Siswi SD Karangasem 4 Solo Ditendang Alat Vitalnya hingga Kencing Darah

oleh

SOLO, MettaNEWS – Dinas Pendidikan Kota Solo angkat bicara mengenai kasus kekerasan yang menimpa siswi kelas 4 SDN Karangasem 4 Laweyan, Solo yang alat vitalnya ditendang hingga keluar darah. Sebelumnya kasus ini diadukan warga ke Unit Layanan Aduan Surakarta (ULAS) pada Rabu (21/9) lalu.

Laporan itu menyebut pihak sekolah justru salah dalam memberikan sanksi. “Anak bermain atau berantem, salah satu satu jadi korban sehingga kencing bercampur darah terus divisum. Akan tetapi orangtua minta pendapat ke sekolah, bukan keadilan atau kedamaian yang diterima malah di buatkan surat pindah (korban dibuatkaan surat pindah). Kami lampirkan bukti anak ketika di visum SDN KARANGASEM (DEPAN DPRD),” tulis aduan tersebut.

Dalam aduan itu tertera satu foto yang menunjukkan seorang anak yang tengah ditangani petugas medis. Diketahui foto tersebut merupakan siswa SDN Karangasem 4 yang menjadi korban kekerasan. Pihak pengadu kecewa lantaran sang korban justru dikeluarkan sekolah karena hal ini.

Menanggapi aduan tersebut Kepala Dinas Pendidikan Dian Rineta mengatakan, duduk perkara bermula dari kesalahpahaman antara dua siswi berinisial S dan N yang terjadi pada pekan ketiga Agustus 2022.

“Mereka ini sebenarnya berteman sejak TK bersaing nilai karena sama-sama pintar. Suatu hari yang menendang itu (S) lagi dimarahi ibunya atau siapa tapi korbannya yang tertendang (S) ini nyawang (N) dikira mengejek,” kata Dian saat ditemui MettaNEWS, Jumat (23/9/2022).

Dikatakannya saat kesalapahaman terjadi, korban ditendang dibagian alat vital. Lantas hal ini membuat si anak mengalami kencing darah.

“Jadi korban melihat (N), anaknya tinggi jadi otomatis tendangan anak itu kena di bawah. Paginya anak-anak pada tidak cerita kejadian itu ke sekolah. Malah menceritakan ke temannya, temannya kemudian baru cerita ke sekolahnya,” tambahnya.

Pihaknya menyangkal kejadian tersebut merupakan perkelahian

“Tidak berantem teman-temannya juga tidak tahu semuanya. Dan orangtua ditanya sekolah bukan yang datang sebelumnya, berarti bukan orangtuanya (yang diduga memarahi S),” terangnya.

Dengan itu pihaknya melakukan tindakan mempertegas laporan yang ada di ULAS. Setelah melakukan verifikasi, pihaknya mendapati si anak diperiksa ke bidan bukan ke rumah sakit Moewardi seperti yang dikabarkan sebelumnya.

“Di sini yang dipertegas di ULAS korban malah dikeluarkan. Tugas kami kan mempertegas itu, di ULAS orang bilang bahwa pindah atau dikeluarkan. Kedua orang tua keduanya dipanggil ke sekolah,” katanya.

Usai kejadian tersebut pihak sekolah memanggil kedua orang tua yang terlibat dalam kejadian.

“Orangtua penendang itu sudah minta maaf, ya orangtuanya (korban) ya masih belum bisa memaafkan,” katanya

Lebih lanjut, orangtua korban meminta agar pelau penendangan terhadap putrinya dikeluarkan dari sekolah lantaran tak ingin kejadian serupa terulang.

“Besoknya orangtua korban bilang sama temannya intinya minta yang menendang itu dikeluarkan dari sekolah. Kami tidak bisa ini kan pendidikan, alasannya biar kejadian ini tidak terulang lagi,” bebernya.

Permintaan orangtua korban tidak dikabulkan oleh pihak sekolah pun dengan Disdik. Sehingga pihaknya akan melakukan peningkatan pengawasan piket guru saat jam istirahat.

“Sekolah akan meningkatkan piket guru saat jam istirahat, orangtua yang menendang juga sudah legowo anaknya boleh dikeluarkan. Tapi 2 anaknya tidak dikeluarkan semua sama kepala sekolah,” jelasnya.

Kini hubungan keduanya (korban dan pelaku) sudah membaik. Pihaknya meminta agar yang membuat aduan dapat berkomunikasi dengan Disdik.

“Sekarang sudah main biasa, main bareng sudah makan bersama duduk bersama, Seacara psikologis gimana. Saya malah mengimbau siapa yang melaporkan bisa berkomunikasi ke Dinas Pendidikan,” terangnya.

Pihaknya menilai kejadian tersebut merupakan kasus umum. Dengan itu sesuai kurikulum pihaknya perlu meningkatkan pendidikan keagamaan, rasa gotong royong dan budi pekerti siswa.

“Kita punya anak 66 ribu SD, 33 ribu SMP hampir 100 ribu SD SMP kalau terjadi setengah kita selesaikan kasuistisnya. Secara umum kami minta pihak sekolah mengetatkan lagi di jam jam istirahat. Kalau ada ketidaknyaman bisa langsung ke dinas,” terangnya.