SOLO, MettaNEWS – Sebuah ledakan menimbulkan kegemparan kecil di SMA Batik 1 Surakarta. Ledakan itu terjadi Kamis (10/3) siang pukul 11 sesaat setelah jam pelajaran usai. Pihak sekolah menyebut ledakan yang memecahkan satu kaca jendela kelas itu terjadi karena seorang siswa iseng bermain-main dengan benda cair yang tidak diketahui jenisnya.
Wakil Kepala SMA Batik 1 bidang Kurikulum, Setio, kepada MettaNews, Jumat (11/3/2022) memaparkan, ledakan kecil itu terjadi karena seorang siswa iseng tanpa tujuan tertentu. Tidak ada yang terluka dalam kejadian ini, hanya tiga orang sedikit shock karena kaget. Pemeriksaan kesehatan sudah dilakukan terhadap semua siswa yang berada di ruang kelas tersebut, hasilnya pun baik. Pembelajaran tatap muka mulai kondusif kembali pada hari ini.
“Hari ini masuk semua. Baik yang melakukan ledakan itu atau siswa yang lain. Ini sudah masuk pembelajaran seperti biasa. Ruangan juga sudah normal. Tidak dalam rangka pelajaran. Jadi anak cuma iseng main-main, ” ungkap Setio saat ditemui di kantornya.
Pihak sekolah segera melakukan tindak lanjut mengenai pengawasan siswa. Pihaknya mengatakan sudah menyelesaikan permasalahan tersebut. Saat kejadian, siswa yang melakukan aksi tersebut meminta maaf atas hal yang ia perbuat. Saat ini siswa yang bersangkutan sudah kembali mengikuti pembelajaran seperti biasa.
“Jadi anak-anak itu pada pulang semuanya. Anak ini belum pulang. Hanya mau iseng, bercanda aja tapi langsung meledak,” ucapnya tanpa merinci materi apa yang menjadi sumber ledakan .
Setelah kejadian, pihak sekolah bersama Bimbingan Konseling (BK) melakukan penanganan dan diselesaikan pada hari kemarin. Setio menyebut tidak ada kerugian yang dialami pihak sekolah. Ledakan tersebut menyebabkan getaran sehingga jendela kelas pecah. Setelah kejadian kaca yang terkena dampak ledakan langsung diperbaiki hari itu juga.
Seusai kejadian tersebut, Setio mengungkapkan pihak sekolah melakukan pembinaan dan memberikan surat peringatan. Ia menjelaskan telah memanggil pihak orangtua siswa yang berangkutan untuk klarifikasi, diskusi dan mencari solusi permasalahan. Setio mengatakan orangtua murid tersebut koperatif bekerjasama dan menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah.
“Mengelola anak seperti ini kan harus ada jembatannya. Sekarang ini kan ada Program Sekolah Penggerak (PSP) jadi berpihak pada anak. Bukan berarti solusi sanksi itu selalu menyelesaikan masalah. Solusi untuk menangani, mendekati dan mengawal anak yang bersangkutan ini kan bagian dari pengawalan. Terkadang kita juga nggak tahu ada kecelakaan tabrakan, kita kawal juga. Nah itu yang di lapangannya kok bisa terjadi. Itu kan sebagai bentuk solusi dan tanggung jawab,” tutur Setio.
Belum jelas cairan apa yang digunakan saat ledakan terjadi, Setio mengungkapkan pihak kepolisian setempat telah melakukan pengecekan ruang kelas dan menyatakan tidak terjadi apa-apa. Setio menyebut siswa belum menyadari bahwa hal tersebut berbahaya. Sehingga ia akan mengawal peserta didiknya agar tidak bermain hal yang dapat membahayakan.
Pihaknya akan melakukan antisipasi pengawalan terhadap yang bersangkutan, agar bisa tertata, terjaga dan terdampingi. Setio menyebut banyak dukungan yang diberikan dari para guru, wali kelas maupun rekan siswa kepada yang bersangkutan.








