SOLO, MettaNEWS – Ketua Paguyuban UMKM Solo Raya, Imam Santoso, mengungkapkan keprihatinannya terhadap sistem penyediaan makanan dalam program MBG (Makanan Bergizi) yang selama ini mengandalkan satu dapur dengan kapasitas 3.000 porsi. Imam menekankan bahwa sistem tersebut berisiko menurunkan kualitas makanan yang disajikan, terutama dalam hal kebersihan dan ketahanan makanan.
“Proses masak yang dimulai tengah malam dan disajikan keesokan harinya menyebabkan beberapa kasus keracunan dan temuan makanan dengan belatung,” ujarnya pada wartawan, Senin (22/9/2025) di Solo.
Sebagai solusi, Paguyuban UMKM Solo Raya mengusulkan pembagian 3.000 porsi tersebut ke dalam porsi yang lebih kecil, yakni 200 porsi per resto atau cafe. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi pengusaha kecil dan menengah (UMKM), serta menjaga kualitas dan kesegaran makanan.
“Dengan pembagian porsi yang lebih kecil, kami yakin UMKM bisa memasak dengan lebih cepat dan lebih terkontrol, sehingga makanan yang dihasilkan tetap segar dan aman,” kata Imam.
Saat ini, Paguyuban UMKM Solo Raya sudah memiliki 35 anggota, dan mereka mengajukan surat resmi kepada Kementerian Keuangan dan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mempertimbangkan permintaan tersebut.
Imam juga menambahkan bahwa pengusaha lokal yang tergabung dalam UMKM di Solo Raya memiliki potensi untuk lebih berkontribusi dalam program MBG, asalkan ada pembagian yang adil.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Bambang Setiaji, Pembina UMKM, menyarankan bahwa dengan adanya sistem informasi yang canggih dan koordinasi yang lebih baik, distribusi porsi 200 ini bisa dilakukan dengan efisien, menguntungkan banyak pihak, dan mengurangi ketergantungan pada satu dapur besar.
“Melalui sistem IT yang baik, kita bisa memastikan pembagian ini merata dan lebih cepat. Lebih banyak UMKM bisa terlibat, yang akan merangsang ekonomi lokal dan memberi dampak positif pada sektor resto dan cafe yang terdampak pandemi,” ujar Prof. Bambang.
Dengan dukungan dari lebih dari 2.500 pengusaha UMKM yang berada di bawah binaan mereka, Paguyuban UMKM Solo Raya berharap agar usulan ini dapat diperhatikan pemerintah, demi menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.







