SOLO, MettaNEWS – Pada 28 April lalu di Gresik Jawa Timur ditemukan Penyakit Mulut dan Kuku yang menyerang ternak berkaki empat salah satunya sapi. Sebanyak empat daerah yakni Boyolali, Rembang, Wonosobo dan Banjarnegara telah terinfeksi penyakit yang satu ini.
Wabah ini juga menyerang hewan ternak di Kabupaten Aceh Tamiang. Tentunya penyakit ini perlu diwaspadai oleh semua daerah, salah satunya Solo, Jawa Tengah.
Meskipun belum terdeteksi adanya hewan yang terjangkit PMK di Solo, namun pengawasan terhadap kondisi ternak perlu dilakukan. Hal ini lantaran penyebaran PMK dapat terjadi sangat cepat mengikuti arus transportasi daging dan ternak yang telah terinfeksi.
Melihat kondisi tersebut, salah satu tempat yang menjadi perhatian ialah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo yang dijadikan sumber pakan bagi ternak seperti sapi dan kambing.
Mengetahui hal ini, salah satu peternak sapi bernama Bambang ikhlas dengan apa saja yang bisa menimpa sapi-sapinya. Memiliki 15 ekor sapi yang diliarkan di gunungan sampah, Bambang tak khawatir sapi-sapinya bisa terkena PMK.
“Kalau saya nggak khawatir, sapi dari luar kelihatan sehat, kalau di dalam kurang tahu. Kalau mantri ngecek belum ada, paling kalau panggilan, ada sapi sakit nggak mau, susah jalan, nanti disuntik dikasih obat, vitamin tapi mandiri,” ucap Bambang saat ditemui dikediamannya Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Rabu (11/5/2022).
Sudah memulai kegiatan berternak sejak 1985, ia sudah terbiasa dengan adanya pembuangan sampah ini. Pada awalnya ia merasa terganggu karena adanya masalah seperti bau sampah, banjir yang membawa sampah ke lingkungan tempat tinggalnya. Namun ia justru dapat melihat peluang dari adanya sampah ini yakni memanfaatkannya untuk sumber pakan ternak.
“Ternaknya mulai awal selama TPA Cempo ada, saya dari dulu rumah di sini. “Pokoknya sini kalau diliarkan kekhawatiran (penyakit) ada, tapi kalau di sini ya sudah ikhlas (kalau sakit) ya diliarkan,” imbuhnya.
Sapi-sapi miliknya diliarkan mulai pukul 06.00 WIB ini akan kembali ke kandang dengan sendirinya sekira pukul 16.00 WIB hingga 17.00 WIB. Sudah hafal dengan ciri-ciri sapi miliknya, Bambang menyebut tidak pernah kehilangan atau tertukar dengan sapi lain.
“Sebagian pulang sendiri, sebagian dicari. Kalau membedakan sudah hapal, yang agak sulit yang kecil,” ucapnya.
Mengandalkan sebagian besar dari sampah TPA Putri Cempo, Bambang menyebut hanya mencari pakan rumput sedikit untuk tambahan.
“Kalau pakan lain biasanya rumput, saya nyari sendiri kadang, pokoknya dicampur, kalau nggak ada ya sudah nggak dikasih makan kalau malam, siang sudah ke situ (TPA Putri Cempo),” tuturnya.
Menjanjikan, ternak sapi miliknya dijual dengan sistem celengan.
“Sistemnya celengan, biasanya kalau sapi setahun setengah baru melahirkan, kalau mau menjual anaknya 2,5 tahun. sini kebanyakan sapi Jawa kecil. Lakunya kalau sapi sini paling 18-17-20 juta, kalau sapi sini kan kecil-kecil, sini kan sapi putih-putih,” terang Bambang.
Meskipun sapi-sapinya mengonsumsi sampah yang jelas tidak terjamin kebersihannya ini tidak membuat Bambang khawatir jika sapinya tidak laku. Hal ini lantaran ia sudah memiliki langganan pedagang yang membelin sapi-sapinya.
“Pedagang langsung ke sini, nawar,
Itu pokoknya datang, mau cari sapi dibeli, tapi di pasar-pasar nggak tahu. Kalau nyari sapi biasanya kalau masuk belehan (kurban). Pokoknya kalau saya sapinya kelihatan besar, dijual, saya indukan soalnya, nggak jual-jual gitu,” jelas Bambang.
Tidak hanya soal penyakit, sapi-sapi di TPA Putri Cempo juga mengalami cidera. Bambang menyebut 10 sapinya pernah mati di tempat tersebut. Sudah menjadi risiko, Bambang tetap meliarkan sapinya dengan alasan sumber pakan bergantung pada TPA Putri Cempo.
“Kalau sakit pernah, suntik. Di situ juga banyak kecelakaan, kena alat berat, ketabrak, keracunan itu juga ada, yang tertimbun sampah juga ada. Kalau mati sepuluh ada,” terang Bambanh.
Meskipun begitu, Bambang juga memilki sedikit rasa khawatir. Sehingga pihaknya juga sering memantau ke TPA Putri Cempo.
“Khawatir ada tapi gimana lagi, ya dibiarkan. Kalau di rumah sering ke sana mantau,” ucap Bambang.
Ia yang juga pernah ternak kambing menyebut penjualan kambing tidak menjanjikan seperti sapi.
“Dulu kambing dulu juga pernah, tetapi kambingnya nggak mau ke sana, paling hanya di pinggir-pinggir. Kalau uangnya banyak sapi,” jelasnya.
Bukan menjadi masalah dengan adanya PMK, Bambang menyebut masalah yang bisa membuatnya berhenti melakoninusaha ternak sapinya yakni dengan kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Masih dalam tahap pembangunan, Bambang menyebut PLTSa ini akan beroperasi dengan memanfaatkan sampah yang dapat membuat para peternak tidak diizinkan untuk memanfaatkan sampah kembali sebagain pakan ternak.
“Kalau sudah beroperasi (PLTSa) nanti sudah nggak boleh melihara (ternak). Kalau seumpamanya jadi sudah distop ternak-ternaknya. Bagi saya ya mau gimana ya dijual semua (sapinya),” ucapnya.
Berbeda dengan sapi, Bambang menyebut peternak babi akan menjadi yang paling terdampak. Hal ini lantaran pakan babi bergantung pada sampah yang ada di TPA Putri Cempo.
“Cari pakannya gimana kalau babi kan nyarinya disitu semua. Rencananya kan nanti ada alat masuk,” tutupnya.







