SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong penguatan budaya literasi melalui inovasi yang mendekatkan buku kepada masyarakat. Salah satunya lewat perpustakaan keliling berbasis sepeda yang menghadirkan lapak baca gratis di ruang publik, sehingga warga bisa membaca di sela aktivitas sehari-hari.
Astrid meninjau langsung kegiatan perpustakaan keliling tersebut di kawasan Sriwedari, Solo, Sabtu (17/10/2026). Ia melihat pemanfaatan ruang publik sebagai tempat belajar alternatif yang terbuka bagi semua kalangan, sekaligus menjadi cara kreatif untuk menumbuhkan minat baca di luar sekolah maupun perpustakaan konvensional.
Menurut Astrid, penguatan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku dan fasilitas perpustakaan. Akses terhadap bacaan perlu dibuat lebih dekat, menarik, dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat agar membaca menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Literasi harus kita hadirkan sedekat mungkin dengan masyarakat. Jangan sampai buku hanya tersedia di tempat tertentu, tetapi belum menjadi bagian dari keseharian warga. Melalui perpustakaan keliling seperti ini, masyarakat bisa menemukan bacaan di ruang publik, membaca dengan santai, dan mulai membangun kebiasaan membaca dari hal sederhana,” ujar Astrid.
Ia menilai, penggunaan sepeda sebagai sarana membawa buku membuat layanan perpustakaan lebih fleksibel. Masyarakat tidak harus datang ke gedung perpustakaan untuk mendapatkan akses bacaan, karena buku justru dihadirkan di tengah aktivitas warga.
Dalam kegiatan tersebut, Astrid melihat lapak baca yang menyediakan puluhan judul buku dari koleksi pribadi penggagasnya, Destyn Ayu Safitri. Buku-buku itu dibawa menggunakan sepeda dan dapat dibaca secara gratis oleh masyarakat yang beraktivitas di kawasan Sriwedari.
Ruang Publik Jadi Tempat Belajar Alternatif
Astrid mengatakan, kegiatan perpustakaan keliling menunjukkan bahwa penguatan literasi dapat tumbuh melalui kreativitas dan partisipasi masyarakat. Ruang publik yang selama ini identik dengan rekreasi dan olahraga juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar dan pertukaran pengetahuan.
“Ruang publik tidak hanya bisa menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas, tetapi juga ruang untuk belajar. Kita perlu terus mendorong munculnya kegiatan kreatif yang membuat masyarakat semakin dekat dengan buku. Ketika aksesnya mudah dan suasananya menyenangkan, membaca bisa menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami,” katanya.
Menurutnya, gerakan literasi tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar. Inisiatif sederhana dari masyarakat, seperti menyediakan lapak baca gratis, dapat menjadi langkah awal untuk memperluas akses pengetahuan sekaligus membangun kebiasaan membaca.
Kegiatan semacam ini juga membuka peluang kolaborasi antara pemerintah, komunitas, sekolah, pengelola perpustakaan, dan keluarga dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.
Literasi Penting di Tengah Arus Informasi Digital
Astrid turut menyoroti pentingnya kemampuan literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Masyarakat, menurutnya, tidak cukup hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memahami, memilah, dan memeriksa kebenaran informasi secara kritis.
Budaya membaca menjadi salah satu fondasi untuk memperluas wawasan, mengembangkan daya pikir, serta membantu masyarakat menyikapi berbagai persoalan secara lebih bijak.
Karena itu, penguatan literasi perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari lingkungan keluarga dan sekolah hingga komunitas serta ruang publik. Dengan akses bacaan yang lebih mudah, masyarakat diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan.
Astrid berharap, kehadiran perpustakaan keliling berbasis sepeda dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk ikut memperluas akses bacaan di Kota Solo.
“Yang ingin kita bangun adalah ekosistem literasi yang hidup. Pemerintah, komunitas, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu bergerak bersama. Ukurannya bukan hanya berapa banyak buku yang tersedia, tetapi bagaimana buku itu bisa diakses, dibaca, dipahami, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tegas Astrid.
Melalui gerakan literasi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, Pemerintah Kota Surakarta berharap budaya membaca semakin tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan warga. Kehadiran lapak baca di Sriwedari menjadi contoh bahwa upaya membangun masyarakat yang gemar membaca dapat dimulai dari langkah sederhana, dekat, dan mudah dijangkau.








