Remaja 16 Tahun Diduga Gunakan Uang Palsu, Bank Indonesia Solo Tingkatkan Edukasi Uang Rupiah

oleh
oleh
bank indonesia
Sosialiasasi dan edukasi Bank Indonesia Solo pada guru SMP sederajat terkait uang palsu | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Kasus remaja berusia 16 tahun yang diduga berbelanja menggunakan uang palsu menjadi perhatian serius Bank Indonesia Solo.

Kejadian di Sragen ini bermula dari remaja tersebut yang berbelanja ke sebuah warung kelontong sebanyak 2 kali. Kali pertama aksinya lolos. Namun saat membeli untuk yang kedua kalinya pedagang sadar bahwa uang dari remaja tersebut palsu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Nugroho Joko Prastowo menyampaikan kronologis dari kasus dugaan uang palsu yang menimpa remaja berusia 16 tahun tersebut.

“Jadi ada orang yang menyuruh remaja ini untuk membelanjakan 3 pecahan uang palsu. Kalau berhasil semuanya akan dapat hadiah. Nha anak ini kan polos ya jadi manut saja. Pertama belanja lolos, yang berikutnya pedagang sadar kalau uang tersebut palsu. Dan langsung menghubungi pihak berwajib jadi anak ini langsung ditangkap,” papar Joko, Selasa (29/8/2023).

Dengan kejadian ini menurut Joko ada indikasi remaja tersebut tidak paham betul keaslian rupiah.

“Ada anak 16 tahun disidik karena membelanjakan uang palsu suruhan orang. Itu kasus menguatkan bahwa kalangan remaja belum aware keaslian uang rupiah, jadi sasaran kejahatan upal,” tandasnya.

Nugroho menyebut benteng utama uang palsu adalah upal tidak akan beredar kalau tidak ada yang tertipu.

“Ketika upal dicetak tapi tidak beredar kan tidak berpengaruh. Akhirnya edukasi jadi benteng preventif atau pencegahan utama,” jelasnya.

Dari kasus upal ini, lanjut Joko setiap Bank Indonesia mengeluarkan emisi baru juga  memperkuat keamanan rupiah.

“Secara reguler ada emisi baru, tambah pengamanan, cara pencegahan dari sisi penguatan uang rupiah,” katanya.

Kenali uang palsu dengan Cinta Bangga Paham rupiah

Untuk mengantisipasi agar kejadian seperti remaja di Sragen tidak terulang lagi, Bank Indonesia Solo bersinergi dengan Dinas Pendidikan Kota Surakarta menyelenggarakan kegiatan Training of Trainer Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Peserta dari kegiatan ini adalah 142 Guru SMP/MTS se-Kota Surakarta.

“Sebenarnya upaya kita sosialisasi edukasi jalan terus, cuma medianya kita berubah sesuai situasi kondisi. Dulu pakai 3D sekarang CBP yaitu cinta bangga paham rupiah. Bangga sebagai simbol kedaulatan ekonomi, paham buat belanja bijak,” terangnya.

Joko menambahkan kejahatan uang palsu menjadi keprihatinan. Sementara pihaknya terus jalan melakukan penggebrekan.

“Jadi efek jera yang paling penting melindungi masyarakat agar mudah mengenali.uang palsu dan tidak mudah tertib,” tuturnya.

Sementara itu Pemerintah Kota Surakartà mengapresiasi sosialisasi dan edukasi tentang keaslian uang rupiah. Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa menjelaskan untuk mengurangi adanya korban lagi, sosialisasi Cinta Bangga Paham rupiah ini adalah program yang penting.

“Ternyata pemalsuan itu ada di wilayah sekitar Solo. Namun peredarannya di Solo. Kami dari pemkot berharap guru bisa jadi edukator siswa-siswanya. Bank Indonesia juga harus mengedukasi ke kelompok pasar, buruh gendong, pedagang yang jadi sasaran utama untuk mengenali rupiah,” pungkas Teguh.