Solo Berpotensi 3 Bencana, BPBD Gelar Forum Pengurangan Risiko Bencana Gandeng 15 Kelurahan

oleh
oleh
banjir akibat luapan waduk gajah mungkur
Banjir di Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres Solo akibat luapan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Kamis (17/2/2023) | Dok warga

SOLO, MettaNEWS – Meskipun ancaman risiko bencana di Solo cukup minim, namun masyarakat perlu untuk siap siaga bila sewaktu terjadi bencana.

Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta, menggelar Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Dengan menggandeng 15 kelurahan di Surakarta.

Forum dengan tema Sosialisasi Pengurangan Resiko Bencana Melalui FPRB Kota Surakarta berlangsung di rumah dinas Wakil Wali Kota, Rabu (14/6/2023).

Ketua FPRB Kota Surakarta, Dian Kurniadi S, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan keberadaan FPRB di Kota Surakarta. Serta mendorong pembentukan rencana kontinjensi di setiap kelurahan ketika menghadapi bencana.

“Potensi bencana di Surakarta ini ancamannya sedang. Ancaman bencana geologi jarang kita rasakan. Ada 3 potensi bencana untuk Solo yakni longsor, angin puting beliung dan banjir,” ujar Dian.

Selama ini, masyarakat cenderung merespons bencana secara individu. Bahkan terkadang sulit mengevakuasi warga karena mereka menganggap bahwa dampak bencana belum begitu besar.

“Saat terjadi bencana 35 persen orang yang selamat karena persiapan diri sendiri, 32 persen karena pertolongan keluarga. Sebanyak 22 persen tertolong tetangga dan hanya 2 persen itu tim penolong. Kalau mengharapkan tim penolong ga bisa cepat tertolong. Kesiapan diri, keluarga dan tetangga lebih cepat untuk meminimalisir dampak atau risiko bencana,” jelas Dian.

Dian berpendapat bahwa masyarakat seharusnya mampu melakukan evakuasi mandiri di tingkat RT/RW. Dengan mengoptimalkan sumber daya manusia dan logistik yang ada.

Kesiapan masyarakat mengurangi risiko bencana

Melalui sosialisasi ini, FPRB berupaya membangkitkan kesadaran masyarakat. Agar setidaknya dapat melakukan evakuasi mandiri, pengungsian mandiri.  Atau mendirikan dapur umum mandiri jika terjadi bencana.

Kasi Penyelamatan dan Evakuasi BPBD Kota Surakarta, Sularso, menambahkan selain memperkenalkan peran dan fungsi dari FPRB Kota Surakarta juga untuk memperoleh data informasi dasar peta kelurahan.

“Data informasi dari kelurahan ini melalui simulasi untuk membuat rencana kontinjensi penanganan bencana. Jadi kelurahan-kelurahan dapat mengidentifikasi potensi bencananya. Dan kebutuhan apa saja hingga aspek terdampaknya,” kata Sularso.

Peserta dari 15 kelurahan ini lanjut Sularso adalah kelurahan yang sudah mendapat julukan Destana Pratama.

“Dengan adanya aparat kelurahan dan masyarakat serta unsur pentahelix kami berharap bisa meminimalisir dampak dari bencana yang terjadi,” pungkas Sularso.