SOLO, MettaNEWS – Sebuah bangunan tua, terpaksa menjadi korban pelebaran jalan di Kota Solo. Demi menghilangkan kemacetan lalu lintas, sebuah rumah telegram peninggalan zaman Belanda di tepi rel kereta api, harus dirobohkan.
“Itu dulunya rumah telegram. Bagian dari perangkat komunikasi internal perkeretaapian, menghubungkan antarstasiun dan pintu perlintasan. Itu zaman Belanda. Sekarang PT KAI menggunakan TOKA alias telepon otomatis kereta api,” tutur Indrayana, humas komunitas pehobi kereta api Semboyan Satoe, Selasa (11/4/2023).
Bangunan itu terletak di sisi barat-selatan pintu perlintasan kereta api Pasar Nongko, Jalan Hasanudin, Solo. Warga setempat menyebutnya gerdu sepur.
Bentuknya memang mirip gardu, bangunan tembok kokoh khas konstruksi era kolonial, dengan kerangka kayu. Tidak ada pintu, selain di bagian kolong terlihat ada akses yang tertutup papan kayu. Atapnya sirap. Tampak sejumlah isolator keramik di bagian luar barat dan timur, terlindung oleh teritisan atap.
Bermula dari keinginan Wali Kota Gibran Rakabuming untuk menghilangkan kemacetan yang terjadi hampir setiap saat di perlintasan tersebut. Terlebih, lintasan itu menghubungkan kawasan Manahan dengan Kota Solo bagian selatan.
“Ini pasti menjadi masalah, nanti Piala Dunia U-20 bakal tambah macet. Harus ada pemecahan segera,” ujarnya saat meninjau lintasan itu beberapa pekan lalu.
Pelebaran pintu lintasan menjadi pilihan yang masuk akal. Akses keluar dari Jalan RM Said ke Hasanudin dilebarkan. Pilihan itu membuat lima kios pedagang bunga di timur pintu harus tergusur.
Demikian juga dari Jalan Hasanudin belok kiri masuk ke Jalan RM Said, dilebarkan. Dan gerdu sepur yang berusia seabad lebih pun harus hilang. Bahkan, meski akhirnya Piala Dunia U-20 batal di Solo, pelebaran jalan tetap berlangsung. Karena memang, kemacetan lalu lintas di area itu sudah terbilang parah. Kota Solo bagian utara dan selatan memang “terpisah” oleh rel, dan membelah rel di pintu mana pun adalah masalah. Kecuali yang sudah mengalami rekayasa oleh jalan layang (fly over).
Rumah Telegram, Korban Ketidakpedulian terhadap Bangunan Bernilai Sejarah
Keluhan dan kritik muncul dari sejumlah pihak, seperti pegiat sejarah Dani Saptoni. Ketua Solo Societeit itu menyesalkan banyaknya bangunan kuno yang hilang, harus roboh mengalah atas nama pembangunan.
“Bangunan-bangunan tua, tak harus yang berstatus cagar budaya, adalah penciri suatu kota. Jejak peradaban yang bisa menjadi media belajar semua pihak. Kalau main babat seperti ini, tinggal soal waktu, bangunan lainnya bisa bernasib sama,” ujarnya.
Dani pun berharap, pemerintah mau meluangkan kepedulian terhadap bangunan-bangunan serupa yang masih tersisa.
“Kalau rumah telegram seperti ini, sepertinya masih ada di dekat perlintasan Celep, Palur. Tapi kondisinya juga tidak terawat,” keluhnya.







