leluhur maknanya adalah mengingatkan agar manusia tidak lupa akan sejarahnya atau asal – usulnya, tidak melupakan budi, jasa dan kasih dari leluhurnya, dengan dibacakan doa-doa sebagai lambang para arwah diundang untuk menerima dan menikmati sesajian yang dihidangkan di altar,” terang Novita. 

Rohaniwan Khonghucu Ws. Adjie Chandra menambahkan, upacara sembahyang King Hoo Ping merupakan bentuk pendidikan etika moral dan budi pekerti kepada umat Khonghucu khususnya para generasi muda agar selalu bersedia membantu orang lain. 

“Hati – hatilah saat orang tua meninggal dunia, janganlah lupa memperingatinya dengan terus mendoakan orang tua sekalipun mereka telah jauh, dengan demikian akan tebal kebajikan dalam diri kita,“ tutur Adjie Chandra.

Upacara diakhiri dengan penyempurnaan / pembakaran replika kapal  (Bahtera King Hoo Ping) dengan ukuran  panjang sekitar 3,5 meter  yang didalamnya berisi nama mereka yang sudah meninggal.

“Setelah didoakan oleh para rohaniwan nantinya akan ikut disempurnakan (dibakar), suatu lambang dengan sarana transportasi tersebut kita mengantar agar para roh itu segera kembali ke tempatnya, karena bulan 7 Imlek akan segera berakhir,” ujar Adjie.

Dijelaskan oleh Adjie, sembahyang ini juga disebut sembahyang rebutan karena menurut legenda para arwah yang hadir untuk menikmati sesaji ini sangat banyak sehingga terjadilah saling berebutan. Atau juga ada tradisi di daerah yang lain dimana selesai sembahyang sesajinya bisa diambil oleh para peserta sembahyang (kadang terjadi rebutan seperti tradisi ketika gunungan selesai didoakan) 

“Tapi yang jelas sebuah makna yang indah dapat kita peroleh yaitu jangan melupakan leluhur, jangan lupa asal usul kita,” tegasnya.

Selain itu di akhir acara dibagikan beras kepada peserta upacara, beras ini adalah sumbangan dari para donatur dan simpatisan. 

Adjie mengutip sabda dari Nabi Khongcu yang berisi ajaran memperlakukan orang tua yakni membahagiakan orang tua selagi masih hidup, dan berkabung ketika meninggal dunia dengan tanpa lelah mendoakannya. 

“Saat orang tua masih hidup periksalah cita – citanya, setelah meninggal dunia periksalah segala perbuatannya, bila kita mampu melanjutkan segala yang luhur dan baik dari orang tua kita, kita layak disebut sebagai anak yang berbakti,” pungkas Adjie. Umat