SOLO, Metta NEWS – Indonesia dengan banyak suku dan agama menjadi negara yang terkenal keberagamannya. Keberagaman ini menjadi kekuatan bangsa sekaligus menjadi kelemahan yang sering dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk mengadu domba dan memecah belah.
Pada dialog khusus dengan tema Satukan Langkah Dalam Kebhinekaan Untuk Indonesia dengan pembicara Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden RI Dr. Ali Mochtar Ngabalin M.Si, tokoh agama Pendeta GKJ Danukusuman, Uri Christian Sakti Labeti dan Fasilitator Pusat Studi Pengamalan Pancasila UNS Akhmad Ramdhon di ruang Gusti Nurul RRI, Jumat (11/3/2022), Staf Ahli Ngabalin menegaskan pentingnya untuk terus menggaungkan narasi kebhinekaan dalam hidup bernegara di Indonesia.
“Salah satu ciri terpenting bagi orang ber Tuhan adalah positif thinking, berbaik sangka itu adalah ciri orang ber Tuhan. Keragaman itu adalah sifat Tuhan,” ucap Ngabalin.
Ngabalin menegaskan, tema kebhinekaan ini sudah mulai jarang diangkat dalam diskusi-diskusi. Padahal, lanjut Ngabalin kebhinekaan adalah tema yang luar biasa yang harus terus digaungkan dalam setiap kesempatan.
“Tema ini luar biasa. Satukan langkah dalam kebhinekaan untuk Indonesia. Materi ini harus terus kita gulirkan dari berbagai perspektif. Terutama untuk anak-anak muda yang sudah tidak kenal pelajaran pendidikan moral pancasila dan sejarah perjuangan bangsa. Bagaimana merawat persaudaraan sesama bangsa Indonesia. Ini negeri cinta damai, tidak boleh ada ekstrimis di sini,” tegasnya.
Tenaga ahli ini juga menyayangkan narasi-narasi negatif dari media sosial yang sangat masif berkembang di masyarakat.
“Ada satu netizen yang punya 150 akun. Isinya untuk menghujat semua, ngeri sekali itu. Orang menyebarkan berita bohong bahkan menyulut permusuhan. Kalau bukan kita yang menjaga kebhinekaan siapa yang bisa menjamin Indonesia masih ada pada tahun 2045. Kita sudah teruji 76 tahun, hampir 77 tahun, terus pertahankan itu,” tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Pendeta Uri mengatakan gereja tidak berpolitik praktis namun juga tidak anti politik.
“Selalu kami sampaikan pada umat, kita menghargai pemerintah berarti juga menghargai Tuhan. Karena bagaimanapun pemerintah adalah wakil Tuhan. Tidak mungkin pemerintah menghancurkan negaranya sendiri,” ujar Pendeta Uri.
Pendeta GKJ Danukusuman itu menjelaskan peran tokoh agama sangat diperlukan untuk menjaga kondusifitas hidup bermasyarakat dengan toleransi yang tinggi.
“Saat khotbah atau ceramah sampaikan narasi-narasi yang membangun kebhinekaan, bukan melulu soal dogma terus. narasikan ceramah kita soal kebhinekaan, karena cinta universal itu perlu dikembangkan,” tutur Pendeta Uri.
Dari sisi akademisi, Fasilitator Pusat Pengkajian Pengamalan Pancasila Universitas Sebelas Maret (UNS) Akhmad Ramdhon menambahkan, krisis ekonomi 98 menjadi momentum kebangkitan toleransi di Indonesia.
“Tahun itu bangsa ini luluh lantak, konflik etnis dan kerusuhan di mana-mana. Ini sangat berat, kebhinekaan saat itu sangat rapuh dan usang. Setelah itu kita sadar dan punya treatment untuk mengatasi yang tercabik-cabik dan kita jahit ulang,” terang Ramdhon.
Setelah 20 tahun periode reformasi, Ramdhon menyebut pandemi juga menjadi titik balik bagaimana kemanusiaan kita diuji.
“Kemanusiaan kita diuji pandemi, baru sadar saat pandemi kemarin tanpa memandang etnis, suku, agama apa kita bahu membahu dan saling peduli. Kedepan kita harus tetap menjadi kader kebhinekaan demi mewujudkan cita-cita besar bangsa Indonesia,” pungkas Ramdhon.







