SOLO, MettaNEWS – Pedagang sembako di Pasar Kadipolo mengeluhkan penjualan minyak goreng dengan sistem bundling. Penjualan minyak goreng di pasar besar Solo menggunakan sistem bundling tersebut memberatkan pedagang kecil. Hal ini karena para pedagang semabko kesulitan mendapatkan harga standar dengan jumlah yang menyesuaikan keinginan. Sistem bundling merupakan teknik dimana beberapa produk dikelompokkan bersama dan dijual dalam satu unit dengan satu harga. Strategi ini digunakan untuk mendorong pelanggan agar membeli lebih banyak produk.
Salah satu pedagang di Kios Pasar Kadipolo, Wahyu mengeluhkan hal tersebut. Ia mengungkapkan keluhannya seputar ketersediaan harga minyak goreng yang standar namun jumlahnya langka di Solo, pada Kamis (03/03) lalu.
Menurut Wahyu, harga minyak goreng di pasar distributor Rp 225.000,- untuk satu kardus berisi 12 kantong minyak dengan ukuran satu liter, sehingga jika dikalkulasi harga per liternya Rp 18.000,-.
“Padahal harga yang didapat itu 13 ribu, tapi dijual dalam kardusannya dengan harga sekian. Kalau kita suruh jual dengan harga yang seperti itu ya tidak bisa. Kalau mau mendapatkan harga yang standar kita harus beli dengan harga 1 juta sampai 2 juta dalam paketan bundling. Kalau nggak mau bundling ya beli kardusan dengan harga 220 ribu sampai 225 ribu. Padahal kita untungnya cuma dapet 12 ribu dalam satu paket, kan nggak sebanding” ucap Wahyu saat ditemui di Kios Pasar Kadipolo, Kamis (03/03/2022).
Wahyu menuturkan saat ini mendapat jatah minyak goreng dari sales pasar sebanyak 3 sampai 10 dus dengan harga Rp 13.000,- per liter. Ia mengaku menjual minyak goreng dengan harga standar yakni Rp 14.000,- per liter meskipun mendapatkan keuntungan yang minim. Wahyu menyebut, jika membeli melalui bundling, minyak goreng dijual dengan harga 19 ribu sampai 20 ribu per liter, sedangan ukuran dua liter dijual dengan harga 35 ribu sampai 40 ribu.
“Stok dari sales itu nggak banyak. Jadi kalau habis ya saya nggak jual lagi. Kalau harus beli bundling nggak bisa. Ini saya jual dengan harga standar sesuai aturan karena kita sudah tanda tangan kontrak,” ucapnya.
Wahyu menyebut permintaan pembeli sangat tinggi. Hal ini karena pembeli mencari minyak dengan harga yang standar. Namun Wahyu mengungkapkan kenyataan yang ada di pasar sulit untuk menjual minyak goreng dengan harga tersebut karena ada yang tidak sesuai aturan.
“Kalau belinya udah segitu kita kan ya nggak mungkin jual murah. Makanya saya stoknya nggak banyak. Takutnya nanti kalau ambil banyak terus harga turun. Di pasar yang besar kalau dapat banyak kan langsung bisa habis. Ya memang ada satu dua toko yang jual murah tapi kebanyakan jual dengan harga demikian. Kalau saya nggak mampu, kulakan dengan harga segitu buat apa,” ungkap Wahyu.
Wahyu menjeaskan ia tetap bertahan dengan mengandalkan kiriman minyak dari sales pasar. Ia mengaku, pemerataan minyak goreng dilakukan di Pasar Kadipolo melalui sales yang memberikan jatah yang sama ke setiap kios.
Saat permintaan tinggi namun ketersediaan barang minim, Wahyu mengaku lebih menyarankan pembeli untuk beli di pasar induk jika menginginkan stok yang banyak sehingga bisa mendapatkan harga yang pas.
Wahyu berharap Dinas Perdagangan Kota Surakarta dapat memudahkan penyediaan minyak dengan harga standar ke daerah-daerah yang ada di Kota Solo. Ia berharap pemerintah dapat memberikan pemerataan barang dengan harga yang sesuai. Selain itu, pihaknya berharap agar akses pendistribusian minyak goreng dari pemerintah diperlancar, sehingga tidak ada kelangkaan.
Ia menyayangkan tidak adanya kerjasama antar pasar agar tidak memberatkan pedagang lain dalam hal harga dan ketersediaan minyak goreng.
“Mungkin barang mahal tapi kalau stok aman ada barangnya ya nggak apa-apa. Tapi kalau begini harga ada yang standar tapi stoknya nggak ada. Akhirnya stok yang dibeli dari harga standar dijual dengan lebih mahal,” pungkasnya.








