SOLO, MettaNEWS – BPJS Kesehatan memperkuat upaya meningkatkan literasi masyarakat mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan menggandeng ribuan penyuluh agama melalui kegiatan Sinergi Penyuluh Agama Integrasi Literasi (SYAIR) JKN. Program yang mengusung tema “Menjalin Ukhuwah, Menjaga Sesama: Bersama Penyuluh Agama Mewujudkan Masyarakat Sehat, Sejahtera, dan Terlindungi” ini diharapkan mampu memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjadi peserta aktif JKN hingga ke pelosok negeri.
Kegiatan yang digelar di Surakarta, Rabu (5/8/2026), menjadi wujud kolaborasi antara BPJS Kesehatan, Kementerian Agama Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Dewan Penasihat Syariah BPJS Kesehatan dalam memperkuat edukasi publik melalui pendekatan keagamaan.
Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan, Akmal Budi Yulianto, mengatakan penyuluh agama memiliki posisi strategis sebagai tokoh yang dipercaya masyarakat sehingga dinilai mampu menjadi agen literasi Program JKN.
“BPJS Kesehatan tidak bisa berjalan sendirian. Karena itu kami terus membangun sinergi dengan berbagai pihak, termasuk para penyuluh agama. Kami berharap mereka menjadi community influencer yang mampu mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kepesertaan JKN tetap aktif,” tegasnya.
Akmal menjelaskan, hingga Juni 2026 Program JKN telah melindungi 284 juta jiwa atau 98,60 persen dari total penduduk Indonesia. Namun, masih terdapat sekitar 50 juta peserta yang berstatus nonaktif, sebagian besar berasal dari peserta mandiri yang memiliki kemampuan membayar tetapi belum rutin melunasi iuran.
Menurut Akmal, keberlangsungan Program JKN sangat bergantung pada semangat gotong royong, di mana peserta yang sehat membantu pembiayaan pelayanan kesehatan bagi peserta yang sedang sakit.
“Setiap hari hampir dua juta masyarakat Indonesia memanfaatkan layanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Program ini memang bukan mencari keuntungan, tetapi menghadirkan perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat,” katanya.
Saat ini, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 23.679 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan 3.221 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) di seluruh Indonesia.
Khusus wilayah Jawa Tengah dan DIY, jumlah peserta JKN telah mencapai 41,6 juta jiwa atau sekitar 98,11 persen dari total penduduk, didukung oleh 3.528 FKTP dan 439 rumah sakit rujukan.
Melalui kegiatan SYAIR JKN, para penyuluh agama dibekali materi mengenai prinsip dasar JKN, hak dan kewajiban peserta, mekanisme pelayanan kesehatan, pembayaran iuran, hingga pemanfaatan layanan digital BPJS Kesehatan melalui metode Training of Trainers (ToT).
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Abu Rokhmad, M.Ag., menilai penyuluh agama memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui pendekatan nilai-nilai keagamaan.
“Tugas penyuluh agama adalah menjadi edukator, motivator, sekaligus mediator. Sampaikan kepada masyarakat bahwa menjadi peserta aktif JKN merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan diri dan keluarga,” katanya.
Ia berharap para penyuluh dapat membantu mengaktifkan kembali jutaan peserta yang saat ini berstatus nonaktif sehingga semakin banyak masyarakat yang memperoleh perlindungan kesehatan.
Senada dengan itu, Ketua Dewan Penasihat Syariah BPJS Kesehatan, K.H. Muhammad Cholil Nafis, mengingatkan bahwa menjaga kesehatan merupakan ajaran agama yang sering kali baru disadari ketika seseorang jatuh sakit.
Cholil menyebut, keikutsertaan dalam Program JKN merupakan bentuk ikhtiar sekaligus implementasi semangat tolong-menolong antarsesama.
“Banyak orang baru ingat BPJS ketika sudah sakit. Padahal menjaga kesehatan dan memiliki perlindungan kesehatan adalah bagian dari ikhtiar yang diajarkan agama,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mendorong pemanfaatan dana zakat untuk membantu pembayaran iuran JKN bagi masyarakat yang memenuhi ketentuan syariah, sebagai bentuk penguatan perlindungan sosial.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Tengah, Iwanuddin Iskandar, yang mewakili Gubernur Jawa Tengah, menilai sinergi BPJS Kesehatan dengan Kementerian Agama menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya jaminan kesehatan.
Iwanuddin menambahkan Jawa Tengah yang berpenduduk sekitar 38,4 juta jiwa masih menghadapi tantangan dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan akses layanan kesehatan, sehingga edukasi kepada masyarakat harus terus diperkuat.
“Kami berharap kolaborasi ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hidup sehat dan menjadi peserta aktif JKN. Dengan begitu, perlindungan kesehatan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, terutama kelompok yang rentan,” pungkasnya.








