SOLO, MettaNEWS –Terkait Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak berkaki empat, sejumlah pedagang daging sapi di Solo tidak mengurangi stok penjualan. Namun pengurangan stok daging sapi terjadi karena sepinya pembeli usai Lebaran 1443 H.
Tidak merasa khawatir, para pedagang menyebut daging sapi yang dijual telah melewati proses pengecekan dari tempat Rumah Potong Hewan (RPH). Sehingga para pedagang pun menyakini akan daging sapi yang dijualnya dalam kondisi baik dan layak dikonsumsi.
Seperti yang diungkapkan Mila, salah satu penjual daging di Lantai 2 Pasar Nusukan, Solo ini mengaku mengurangi jumlah stok daging sapi sejak satu minggu yang lalu karena kondisi pasar masih sepi. Selain itu, ia menyebut pihak distributor juga membatasi stok daging sapi yang dijual ke pedagang lantaran masih masa Lebaran.
“Sekarang ambilnya sedikit. Dari sana biasanya nyembelih 5 sekarang jadi 2 sampai 3. Jadi stok sedikit dari sana sejak seminggu yang lalu,” ucap Mila saat ditemui MettaNEWS, Sabtu (14/5/2022).
Harga daging sapi yang sempat melambung pada masa sebelum Lebaran yakni Rp 160.000/kilogram ini turun menjadi Rp 150.000/kilogram saat hari H Lebaran. Untuk saat ini harga kembali turun menjadi Rp 125.000/kilogram.
“Rp 150.000/kilogram. Daging sapi bisa turun tapi pas Hari Lebaran aja, kalau nggak ya ngga bisa. Buat patokan aja pas Hari Lebaran turun Rp 10.000/kg,” terang Mila.
Mila mengaku penyakit kuku dan mulut telah biasa ia temui pada hewan ternak seperti sapi. Tidak ada ciri-ciri yg membedakan dengan daging sapi yang lain,Mila menyebut kondisi daging sapi di lapaknya dalam kondisi bagus.
“Disini bagus semua, cara masaknya ya sama buat bakso buat rendang. Harga daging sapi 125.000/kilogram yang bagus buat bakso buat empal sama rendang. Ini kemarin Rabu, (11/5) turun Rp 2.000/kg yang kering,” ucapnya.
Mila yang membeli daging sapi dari Kalioso sebayak 70-80 ton ini juga dilakukan pemotongan sendiri. Ia yang membeli daging dari tempat penjagalan menyebut tidak melakukan pengecekan ulang. Tidak mempengaruhi penjualan daging sapi setiap harinya ini mengaku penjualan tetap normal karena sudah memiliki langganan.
“Ya ini sudah dicek dari Jagalan. Kalau keluar dari Jagalan kan sudah (dicek). Nanti per kilonya kan Rp 5.000 buat biayanya dari Jagalan sana dari Dinas Peternakan. Sudah dicek,” tutur Mila.
“Ini kan yang antre masih harga lama, harga lebaran. Jadi kan yang beli males. Buat jualan bakso ya males, apa-apa mahal. Kan kalau buat cilok atau apa itu kan kaya,” terangnya.
Sudah mendengar berita tentang PMK yang menyerang sapi, pihaknya tetap tenang.
“Iya sudah terdengar (berita PMK), dagingnya sudah dikontrol setiap hari dari Dinas Peternakan, Jagalan itu. Jadi sini sudah santai-santai saja semua sudah dikontrol. Ayam juga semua,” imbuhnya.
Meskipun begitu, dengan adanya PMK ini dikemudian hari hal yang dikhawatirkan ialah berkurangnya pembeli yang biasanya mengonsumsi bagian kikil dan mulut untuk dijadikan oseng-oseng.
“Di sapi itu mungkin bagian dalam. Lidah, mulut, bagian dalamnya itu mulutnya itu. Buat oseng-oseng itu banyak yang nyari kemarin. Buat oseng-oseng kan kikil, mulut, sekarang kan mungkin banyak yang takut. Yang denger. Ya kalau nggak denger (berita) yaudah nggak papa,” jelasnya.
Daging sapi yang terserang penyakit menurut Mila akan nampak berbeda dari teksturnya. Hal ini pun membuat harga daging sapi sakit lebih murah jika dibandingkan dengan sapi sehat.
“Yang pasti sapi sakit itu sama sapi normal beda. Soalnya dagingnya kan nggak kenceng, kendo. Harganya ya murah. Dinomerkan tiga seumpamanya daging super Rp 115.000/kilogram, itu hanya tinggal Rp 70.000-80.000/kilogram. Kan itu sakit. Kan ya kadang ada. Masa ada sapi sakit nggak disembelih apa mau dikubur. Kan nggak mungkin. Kikilnya kan dijual tapi harganya kaya gitu,” terang Mila.
