Umat Hindu Kota Solo Bakal Mengarak Ogoh-ogoh Perdana di Jendsu-Gladag

oleh
Ogoh-ogoh di pura pura buana suci saraswati desa Ngaru-aru, Banyudono, Boyolali rabu (02/3/2022) | Foto: Doc MettaNEWS / Kevin Rama

SOLO, MettaNEWS – Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1945 Kota Solo diwarnai arak-arakan ogoh-ogoh untuk pertama kalinya. Umat Hindu memaknai kirab ogoh-ogoh sebagai simbol sakral perputaran waktu menuju pergantian Tahun Baru Saka yang baru.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Solo, Ida Bagus Komang Sarnawa mengatakan kirab ini akan berlangsung pada 18 Maret 2023.

“Tanggal 18 kita mengadakan pentas atau kirab budaya. Pawai ogoh-ogoh itu termasuk menetralisir agar makhluk kosmos menjadi baik lagi. Terus yang tanggal 19-nya kita mengadakan Melatsih di Umbul Pengging Banyudono Boyolali jam 08.30,” ujar Ida.

Di mulai dari halaman Balai Kota Solo, jalur kirab ogoh-ogoh ini menggunakan Jalan Jenderal Sudirman hingga Gladag. Akan ada pentas budaya lokal dan Bali di kirab ini.

“Jalurnya dari Balai Kota nanti muter di Gladag dan balik lagi. Lanjut dengan pentas seni dan tari hiburan kebudayaan,” jelasnya.

Kirab ini sempat akan berlangsung saat peryaaan Nyepi tahun 2020 lalu. Saat FX Hadi Rudyatmo masih menjabat Wali Kota Solo. Namun akibat pandemi Covid-19, kirab ini batal.

“Tahun 2020 kita pernah siapkan tapi ternyata karena lockdown Covid-19 itu seluruh dunia pada waktu itu. Pak Wali maunya kirab dan beliau sudah mempersilakan. Tapi situasi dan kondisinya yang tidak memungkinkan. Ya batal,” terangnya.

Setelah kirab, ogoh-ogoh akan dibakar di sungai Solo.

“Akan kami bakar ke sungai terdekat biar tidak mengganggu. Pembakaran ogoh-ogoh ini arrinya membakar roh-roh kejahatan. Sehingga masyarakat tidak perlu takut dan sebagainya karena kita sudah kita netralisir roh jahatnya,” tandas Ida.

Mengenal Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh berasal dari sebutan ogah-ogah, dalam bahasa Bali berarti digoyang-goyangkan.

Sejak adanya keputusan presiden Hari Raya Nyepi menjadi libur nasional pada tahun 1983, ogoh-ogoh menjadi bagian perayaan menjelang Hari Raya Nyepi.

Ogoh menampilkan patung bhuta kala dengan arak-arakan keliling desa satu hari sebelum Hari Raya Nyepi.

Dalam ajaran Hindu, bhuta kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (kala) yang tidak terukur dan terbantahkan. Bhuta kala identik dengan kekuatan negatif yang memiliki sifat mengganggu kehidupan manusia.

Bhuta kala yang diwujudkan dalam bentuk patung yang digambarkan sebagai sosok besar dan menakutkan, biasanya diwujudkan dalam raksasa.