SOLO, MettaNEWS – Fun Run Stasioen 2 Stasioen sport tourism mengusung tema baru dengan menghadirkan edukasi sejarah.
Kegiatan Fun Run Stasioen 2 Stasioen berlangsung meriah dan diikuti diikuti dengan antusias oleh sekitar 600 peserta. Berlangsung Minggu pagi (2/6) kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Kadin Solo Ferry Indrianto dan Danrem 064/ Warastratama Kolonel Inf Ali Ikhwan.
Manager Humas Daop 6 Krisbiyantoro menyampaikan, antusiasme para peserta yang mengikuti kegiatan lari ini terbayarkan. Dengan mendapatkan pengalaman lari yang tidak biasa.
“Seperti berlari berdampingan dengan KA Batara Kresna di sepanjang Jl. Slamet Riyadi. Kemudian juga melewati stasiun-stasiun bersejarah di Solo. Dengan jarak yang ditempuh peserta dalam lari kali ini yaitu 8 km,” jelasnya.
Tiga stasiun bersejarah yang disiapkan Daop 6 Yogyakarta untuk menjadi venue fun run kali ini adalah Stasiun Purwosari, Stasiun Jebres, dan Stasiun Solobalapan.
Stasiun Purwosari yang dijadikan venue start dulunya merupakan tanah milik Mangkunegaran yang diberikan kepada NISM untuk kepentingan pembangunan jalur KA. Stasiun Purwosari menjadi Stasiun kedua di Surakarta setelah Solobalapan yang dibuat NISM pada tahun 1875. Stasiun ini merupakan stasiun transit pertama di Surakarta yang memiliki stasiun percabangan jalur KA arah Surabaya dan Wonogiri.
Selanjutnya Stasiun Jebres yang dijadikan venue checkpoint merupakan stasiun yang dibangun pada tahun 1884 dan digunakan sebagai stasiun ujung bagi jalur percabangan Semarang-Surakarta dari lintas utara Jawa. Tujuan pembangunan Stasiun Jebres oleh pemerintah Hindia Belanda untuk membantu pengangkutan barang berupa komoditas hasil tanaman industri seperti gula dan tembakau yang menjadi andalan wilayah Karesidenan Surakarta.
Terakhir Stasiun Solobalapan yang menjadi venue finish ini dibangun tahun 1873. Sejarah berdirinya stasiun Balapan ini menarik untuk disimak. Lahan yang sekarang digunakan menjadi Stasiun Balapan, dahulunya merupakan Alun-Alun Utara milik Keraton Mangkunegaran. Di dalam alun-alun terdapat pacuan kuda Balapan, pada masa Mangkunegoro IV.
Lokasi lapangan pacuan kuda Balapan dianggap paling pas untuk menjadi sebuah stasiun, karena jalur rel bisa langsung mengarah ke Semarang. Akhirnya, pacuan kuda itu diubah menjadi sebuah stasiun, dan nama Balapan tetap dipertahankan.
Selain melewati Stasiun, para peserta juga melewati jalur KA yang berada di Jl. Slamet Riyadi. Jalur KA tersebut menjadi saksi sejarah pembangunan transportasi KA di Kota Surakarta. Setelah Stasiun Solo Balapan berdiri, rel KA dihubungkan dengan stasiun-stasiun yang berada di titik-titik strategis, yakni di Purwosari dan Jebres. Stasiun-stasiun itu terhubungkan oleh rel-rel yang melewati tengah kota. Salah satu buktinya adalah jalur rel yang ada di tepi jalan Slamet Riyadi, jalur rel ini masih digunakan hingga sekarang.
Fun run Stasioen 2 Stasioen kali ini diikuti dengan sangat antusias oleh masyarakat Solo maupun luar daerah. Seperti diungkapkan oleh Pandu (32 tahun) yang berasal dari Semarang. Ia jauh-jauh mengikuti Fun Run Stasioen 2 Stasioen karena ingin mengenal Kota Solo berikut sejarahnya.
“Saya mengikuti fun run kali ini karena ingin menambah teman, terus juga ingin mengenal Kota Solo. Sangat seru fun run kali ini, Alhamdulillah juga mendapatkan medali. Semoga event selanjutnya selalu lebih baik,” ujarnya.
Kemudian Ikhsan (28 tahun) yang berasal dari Magelang mengatakan bahwa dirinya sering mengikuti fun run dan ini merupakan fun run yang berbeda dari sebelumnya dimana di sini bisa lebih mengenal sejarah transportasi kereta api di Solo.
“Fun run kali ini sangat seru, saya bisa ngerti sejarah transportasi kereta di Solo, tadi bangunannya heritage sekali Jebres. Semoga event ini bisa rutin ke depannya,” ungkapnya.








