SUKOHARJO, MettaNEWS – Grebeg Sadranan merupakan sebuah tradisi Masyarakat Jawa yang mereka gelar menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini hampir seluruh tempat di jawa tengah melaksanakan terutama pada Keraton Kartasura di Sukoharjo.
Keraton Kartasura ini dulunya menjadi Istana Kerajaan Mataram Islam yang ini kini telah berubah menjadi kompleks pemakaman. Tak hanya pemakaman warga setempat, di sana juga terdapat beberapa tokoh yang dulunya menjadi petinggi Keraton Kartasura.
Juru Kunci Keraton Kartasura Mas Ngabei (MNNg) Surya Hastono Hadi Projo Nagoro mengungkapkan Sadranan tahun 2023 ini adalah yang ke-78 tahun terhitung dari tahun 1945.
Dari penjelasannya, makna dari Sadranan ini berasal dari kata Nyadran bahasa Jawa atau Sadra dari Sansekerta yang artinya adalah mengunjungi atau menengok makam keluarga atau trah atau nenek moyang untuk mendoakan.
“Untuk keraton Kartasura ini bertempat di bangsal yang berada di tengah-tengah, kemudian waktunya setiap kamis minggu ke 3 pada bulan Ruwah (bulan kedelapan kalender Jawa),” jelas Surya Kamis (16/3/2023).
Acara inti dalam tradisi nyadran ini adalah mendoakan Leluhur. Surya sapaan akrab dari juru kunci Kartasura, mengatakan kegiatan yang pihaknya gelar di keraton Kartasura ini berupa doa tahlil dan dzikir.
Sebelum memasuki acara inti tersebut terlebih dahulu masyarakat menglar besik makam dan besik alhi waris. Hal merupakan rangkaian budaya di mana masyarakat melakukan ritual ziarah kubur, mulai dari pembersihan makam leluhur dan tabur bunga.
“Usai itu baru kenuju inti mendoakan dengan tahlilan dan zikir. Selain itu juga terdapat tumpeng yang sebelumnya kami bawa kirab,” imbuhnya.
Mengenal Sejarah Grebeg Sadranan, Acara Pemeriah Tradisi
Tradisi Sadranan ini memiliki keunikan masing-masing dalam prosesi di setiap daerah. Hal tersebut sebagai pemeriah tradisi sekaligus mengenalkan kepada generasi berikutnya.
Seperti pada Keraton Kartasura ini, terdapat beberapa kegiatan tambahan sebagai pemeriah acara yakni lomba menggambar untuk anak-anak, mengadakan festival musik dan jajanan tradisional dan terbaru membagikan 1000 dawet.
“Ini bermakna untuk masyarakat agar ikut menyemarakan tradisi Sadranan dan mengetahui prosesi inti yang tidak bisa lepas dari leluhur,” ungkapnya.
Sementara itu Camat Kartasura, Joko Miranto mengungkapkan kesejarahan Kartasura ini lebih tua dari Surakarta. Dari kesejarahan ini banyak budaya dan kearifan lokal yang masih kental sehingga mempunyai makna untuk generasi selanjutnya untuk meneruskan.
” Tentunya dengan mengadakan kegiatan pada tradisi Sadranan ini dapat menjaga dari segi budaya. Sekaligus mengangkat sisi ekonomi, sosiologi kewilayahan Kartasura. Termasuk pembelajaran atau ilmu untuk generasi muda,” ungkapnya.








