SOLO, MettaNEWS – Setelah proses lelang selesai pada Mei mendatang. Revitalisasi Pasar Jongke Kelurahan Pajang, Laweyan Solo akan berlangsung pada Juni 2023.
Kepala Dinas Perdagangan Heru Sunardi menuturkan pembangunan Pasar Jongke memakan waktu satu tahun dengan pagu anggaran Rp 138 Miliar dari Kementerian PUPR.
“Perkiraan kami bulan Mei itu nanti sudah lelang berjalan, awal Juni sudah penetapan pemenang oleh Kemen PUPR. Nilai revitalisasi Pasar Jongke di angka Rp 138 Miliar, Rp 3 miliar sekian untuk Manajemen Konsultan (MK),” beber Heru, Rabu (5/4/2023).
“27 Maret sampai 12 April ini pembuktian kualifikasi. Harapannya nanti kontrak MK di 26 Mei hampir bersamaan dengan strukturnya awal Juni,” terangnya.
Target Revitalisasi Pasar Jongke Kurang Dari Setahun
Pihaknya menargetkan revitalisasi bisa berjalan lebih cepat dari lini masa proyek yang semula 12 bulan menjadi 10 bulan.
“Masa pembangunan dari Kemen PUPR 12 bulan mungkin bisa kami percepat 10 bulan dan lain sebagainya. Melihat dulu nanti kondisi yang ada, targetnya 12 bulan, pembangunan Juni kalau nanti 10 bulan maka April sudah selesai,” jelasnya.
Terkini 1.183 pedagang juga telah pindah dan menempati pasar darurat Lapangan Jegon. Mereka akan berada di pasar darurat tersebut menyesuaikan lini masa pengerjaan proyek.
“Tanggal 2-9 April pedagang sudah kami peringatkan untuk masuk ke pasar darurat. Harapan kami setelah full semua aset langsung kami jual dan kami lakukan pembongkaran,” ujar Heru.
Begitu pula dengan pedagang pakaian kalipur (eks SPBU Jongke) juga akan pihaknya relokasi ke Pasar Senggol Purwosari.
“Pedagang kalipur pakaian saya tawarkan untuk kembali ke Pasar Senggol Purwosari. Karena kemarin mereka sudah punya tempat bisa kami optimalkan saja cukup juga di halaman pasar,” ujarnya.
Berbeda dengan pedagang Pasar Jongke, pedagang kalipur bisa pindah setelah Lebaran. Dinas Perdagangan juga telah menyiapkan lokasi di Pasar Senggol.
“Nanti kalau sudah kami gempur pasarnya, pedagang pasti akan bergeser. 80 pedagang kalipur sebelum kontruksi perkiraan setelah Lebaran pedagang pakaian itu harus pindah,” tegasnya.
Pihaknya kemudian akan mengatur pembagian lokasi bagi pedagang kalipur. Setidaknya ada 80 pedagang kalipur yang harus rela direlokasi demi percepatan revitalisasi Pasar Jongke.
“Ini kita beri waktu dulu, kalau pedagang pasar kan mengganggu karena bangunannya akan dirobohkan. Kalau kalipur itu kan di SPBU dengan aset mereka ada yang luar dalam, yang luar sudah dipenuhi wedangan nanti diatur selama ada spacenya (tempatnya-red),” kata Heru.
Selama menampati pasar darurat, Dinas Perdagangan memberikan keringanan retribusi hingga 30 persen.
“Permintaan pedagang juga sudah dikabulkan keringanan retribusi sama Pak Wali diberi keringanan 30 persen selama di pasar darurat. Semua pedagang sudah terpenuhi oleh Pemkot terkait dengan usulan-usulannya keringanannya,” pungkasnya.







