SEMARANG, MettaNEWS – Kurang dari satu tahun lagi Indonesia akan mempunyai gawe besar. Pemilihan umum serentak mulai dari pemilihan kepala daerah, gubernur, DPR dan DPRD hingga Presiden akan berlangsung pada Februari 2024. Masing-masing partai sudah mulai memanaskan mesin politiknya.
Pengamat politik Dr Agus Riyanto menyampaikan ada beberapa tokoh yang potensial maju dalam bursa pilihan gubernur pada Pemilu serentak 2024 nanti.
Dekan Fisip Unwahas Semarang ini menilai, kader Partai Golkar yang juga Bupati Batang, Wihaji adalah sosok yang memiliki potensi memenangkan dalam kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Tengah pada Pemilu 2024.
Menurutnya, saat ini sudah muncul lima tokoh dari kalangan ormas Nahdlatul Ulama (NU) yang berpotensi maju dalam Pilgub mendatang.
Mereka adalah Taj Yasin Maimoen (Wagub) atau Gus Yasin, KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf (Ketua PKB Jateng), Wihaji (Bupati Batang), KH Muzzammil (Ketua Tanfidziyah NU Jateng), dan Prof Dr Budi Setyono (Pembantu Rektor Undip).
“Dari kelima tokoh tersebut, Wihaji lah yang paling potensial dalam Pilgub nanti. Pasalnya, Wihaji memenuhi tiga kriteria, yakni punya modal politik, modal sosial, dan modal capital,” kata Agus.
Dia punya modal politik karena mantan bupati Batang itu merupakan Ketua Harian DPD Partai Golkar Jateng.
“Selain di Golkar, kita juga mengenal Wihaji sebagai tokoh muda NU yang kini memegang jabatan penting sebagai Wasekjen DPP GP Ansor,” kata Agus.
Popularitas Wihaji di Jateng yang tinggi, lanjut Agus menjadi modal sosial. Adapun dari modal kapital, Wihaji merupakan pengusaha yang andal.
“Wihaji boleh jadi bakal memiliki peluang yang bagus untuk dipilih. Pertama, selain tokoh muda, dia berpengalaman di birokrasi sebagai bupati. Selain itu, memiliki basis dukungan struktural NU karena menjabat Wasekjen GP Ansor. Dukungan partainya dari Golkar pun kuat karena memiliki kursi empat besar di DPRD Jateng,” ujar Agus.
Untuk meraih suara di Jateng, lanjut Agus maka harus terjadi kolaborasi kalangan nasionalis dan Islam. Kolaborasi tokoh yang merepresentasikan kalangan nasionalis dengan Islam khususnya NU sebagai mayoritas di Jateng, masih berpeluang besar memenangkan kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2024.
“Salah satu tokoh dari kalangan islam yang potensial maju ke Pilgub Jateng itu adalah Wihaji,” kata Agus.
Menurut Agus, Jateng masih jadi kandang banteng. Namun, untuk memenangkan Pilgub 2024, PDI Perjuangan harus bisa merangkul tokoh dari kalangan Islam, khususnya dari Nahdliyyin.
“Siapapun calon gubernur yang diusung PDIP, peluang untuk menang sangat terbuka. Karena, Jateng itu masih jadi basis kaum nasionalis. Bahkan, bisa dikatakan Jateng merupakan kandang banteng. Namun, untuk lebih memperbesar peluang memenangi Pilgub Jateng 2024, PDIP harus bisa merangkul tokoh dari kalangan Nahdliyyin untuk posisi cawagub,” terang Agus.
Agus menambahkan, tokoh lain selain Wihaji bukan berarti tidak bagus. Hanya saja, ada beberapa kendala yang membuat mereka kurang kuat dalam pencalonan di Pilgub Jateng. Meski saat ini Gus Yusuf memimpin partai, namun belum tentu mau dicalonkan karena terkendala komitmen pribadi dengan amanat orang tuanya.
Sedangkan untuk peluang Gus Yasin, lanjut Agus, sangat tergantung pada PPP. Apakah akan kembali mencalonkan atau tidak, meskipun Gus Yasin punya popularitas tinggi dan memiliki basis dukungan karena telah berkuasa selama lima tahun.
“Gus Yusuf dan Gus Yasin juga berpeluang besar dicalonkan, karena berasal dari NU sekaligus tokoh partai politik. Adapun dua nama lainnya, yakni Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng KH Muzzamil dan Pembantu Rektor Undip Prof Budi Setyono, peluangnya agak sulit karena masih harus mencari dukungan partai politik,” terang Agus.
Agus Riyanto mengatakan, nama Walikota Solo yang juga putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, disebut-sebut berpeluang dicalonkan PDIP sebagai bakal calon gubernur dalam Pilgub Jateng 2024 mendatang.
“Wihaji boleh jadi bakal jadi memiliki peluang yang bagus untuk dipilih. Pertama, selain tokoh muda, dia berpengalaman di birokrasi sebagai bupati. Selain itu, memiliki basis dukungan struktural NU karena menjabat Wasekjen GP Ansor. Dukungan partainya pun kuat karena memiliki kursi empat besar di DPRD Jateng,” tandasnya








