SOLO, MettaNEWS – Upaya mengubah citra grafiti dari sekadar coretan liar menjadi media edukasi kini mulai terlihat nyata di Kota Solo.
Melalui proyek mural sepanjang 80 meter di tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Surakarta, pemerintah bersama berbagai pihak menghadirkan pendekatan baru dalam menekan vandalisme sekaligus mempercantik wajah kota.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Rutan Surakarta, Pemerintah Kota Surakarta, dan PT Indaco Warna Dunia. Alih-alih hanya menindak pelaku vandalisme, proyek ini justru membuka ruang legal bagi seniman untuk berkarya secara positif.
Puluhan seniman grafiti dari Solo, Jakarta, Yogyakarta, hingga Semarang terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka menuangkan berbagai ide bertema budaya, nasionalisme, hingga pesan sosial ke dalam karya visual penuh warna yang kini menghiasi sisi timur dan barat tembok rutan. Kehadiran mural ini pun langsung menarik perhatian masyarakat yang melintas.
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menilai langkah ini sebagai strategi efektif dalam mengedukasi publik sekaligus mengubah stigma terhadap seni jalanan.
“Kami mewakili Pemerintah Kota Surakarta mengapresiasi inisiasi yang sangat positif dari rutan. Ini bukan hanya menjadi ruang berekspresi atau ruang kreativitas bagi para seniman grafiti, tetapi juga merupakan komitmen dalam mendukung visi Surakarta sebagai kota budaya,” ujarnya.
Menurut Astrid, grafiti yang terkonsep dan terkurasi mampu menjadi sarana komunikasi visual yang membawa nilai budaya, bukan lagi sekadar vandalisme. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penataan kota.
“Tanpa kolaborasi, kegiatan seperti ini tidak bisa berjalan. Ini menjadi bukti bahwa Kota Surakarta siap terbuka terhadap kerja sama lintas sektor dalam rangka mempercantik kota, menata kawasan, dan menanamkan nilai-nilai budaya,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot berencana memperluas ruang legal bagi seniman grafiti. Selama ini, aktivitas seni jalanan masih terpusat di kawasan Gatot Subroto.
Ke depan, ruang-ruang baru akan dibuka, termasuk melalui kompetisi bertema “Harmony of Solo” yang sedang disiapkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
“Temanya nanti ‘Harmony of Solo’, kita ingin mengajak para seniman mengisi tembok-tembok kota dengan karya yang mencerminkan tradisi dan nilai toleransi. Titiknya akan segera kami umumkan,” imbuhnya.
Astrid juga menegaskan bahwa pendekatan ini sejalan dengan upaya penertiban vandalisme yang selama ini dilakukan pemerintah bersama Satpol PP.
“Ini juga menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat. Kita sudah melakukan penindakan terhadap vandalisme, dan ini menjadi solusi alternatif dengan menyediakan ruang yang legal dan positif,” tegasnya.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Indaco Warna Dunia menyebut proyek ini sebagai momentum penting dalam mempromosikan seni grafiti sebagai bagian dari budaya.
“Kami merasakan suatu keistimewaan bisa berkarya di jantung Kota Surakarta. Ini bukan sekadar melukis, tetapi bentuk kolaborasi dengan para seniman grafiti dari berbagai kota untuk mempromosikan seni dan budaya Indonesia,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sekitar 20 seniman terlibat dalam proyek ini dengan masing-masing menggarap bidang sepanjang kurang lebih empat meter. Total karya yang dihasilkan mencapai 40 meter di sisi barat dan 40 meter di sisi timur tembok rutan.
Lebih dari sekadar estetika, setiap mural mengandung pesan moral dan sosial yang diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap grafiti.
“Grafiti adalah seni yang bisa mentransformasikan cara pandang masyarakat. Dengan pendekatan yang tepat, grafiti bisa menjadi media edukasi yang kuat untuk menyampaikan pesan-pesan positif,” jelasnya.







