JOMBANG, MettaNEWS — Lebih dari 400 pengurus wilayah (PWNU) dan cabang (PCNU) Nahdlatul Ulama dari seluruh Indonesia menyatakan sikap bulat mengikuti sepenuhnya keputusan dan arahan para mustasyar serta sesepuh NU yang berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Sikap ini ditegaskan dalam pertemuan daring yang dipimpin Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di tengah dinamika internal yang mencuat dalam beberapa hari terakhir.
Para pimpinan wilayah dan cabang menegaskan bahwa keputusan Mustasyar Tebuireng merupakan rujukan moral tertinggi dalam menjaga keselamatan jam’iyyah.
Para sesepuh yang hadir di Tebuireng, antara lain Prof. KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siradj, KH Anwar Manshur, KH Umar Wahid, dan sejumlah mustasyar lain, dinilai menunjukkan kepedulian mendalam terhadap masa depan organisasi.
Dalam forum daring tersebut, Gus Yahya menjelaskan latar belakang pertemuan Tebuireng. Ia menggambarkan bagaimana para kiai sepuh, meski beberapa telah berusia lebih dari 80 tahun dan dalam kondisi fisik terbatas, tetap memaksakan diri hadir.
“Saya terharu melihat para sesepuh turun tangan. Mereka bersusah payah datang karena kecintaan yang luar biasa kepada jam’iyyah ini,” kata Gus Yahya.
Gus Yahya menyampaikan bahwa dirinya telah memberikan jawaban menyeluruh disertai dokumen lengkap mengenai seluruh isu dan tuduhan yang berkembang.
“Semua hal yang dipertanyakan telah saya jawab selengkap-lengkapnya dan serinci-rincinya,” jelasnya.
Gus Yahya menegaskan bahwa yang harus dijaga bukan sekadar posisi personal, tetapi keselamatan sistem yang menjadi pondasi organisasi.
“Organisasi itu manzumah (sistem), dan sokogurunya adalah nizham (aturan). Bila nizham ini diabaikan, organisasi bisa runtuh dan mundur seratus tahun,” tegasnya.
Dari Bengkulu, Rais Syuriyah PWNU KH Hasbullah Ahmad menepis narasi yang beredar bahwa Ketua Umum PBNU dianggap durhaka kepada para kiai.
“Itu salah besar. Justru Ketum sedang menasihati kita semua untuk kembali ke aturan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa PWNU Bengkulu sepenuhnya mendukung keputusan para mustasyar sebagai rujukan moral penyelesaian persoalan.
“Kami support agar Ketum dan Sekjen terus berupaya agar NU selamat dari badai yang sedang melanda,” tambahnya.
Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung, Masmuni Mahatma, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan bergeser dari aturan dasar jam’iyyah.
“Ketua umum atau rais aam hanyalah institusi kecil. Yang besar adalah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga,” tegasnya.
PWNU dan PCNU dari Bangka Belitung menyatakan mengikuti sepenuhnya arahan Mustasyar Tebuireng karena para sesepuh dianggap memiliki pandangan jernih tanpa kepentingan personal.
Ketua PWNU Sulawesi Selatan, Prof. KH Hamzah Harun Al-Rasyid, menilai bahwa wacana pemakzulan Ketua Umum tidak memiliki dasar yang kuat.
“Mandataris tidak boleh diberhentikan kecuali melalui forum yang sama yang mengangkatnya,” tandasnya.
Ia menambahkan bahwa langkah terbaik adalah mengikuti rekomendasi para sesepuh yang menekankan pentingnya islah dan penertiban arus informasi.
“Usaha yang paling tepat sekarang adalah islah. Kalau islah tidak bisa, kembali kepada AD/ART. Itulah yang dipesankan para Mustasyar,” tutur Prof. Hamzah.
Dari sisi berbeda, Ketua PCNU Kota Malang, KH Isroqunnajah, menyampaikan keprihatinan atas saling serang di media sosial yang turut menyeret nama-nama kiai.
“Kami sama sekali tidak rela para kiai dibully di media sosial. Silaturahim Tebuireng memberi arah yang jelas agar persoalan kembali ditempatkan pada tatanan,” katanya.
Ia menilai klarifikasi lengkap yang diberikan Ketua Umum kepada para sesepuh menjadi modal bagi warga NU untuk memegang keputusan Mustasyar sebagai panduan.
Pada akhir pertemuan daring, seluruh pengurus wilayah dan cabang yang hadir sepakat mengikuti keputusan para Mustasyar Tebuireng secara penuh, sambil menanti proses organisatoris berikutnya.
Mereka meyakini bahwa arahan para sesepuh merupakan jalan terbaik untuk menjaga marwah, ketertiban organisasi, dan keutuhan Nahdlatul Ulama di tengah dinamika yang berkembang.







