SOLO, MettaNEWS – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo, berupaya menjadikan Segaran Sriwedari, menjadi ruang terbuka yang bermanfaat. Niat itu akan dilaksanakan dengan sumber daya seadanya, tanpa menunggu proses rehabilitasi kawasan yang pasti akan memakan proses panjang dan pendanaan yang besar.
“Ini sudah bertahun-tahun mangkrak, jadi hutan. Kolamnya juga surut karena bocor di sana-sini. Kalau dibiarkan, pasti akan semakin rusak, jadi kita coba manfaatkan untuk apa saja,” tutur Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Aryo Widyandoko, Kamis (12/5/2022).
Taman Sriwedari dibangun oleh Sinuhun Paku Buwana X pada tahun 1901. Segaran, adalah kolam besar dengan pulau di tengahnya, sempat menjadi area wisata yang sangat favorit bagi kebanyakan Wong Solo.
“Dulu sempat jadi rumah makan, setelah kontraknya habis, mangkrak. Saya selama sebulan lebih minta staf dinas, dibantu masyarakat, membersihkan belukar dan pepohonan. Sekarang sudah lapang, agak bersih,” tuturnya.
Saat digunakan untuk Rumah Makan Boga, sejumlah perubahan terjadi. Bangunan di tengah pulau berubah, wujud pulau juga berubah. Dua jembatan lengkung yang menuju pulau juga sudah tidak ada.
Aryo ingin, setidaknya Segaran Sriwedari bisa dikembalikan lagi seperti dulu, ketika setiap Minggu warga bisa berekreasi sambil menikmati musik keroncong.
“Dulu warga bisa berperahu, lalu ada grup musik keroncong yang unik, semua pemainnya tunanetra. Nanti bisa saja diadakan lagi, atau bisa juga untuk pementasan seni yang lain, sarasehan, rapat luar ruang, kuliner, apa saja. Yang penting jangan dibiarkan mangkrak, karena pasti akan rusak semakin parah,” imbuhnya.
Sepekan lalu, Aryo Widyandoko sudah menghadirkan sejumlah pihak untuk minta saran mengenai niatnya. Hadir dalam pembicaraan itu di antaranya KGPH Dipo Kusumo mewakili Keraton Surakarta, Kantor Badan Pertanahan Nasional, beberapa budayawan, juga pakar arsitektur dan cagar budaya, Dr Titis Srimuda Pitana, ST, MTrop, Arch.
Dari pengamatan MettaNews, saat ini Segaran Sriwedari masih dimanfaatkan oleh sekelompok kecil warga. Mereka memancing ikan di kolam yang airnya tinggak sepertiga.
“Kadang-kadang ada yang menebar bibit ikan di sini, jadi kalau untuk mancing ya masih ramai setiap harinya,” tutur Sugeng, Staf Dinas Pariwisata yang membersihkan Segaran.








