SOLO, MettaNEWS — Pawai Pembangunan Solo 2026 dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia berlangsung semarak, Jumat (21/8/2026). Tahun ini, pawai mengangkat pesan kepedulian terhadap lingkungan melalui tema “Sayangi Semesta, Hidup Bahagia.”
Wali Kota Solo Respati Ardi turut ambil bagian dalam pawai yang melibatkan jajaran Forkopimda Kota Solo, organisasi perangkat daerah (OPD), serta berbagai komunitas kesenian.
Respati mengawali perjalanan Pawai Pembangunan dari Persimpangan Gendengan dengan mengendarai sepeda onthel. Penampilannya kental dengan nuansa budaya Jawa. Ia mengenakan beskap landung, topi laken, serta blangkon yang dikenakan di bagian dalamnya.
Menurut Respati, pemilihan tema lingkungan dalam Pawai Pembangunan Solo 2026 bukan sekadar slogan. Pesan tersebut sengaja diangkat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan, terutama dalam menghadapi persoalan sampah.
“Temanya Sayangi Semesta, Hidup Bahagia. Kita mengangkat tema lingkungan karena kita sedang posisi darurat sampah. Jadi tentu ini menjadi hal yang krusial hari ini,” kata Respati.
Penanganan Sampah Dimulai dari Rumah
Respati menilai persoalan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Upaya menjaga kebersihan lingkungan, menurut dia, tidak harus dimulai dari program besar, tetapi dapat dilakukan dari lingkungan terkecil, yakni rumah masing-masing.
Masyarakat dapat berperan dengan membiasakan memilah sampah, mengurangi sampah yang dihasilkan, hingga mengolah sampah sebelum dibuang.
Pesan tersebut kemudian dikemas dalam suasana Pawai Pembangunan yang meriah. Berbagai peserta menampilkan kreativitas melalui kostum, kesenian, dan pertunjukan yang menyisipkan pesan tentang lingkungan.
Selain membawa isu lingkungan, Pawai Pembangunan Solo 2026 juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali identitas, sejarah, dan budaya Kota Solo.
Sejumlah kostum yang ditampilkan mengusung konsep akulturasi budaya serta menghadirkan nuansa Solo Tempo Doeloe. Konsep tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat daya tarik wisata sejarah dan budaya di Kota Solo.
“Jadi kostum itu memang akulturasi dulu. Kalau tidak salah tadi disampaikan namanya Ki De Mang dan ini kita menikmati Solo Tempoe Doeloe. Kita akan mengangkat wisata tempoe doeloe supaya masyarakat yang ke Solo akan mengingat untuk wisata tempoe doeloe,” jelas Respati.
Pawai Jadi Ruang Edukasi Lingkungan
Respati mengapresiasi seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam Pawai Pembangunan Solo 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 RI, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat.
Ia kembali mengajak warga Solo mengambil peran dalam menangani persoalan sampah dari tingkat rumah tangga. Kebiasaan memilah dan mengolah sampah diharapkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Kita buktikan dengan menyayangi lingkungan, pasti kelak hidup akan lebih bahagia,” imbuhnya.
Melalui Pawai Pembangunan Solo 2026, pesan menjaga lingkungan disampaikan dengan cara yang kreatif dan dekat dengan masyarakat. Semangat kemerdekaan pun dipadukan dengan upaya membangun kesadaran bersama untuk menciptakan Kota Solo yang bersih, nyaman, dan berkelanjutan.








