SOLO, MettaNEWS – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta kembali bergerak merespons bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak lima personel tim tanggap darurat bencana (TDB) kesehatan PMI Surakarta diberangkatkan untuk membantu warga terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo.
Pelepasan tim dilakukan di Markas PMI Kota Surakarta, Sabtu (22/8/2026). Tim tersebut terdiri atas satu dokter, dua perawat, satu apoteker, dan satu staf humas. Mereka akan membawa sejumlah obat-obatan serta perlengkapan pendukung pelayanan kesehatan selama berada di lokasi bencana.
Ketua Umum PMI Surakarta, Sumartono Hadinoto, mengatakan tim dijadwalkan berangkat menuju Surabaya pada Minggu (23/8/2026) malam. Dari Surabaya, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo sebelum menuju wilayah penugasan di Nagekeo.
“Minggu malam tim dari PMI Surakarta akan berangkat ke Surabaya lanjut ke Labuhan Bajo. Kita selalu komunikasi dengan PMI Provinsi dan Pusat dan kita selalu ikut ambil bagian karena kami PMI Surakarta merasa tugas-tugas mulia ini harus kita laksanakan,” kata Sumartono.
Setelah melalui koordinasi dengan PMI Provinsi dan PMI Pusat, tim PMI Surakarta akan ditempatkan di wilayah Kabupaten Nagekeo. Daerah tersebut menjadi salah satu wilayah terdampak gempa dengan jumlah warga terdampak mencapai sekitar 5.000 jiwa.
Sumartono menegaskan, pelayanan kesehatan akan dilakukan dengan pendekatan jemput bola. PMI Surakarta berencana mengoperasikan layanan klinik keliling atau mobile clinic untuk menjangkau lokasi-lokasi pengungsian, termasuk wilayah yang sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan.
“Setelah koordinasi kami akan ditempatkan di kecamatan Nagekeo yang mana ada 5000 jiwa yang terdampak. Dan kami berharap bisa bawa mobil klinik bahwa kebutuhan kesehatan ini sampai di tempat-tempat terpencil, kami akan jemput bola,” ujarnya.
Menurut dia, pola pelayanan tersebut penting agar warga terdampak bencana tidak kehilangan akses terhadap layanan medis hanya karena keterbatasan transportasi maupun jarak.
“Sehingga mereka yang membutuhkan tidak akan sampai tidak mendapatkan layanan kesehatan. Untuk itu kami akan berangkat selama 21 hari dan kami masih terus berkoordinasi dengan Pusat dan Provinsi untuk tugas mulia ini,” imbuh Sumartono.
Bawa Dokter hingga Apoteker
Dalam penugasan kali ini, PMI Surakarta menyiapkan komposisi personel yang disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di lapangan. Lima orang yang diberangkatkan terdiri atas satu dokter, dua perawat, satu apoteker, dan satu staf humas.
Tim juga membawa obat-obatan untuk mendukung pelayanan medis bagi masyarakat terdampak gempa dan para pengungsi.
“Yang dibawa adalah 1 dokter, 2 perawat, 1 apoteker dan 1 humas beserta obat-obatan. Karena naik pesawat kami tidak bisa membawa dalam jumlah besar tapi ini nanti di sana kami assessment di lokasi membutuhkan apa bisa kita kirimkan,” jelas Sumartono.
Ia menambahkan, kebutuhan di lokasi bencana akan terus dipantau melalui asesmen setelah tim tiba. Dengan demikian, bantuan lanjutan dapat disiapkan sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Layanan Mobile Clinic Menjangkau Pengungsian
Pengurus Bidang Markas PMI Kota Surakarta, Moeljoto Soetikno Siek, mengatakan tim yang diberangkatkan memang dipersiapkan untuk mendukung penanggulangan bencana sekaligus memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada masyarakat.
“Hari ini kita bersama dengan PMI Surakarta di mana di sini ada satu dokter dan ada 4 medis yang mendukung dalam penanggulangan bencana yang ada di NTT sana,” ujar Moeljoto.
