Tingkatkan Mutu, PMI Kota Surakarta Kick Off ISO 9001:2015

oleh
oleh
PMI Solo
PMI Surakarta kick off ISO 9001:2015 | Foto : dok. Humas PMI Solo

SOLO, Metta NEWS – Mewujudkan manajemen yang terukur dan dan profesional, dalam melaksanakan tugas mulia seputar darah dan berbagi menjadi saluran berkah bagi semua yang berhak menerima, PMI Surakarta, pada Jumat (21/01/2022) mengawali Kick Off untuk program mendapatkan ISO 9001:2015. 

Sekretaris PMI Surakarta Sumartono Hadinoto mengatakan, PMI Surakarta memakai jasa Total Quality Indonesia atau TQI yang selama 3 bulan ini sudah melakukan pendampingan untuk membenahi SOP dan menata semua prosedur. 

“Pendampingan dari Total Quality Indonesia ini untuk membenahi semua SOP, semua prosedur, penataan bagian-bagian pekerjaan yang mana untuk SDM tidak boleh rangkap jabatan. Misalnya bagian pembelian dengan gudang itu harus beda orang. Dan pendampingan sudah selesai, hari ini kami melakukan Kick Off, istilahnya menjalankan program ISO sambil dipantau oleh TQI. 

Ia menerangkan, setelah jalannya program menuju ISO ini dianggap lancar dan sudah tidak kesalahan, PMI Surakarta akan mengambil sertifikasi dari badan ISO internasional. 

“Setelah selesai pendampingan ini kita akan diuji oleh badan sertifikasi. Minggu depan kami akan menerima beberapa lembaga sertifikasi internasional untuk presentasi ke PMI agar kami bisa memilih yang sesuai. Setelah kami pilih begitu dianggap oleh TQI sudah layak untuk di sertifikasi maka kami ambil salah satu lembaga sertifikasi yang sesuai,” paparnya. 

Sebelum ini, PMI Surakarta menjadi PMI pertama yang mendapatkan sertifikasi manajemen mutu ISO. Seiring jalannya waktu sertifikasi tersebut tidak diperbaharui dengan pertimbangan untuk Unit Transfusi Darah (UTD) pada waktu itu sebelum berganti nama menjadi Unit Donor Darah (UDD), kita sudah mendapatkan Good Manufacturing Practice atau GMP. 

“Saat itu dari PMI Pusat dipilih beberapa UDD yang dianggap layak dan mampu untuk dijadikan mitra dalam fraksionasi plasma yaitu pemisahan komponen darah yang akan dibuat menjadi albumin juga standarisasi UDD PMI Surakarta yang dikeluarkan oleh BPOM. Untuk itulah PMI Solo termasuk yang mendapatkan program tersebut sehingga menerapkan penggunaan GMP,” ujar Sumartono. 

Namun dalam perjalanan PMI Surakarta saat ini, standarisasi GMP lebih pada produk, dan mengingat di PMI tidak hanya UDD namun juga ada Markas, Sumartono menekankan manajemen untuk Markas PMI harus di guidance dengan manajemen yang profesional dan terukur agar dalam melayani masyarakat semakin maksimal. 

“Setelah rapat pengurus, PMI Solo akan mengambil ISO kembali selain UDD yang tetap menerapkan GMP yang akan disinkronkan dengan standar ISO 9001:2015. Target kami selesai persiapan sebelum mendaftar sertifikasi ISO kalau menurut TQI paling lama sebulan ke depan,” jelasnya. 

Dengan langkah yang diambil oleh PMI Surakarta ini, Sumartono melanjutkan, PMI Surakarta butuh dukungan segenap masyarakat, pendonor, semua yang terkait dengan PMI. 

“Kami bisa banyak berbuat tapi tentunya yang bisa melihat kekurangan kami adalah mereka yang berada di luar PMI. Jadi kami terus mohon masukan, kritikannya untuk membangun agar PMI Surakarta ke depan lebih baik,” harap Sumartono. 

Tidak hanya berhenti pada capaian ISO 9001:2015, Sumartono menyebut sebuah organisasi yang ingin berkelanjutan dengan standar yang tidak berkurang harus mempunyai manajemen yang terukur dan profesional.

“Pasti perubahan ini membuat tidak nyaman. Tapi ketidaknyamanan ini akan membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Kalau kita tidak siap berubah PMI yang lain akan terus mengejar posisi kita saat ini yang dianggap baik. Perubahan zaman terus meningkat akhirnya kita akan tertinggal. Banyak orang yang biasanya sudah luar biasa dan pada posisi zona nyaman karena tidak terus melakukan inovasi dan perubahan akhirnya kehilangan sesuatu yang disandang luar biasa itu,” urai Sumartono. 

Sementara itu, perwakilan dari Total Quality Indonesia Ongko Wijoyo, menyampaikan, capaian ISO 9001:2015 oleh PMI Surakarta nanti harus dipraktekan di lapangan. 

“Dari pengurus hingga jajaran paling bawah harus komitmen untuk meningkatkan mutu pelayanan baik di pelayanan darah, kesehatan ataupun sosial,” pungkas Ongko.