SOLO, MettaNEWS – Hingga hari ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sebanyak 4.449 warga mengungsi karena terdampak banjir.
Hujan yang terus mengguyur Solo dan kota sekitarnya mengakibatkan 4 kecamatan di Solo terkena banjir.
Usai rapat koordinasi penanggulangan bencana banjir di Solo, Jumat (17/2/2023), Kepala BPBD Surakarta Nico Agus Putranto menjelaskan kondisi korban bencana dan pengungsi ini cukup banyak di Solo dan tersebar lokasinya.
“Kami rapat koordinasi dengan pemangku wilayah di kecamatan dan seluruh lurah yang warganya terdampak banjir. Juga dari BBWS, BMKG karena kita ingin memberikan informasi prediksi-prediksi tentang kemungkinan apakah banjir masih terjadi,” terang Nico.
Dengan melibatkan sektor terkait, Nico mengatakan BPBD Solo ingin mengetahui prediksi 3 hari atau berapa hari kedepan apakah cuaca dan luapan air sudah berkurang atau malah meningkat.
“Jadi dari informasi tersebut akan kami tetapkan statusnya akan seperti apa. Dari rapat ini nanti kalau hasilnya status tanggap darurat ya akan kita bawa ke Pak Wali Kota,” ungkap Nico.
Nico menuturkan informasi dari BBWS banjir di Kota Solo tidak hanya di dominasi dari bukaan pintu air Waduk Gajah Mungkur Wonogiri saja.
“Tetapi memang pada tanggal 16 kemarin terjadi hujan secara bersamaan. Solo dan daerah sekitarnya hujan lebat berbarengan. Dari Wonogiri, Boyolali, Klaten dan Sukoharjo ini bersamaan. Kita cek seluruh wilayah hampir semua rata dan deras. Ini yang jadi pemicunya,” kata Nico.
Nico mengungkapkan untuk saat ini status Solo masih siaga merah. Meskipun sudah ada beberapa daerah yang terjadi penurunan.
“Data sampai sore ini kita laporkan 16 kelurahan di 4 kecamatan. Seperti Joyontakam, Joyosuran, Sewu, sampai semua yang berada di bantaran sungai,” tutur Nico.
Kondisi luapan air penyebab banjir saat ini menurut Nico memang ada yang dari luapam Bengawan Solo namun ada beberapa daerah yang kena banjir dari luapam sungai kota yang tidak bisa masuk ke Bengawan Solo.
“Ada beberapa titik seperti di Tipes, karena sungai Brojo tidak bisa masuk ke Bengawan Solo. Juga yang aliran Kali Jenes tidak bisa masuk ke Kali Anyar karena Kali Anyar sendiri sudah over. Jadi ini ada yang dari sungai kota karena intensitas hujan cukup tinggi,” tandasnya.
Nico menyebut dampak banjir tahun ini adalah yang paling parah dari banjir sebelumnya tahun 2007 dan 2016.
“Dari banjir 2016 besar ini karena terdampaknya tinggi. Makanya saya selalu bilang di Solo ini apabila terjadi bencana banjir karena kepadatan penduduk kita biarpun yang terkena sedikit wilayahnya tapi dampaknya sangat tinggi karena kepadatan penduduk juga,” tukasnya.
Nico menambahkan, tahun ini juga ada wilayah yang sebelumnya bukan langganan banjir.
“Kewajiban penerintah untuk menyiapkan kebutuhan dasar logistik kebutuhan pengungsi. Di masing-masing lokasi dibuat dapur umum,” ujarnya.
Sementara itu, kebutuhan air bersih untuk kelurahan Gandekan, PDAM akan dropping air bersih.
“Sementara Pemerintah masih bisa menghandel untuk kebutuhan pengungsi. Dan kami belum buka hotline bantuan. Sudah banyak yang memberikan bantuan dari pihak swasta tapi secara terbuka belum kita buka. Kalau nanti kondisinya belum ada tanda-tanda akan turun coba nanti kita buka hotline,” pungkas Nico.