Ia menjelaskan, tim akan bergerak secara mobile untuk mendatangi berbagai lokasi pengungsian yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Kita akan bertugas keliling mobile untuk di setiap pengungsian yang membutuhkan. Nanti kita muter selama 24 hari. Jadi kita berlima berangkat, mohon doanya semua supaya tim dari PMI Surakarta dalam keadaan sehat kuat dan bisa melayani kebutuhan selama di pengungsian,” katanya.
Moeljoto mengatakan pelayanan akan diarahkan kepada warga yang belum mendapatkan penanganan kesehatan maupun pengobatan setelah gempa. PMI Surakarta juga telah menyiapkan tim sekaligus obat-obatan untuk mendukung pelayanan tersebut.
“Karena yang belum tertangani dan terobati dan kita siapkan baik timnya maupun obat-obatnya,” lanjutnya.
Terkait pelaksanaan operasi tanggap darurat, PMI Surakarta masih menunggu arahan lebih lanjut dari PMI Provinsi maupun PMI Pusat. Koordinasi tersebut dilakukan agar penugasan dapat berjalan efektif dan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Setelah ini kita akan menunggu arahan dari PMI Provinsi dan Pusat. Ini semoga sudah tidak akan ada tambahan lagi karena kalau ada tambahan lagi kasihan baik yang berangkat maupun yang sebelumnya,” tutur Moeljoto.
PMI Surakarta Fokus Layani Warga Terdampak Gempa
Sementara itu, Kepala Seksi Penanggulangan Bencana PMI Surakarta, Jumadi S.Pd, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bagi pengungsi menjadi prioritas utama tim yang dikirim ke Nagekeo.
Menurut dia, kerusakan fasilitas kesehatan akibat gempa membuat sebagian masyarakat kesulitan memperoleh layanan medis. Kondisi tersebut semakin membutuhkan kehadiran tim kesehatan yang dapat bergerak langsung ke titik-titik pengungsian.
“Prioritas utama kami adalah mendekatkan pelayanan medis kepada para pengungsi. Karena banyak faskes setempat yang belum beroperasi, layanan Mobile Clinic menjadi tumpuan agar warga terdampak segera mendapatkan pengobatan medis secara merata,” ujar Jumadi.
Selain membawa tenaga kesehatan, PMI Surakarta juga menyiapkan obat-obatan darurat yang dibutuhkan untuk menangani berbagai keluhan kesehatan di lokasi pengungsian.
Bantuan obat yang disiapkan antara lain antibiotik, obat antinyeri, obat untuk gangguan pencernaan, serta obat antidiare. Persediaan tersebut diharapkan dapat membantu menangani keluhan kesehatan yang muncul akibat kondisi pengungsian dan menurunnya kualitas sanitasi.
Tim PMI Surakarta dijadwalkan menjalankan masa tanggap darurat selama 21 hari, mulai 22 Agustus hingga 12 September 2026. Selama bertugas, mereka akan mengoperasikan layanan mobile clinic dan menyambangi pos-pos pengungsian di wilayah Nagekeo.
PMI Surakarta juga terus melakukan koordinasi dengan PMI Daerah NTT, PMI Pusat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta pemerintah daerah setempat. Koordinasi dilakukan untuk memastikan layanan kesehatan dan distribusi bantuan dapat berjalan aman, tepat sasaran, serta menyesuaikan kebutuhan warga terdampak.
Bagi PMI Surakarta, pengiriman tim kesehatan ke NTT bukan sekadar bentuk bantuan kemanusiaan, tetapi juga bagian dari komitmen untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Sumartono menegaskan, kepercayaan yang diberikan kepada PMI Surakarta menjadi dorongan bagi organisasi tersebut untuk terus mengambil bagian dalam misi kemanusiaan.
“Jadi kami PMI Surakarta berterima kasih selalu dipercaya dan selalu mendapatkan amanah tugas-tugas yang sangat mulia. Karena kami merasa sangat dipercaya masyarakat Solo sehingga kami sangat mudah untuk melakukan apapun tugas-tugas yang diemban oleh PMI Surakarta,” pungkasnya.
Dengan dukungan tenaga medis, obat-obatan, dan layanan mobile clinic, PMI Surakarta berharap kehadiran tim di Nagekeo dapat membantu meringankan beban warga terdampak gempa, terutama mereka yang berada di wilayah terpencil dan belum mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal.