Memiliki ciri-ciri daging yang tidak padat membuat daging ini juga nampak pucat dan tidak segar. Namun hal ini bukanlah masalah baginya karena Dinas Peternakan pun rutin melakukan uji kelayakan daging setiap minggunya. Meskipun untuk hari Lebaran belum digiatkan namun Mila menyebut uji kelayakan ini biasanya dilakukan melalui kertas uji data.
“Makanya dagingnya kan nggak padat kalau yang bagus kan padet. Kalau yang sehat-sehat itu padet. Terus warnanya aja merah kemerah-merahan. Itu kan sudah dikasih dari Dinas itu setiap minggu pasti dikasih kertas itu. Ini layak dijual nggak layak dijual gitu. Pasti semua dikasih,” jelas Mila.
Tak khawatir akan membuat pelanggannya berkurang, Mila yang juga tanahnya diwaqafkan dan digunakan sebagai tempat penjagalan membuatnya yakin akan kondisi daging yang ia perolah masih sehat karena telah dicek oleh dokter hewan di RPH.
“Nggak khawatir, saya kan hanya lengganan. Bakso sudah langganan setiap harinya. Itu doang sama abon sudah tahu dari siapa dari jagal sana sudah tahu. Jadi di jagal sana dikontrol sama dokternya. Di Kalioso juga ada RPH-nya. RPH-nya itu dari tanah bapak saya yang diwaqafkan. Nggak mau RPH-nya Karanganyar. Gotong-gotong kan kelamaan lebih baik saya kehilangan tanah buat RPH. Jadi RPH-nya tempatnya bapak saya. Jadinya nggak kemana-mana sudah tahu. Dokternya tinggal situ sapi satu biayanya sekian-sekian sudah tahu. Dari sana ada biayanya,” tutur Mila.
Adanya PMK ini tidak membuatnya ingin membuat ternak sendiri. Sudah berusia lanjut, ia tetap memilih membeli daging dari tempat penjagalan meskipun sebenarnya daging sapi yang berasal dari ternak sendiri lebih menguntungkan.
“Sudah tua. Dulu memang pernha ternak kalau lebaran dijual sendiri untungnya kan lebih banyak. Kadang bakulnya itu kan naik terlalu mahal kalau dijual lagi. Jadi kalau semebelih sendiri kan jualannnya nggak terlalu mahal,” kata Mila.
Dikatakan Mila, harga daging sapi akan kembali turun jika keadaan sudah normal kembali.
“Kemungkinan masih turun lagi. Dari sananya Rp 115.000/kg. Mungkin bisa turun. Dulunya itu awalnya hanya Rp 108.000/kg. Jadi sampai Rp 120.000-125.000/kg. Kan terlaku mahal ya baru tahun ini. Dulu nggak segini. Abis kupatan begini harganya ya biasa,” tutupnya.
Hal yang sama juga diungkapkan Atik, salah satu pedagang daging sapi Lantai 2 Pasar Gede Solo ini menyebut kondisi pasar masih sepi usai Lebaran.
“Ini beberapa hari ini sepi banget, mungkin karena habis Lebaran. Karena sepi ini saya ngurangin stok,” jelas Tatik.
Kondisi yang sepi membuatnya mengurangi stok daging.
“Ini sepi banget ngambilnya 10 kg, kalau pas Lebaran ngambilnya banyak tapi yang beli nggak banyak. Biasanya saya 15 kg sampai 20 kg,” ungkap Atik saat ditemui di kiosnya, Jumat (13/5/2022).
Ia yang menjual daging sapi dengan jenis berbeda yakni ulur Rp 135.000/kg, paha Rp 130.000/kg, ini menyebut penurunan harga daging sapi berangsur sebanyak Rp 5 ribu.
“Kalau harian yang beli biasanya langganan,” tambahnya.
Sudah mengetahui berita tentang PMK, Tatik menyebut daging yang berasal dari Jagalan telah diperiksa sebelum didistribusikan.
“Itu di TV itu lihatnya (berita). Kalau di Jagalan itu diperiksa dulu, ada dokter kesehatan di sana, jadi nggak khawatir.
Sebagai informasi, di Jawa Tengah terdapat empat daerah yang terjangkit virus PMK ini yakni Boyolali, Wonosobo, Rembang dan Banjarnegara. Sedangkan untuk wilayah Solo, PMK belum terdeteksi menyerang hewan-hewan ternak hingga saat ini.








