100 Siswa Penyandang Disabilitas Masuk Istana Kepresidenan Yogyakarta, Foto Bareng Titiek Soeharto hingga Lihat Museum

oleh
oleh

YOGYAKARTA, MettaNEWS – Sebanyak 100 siswa penyandang disabilitas beserta pendamping dari sejumlah sekolah luar biasa (SLB) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapat kesempatan langka mengunjungi Istana Kepresidenan Yogyakarta atau Gedung Agung, Rabu (12/8/2026) sore.

Kunjungan tersebut menjadi pengalaman istimewa bagi para siswa. Mereka tidak hanya dapat melihat langsung kemegahan Gedung Agung, tetapi juga berkesempatan berfoto bersama sejumlah tokoh dan pejabat yang hadir serta mengunjungi museum untuk melihat koleksi bersejarah di dalam kompleks istana.

Kehadiran para siswa penyandang disabilitas tersebut merupakan bagian dari rangkaian program “Suara Inklusi untuk Semua 2026” yang digagas Diwa Foundation melalui Program Istana untuk Rakyat (Istura).

Para siswa terlihat antusias ketika memasuki kawasan Gedung Agung yang berada di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang tidak setiap hari mereka dapatkan.

Dalam kunjungan itu, para siswa dan pendamping berkesempatan berfoto bersama Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta Deni Mulyana, anggota DPD RI Daud Yordan, serta jajaran Forkopimda DIY dan kepala daerah di wilayah DIY.

Salah satu siswa, Dilan (16), dari SLB Pembina Kota Yogyakarta, mengaku senang bisa masuk Gedung Agung. Bagi dia, kunjungan tersebut merupakan pengalaman pertamanya melihat langsung bagian dalam istana kepresidenan di Yogyakarta.

“Senang sekali. Saya pertama kali masuk Istana Negara Yogyakarta. Kapan-kapan lagi kalau diajak masuk istana, ikut!” tutur Dilan sambil tersenyum.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Provinsi DIY, Nurkhasanah, mengapresiasi kesempatan yang diberikan kepada siswa penyandang disabilitas tersebut.

Menurutnya, anak-anak penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pengalaman dan kesempatan mengunjungi tempat bersejarah seperti Gedung Agung.

Ia juga mengapresiasi Diwa Foundation yang telah melibatkan siswa penyandang disabilitas dalam kegiatan tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi Diwa Foundation untuk melibatkan anak penyandang disabilitas karena mereka punya hak untuk merasakan masuk Gedung Agung,” kata Nurkhasanah.

Nurkhasanah berharap kolaborasi serupa dapat terus dilakukan, terutama kegiatan yang memberikan ruang bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk menunjukkan potensi dan karya mereka kepada masyarakat.

“Harapannya Diwa Foundation bisa berkolaborasi untuk kegiatan lainnya, terutama spesifik untuk mengangkat anak-anak penyandang disabilitas. Agar karya mereka bisa dilihat dan dimanfaatkan masyarakat,” imbuhnya.

Jadi Pengalaman Bersejarah bagi Siswa Disabilitas

Ketua Panitia Suara Inklusi untuk Semua 2026, Diah Warih Anjari, mengatakan kehadiran perwakilan siswa penyandang disabilitas dari berbagai wilayah di DIY di Gedung Agung menjadi sebuah peristiwa bersejarah.

Terlebih, para siswa tidak hanya mengunjungi istana, tetapi juga mendapat kesempatan berinteraksi dan berfoto bersama sejumlah tokoh penting serta pejabat pemerintahan pusat dan daerah, termasuk unsur TNI dan Polri.

Diah mengatakan pihak Gedung Agung memberikan perhatian khusus kepada para siswa selama kunjungan.

“Jadi para siswa ini tidak lagi hanya mendengar kemegahan Gedung Agung. Mereka bisa masuk gedung bersejarah ini dan melihat koleksi-koleksinya,” ujar Diah yang juga merupakan inisiator Suara Inklusi untuk Semua 2026.

Menurutnya, kesempatan tersebut memberikan pengalaman edukatif sekaligus memperkuat semangat inklusivitas. Para siswa dapat mengenal sejarah secara langsung dengan melihat bangunan, ruang, dan koleksi yang selama ini mungkin hanya mereka ketahui melalui cerita atau media.

Kunjungan ke Gedung Agung menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Suara Inklusi untuk Semua 2026. Selain Istura, kegiatan tersebut juga diisi parade kebangsaan dan budaya dengan membentangkan bendera sepanjang 1.000 meter.

Rangkaian acara juga mencakup upaya pemecahan rekor MURI pembacaan teks Proklamasi 1945 menggunakan bahasa isyarat dengan peserta terbanyak.

Gedung Agung Punya Nilai Sejarah Penting

Program Istana untuk Rakyat atau Istura merupakan program pemerintah yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal lebih dekat istana kepresidenan.

Gedung Agung Yogyakarta memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia. Istana tersebut pernah menjadi tempat Presiden Soekarno menetap dan menjalankan pemerintahan ketika Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia pada 1946-1949.

Bangunan Gedung Agung memiliki arsitektur klasik Eropa dan telah berdiri sejak 1824. Nilai sejarah tersebut membuat kunjungan ke istana tidak hanya menjadi kegiatan wisata, tetapi juga sarana pembelajaran mengenai perjalanan sejarah bangsa.

Meski terbuka untuk masyarakat, kunjungan ke Gedung Agung tidak dapat dilakukan secara spontan. Calon pengunjung wajib melakukan pendaftaran terlebih dahulu melalui sistem pendaftaran daring yang telah disediakan.

Bagi para siswa penyandang disabilitas yang hadir dalam kegiatan tersebut, kunjungan ke Gedung Agung menjadi lebih dari sekadar wisata. Mereka mendapat kesempatan untuk belajar sejarah secara langsung sekaligus merasakan ruang publik bersejarah yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.