TPA Putri Cempo Overload, Akankah PLTSa Bisa Jadi Solusi?

oleh
TPA Putri Cempo
Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Putri Cempo, Rabu (18/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, Metta NEWS – Meskipun telah overload sejak 2010 lalu, hingga saat ini Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo yang terletak di Kelurahan Mojosongo tetap digunakan sebagai pembuangan sampah warga di Solo. TPA yang dibangun sejak tahun 1985 silam ini pada awalnya hanya bisa menampung sampah selama 30 tahun. Meski begitu, Pemkot Solo masih menggunakan lahan seluas 17 hektar itu untuk menampung sampah sebanyak 10 juta kilogram setiap bulannya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gatot Sutanto mengungkapkan, penggunaan lahan seluas 17 hektar untuk pusat pembuangan sampah itu terpaksa dilakukan lantaran tidak ada tempat lain untuk menampung sampah-sampah dari Solo.

“Untuk operasional penanganan sampah itu kurang lebih 13 hektar. Yang lainnya sisanya digunakan untuk infrastruktur, gedung parkir kemudian PLTSa. Ada sedikit lahan untuk tempat yang dikeramatkan oleh warga sekitar, Putri Cempo. Itu namanya yang diambil untuk TPA Putri Cempo,” ungkap Gatot Sutanto saat ditemui di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo, Selasa (17/5/2022).

Sejak dibukanya TPA Putri Cempo pada 1987 untuk operasional, Heru menyebut overload sampah ini bahkan sudah terjadi sejak tahun 2000.

“Sampai tahun 2000-an itu agak penuh karena memang  sistemnya hanya Sanitary Landfill. Lahan dipersiapkan digali kemudian diberi dasar yang renewable dari tanah diberi lapisan yang kedap air. Kemudian dibuat sel-sel, itu ditumpuk. Sekarang posisinya open dumping, sebelum open dumping ada semi sanitary landfill. Kalau sanitary landfill setiap hari ditutup dari sampah baru. Sore hari ditutup tanahnya dipadatkan. Kalau semi sanitary landfill itu tidak setiap hari, ditutupnya berkala. Seminggu sekali waktu itu, dan sebulan sekali,” terangnya.

Sebagai informasi, Sanitary Landfill merupakan sistem pengelolaan atau pemusnahan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah.

Saat ini TPA Putri Cempo telah menggunakan sistem Open Dumping, dimana sistem ini menggunakan biaya operasional yang tinggi.

“Nyari lahan kerukan tanah juga susah di Solo, sehingga tidak bisa ditutup lagi. Sementara untuk pindah lokasi belum siap. Waktu itu digagas, untuk TPA regional tapi untuk kemajuannya belum terlaksana. Sekarang metodenya, kalau sanitary landfill kemudian semi sanitary landfill atau open dumping ini suatu saat harus pindah. Karena sudah penuh, overload. Pindahnya kemana kan kita susah,” jelas Gatot.

Mengalami hambatan dalam beberapa faktor seperti pengadaan tanah, Gatot menyebut untuk wilayah Solo, RTH (Rumah Terbuka Hijau) juga sulit untuk dibuat.

“Kalau beli tanah harus di luar kota, TPA regional juga susah. Kemudian sekarang teknologinya itu pakai teknologi yang relatif baru. Yaitu dijadikan bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik sampah (PLTSa),” terangnya.

Melakukan berbagai upaya, pihaknya menyebut masalah overload di TPA Putri Cempo dapat diatasi jika PLTSa sudah berjalan. Hal ini lantaran tenaga pembangkit tersebut membutuhkan sampah 450 hingga 500 ton per hari.

“Kemungkinan Solo malah bakal impor sampah dari luar kalau PLTSa sudah jalan. Karena kan setiap harinya pembangkit membutuhkan sampah 445 sampai 500 ton per hari. Sementara sampah yang masuk ke TPA saat ini rata-rata 300 ton per hari. Kan ada selisihnya 200 an ton per hari. Nah itu nanti diambilkan sampah yang sudah menumpuk sejak tahun 1987 sampai sekarang. Itu ada 1,2 juta meter kubik,” tutupnya.