NAGOYA, MettaNEWS – Ada cara berbeda yang ditunjukkan atlet boccia Indonesia untuk menghadapi ketatnya persaingan Asian Para Games 2026. Muhammad Afrizal Syafa tampil nyentrik dengan rambut berwarna biru, sementara Gischa Zayana memilih gaya kalem dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Meski berbeda karakter, keduanya sama-sama menunjukkan mental bertanding yang kuat. Afrizal sukses membalikkan keadaan setelah tertinggal tiga poin, sedangkan Gischa meraih kemenangan meyakinkan dalam pertandingan pembuka fase grup di Nagoya City General Gymnasium, Jepang, Sabtu (17/10/2026).
Afrizal yang turun di nomor individu putra BC1 menjadi atlet Indonesia pertama yang bertanding. Menghadapi Yerkhat Almat dari Kazakhstan di Pool A, atlet asal Kota Solo itu sempat kesulitan pada babak pertama dan tertinggal 0-3.
Namun, Afrizal mampu mengubah jalannya pertandingan. Ia tampil lebih tenang pada tiga babak berikutnya dan berhasil mengumpulkan empat poin tanpa memberikan tambahan angka kepada lawannya. Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan Afrizal, 4-3.
“Saya kalau di game-game awal memang sering main jelek sih. Di event-event sebelumnya juga begitu, belum langsung perform, masih cari-cari feel-nya. Setelah tertinggal tiga angka tadi, saya mencoba untuk bermain lebih tenang dan menikmati pertandingan,” kata Afrizal seusai pertandingan.
Pengalaman tersebut menjadi catatan penting bagi Afrizal untuk menghadapi laga berikutnya. Ia mengaku ingin tampil lebih konsisten dan menghindari kesalahan yang sama.
“Saya akan maksimalkan lagi di setiap pertandingan dan tidak mengulangi kesalahan seperti yang tadi,” ucapnya.
Rambut Biru Jadi Ciri Khas Afrizal
Selain penampilannya di lapangan, rambut Afrizal yang dicat biru juga menarik perhatian. Pilihan warna tersebut ternyata memiliki alasan tersendiri.
Afrizal sengaja memilih warna biru karena identik dengan salah satu warna bola dalam olahraga boccia. Ia ingin tampil berbeda dari atlet lain yang lebih banyak memilih warna merah.
“Saya warnain biru karena (bola) boccia itu biru dan merah. Nah, kalau merah kan sudah banyak (yang mengecat), makanya saya pilih biru,” ungkapnya.
Afrizal juga memiliki cara tersendiri untuk menjaga tekanan terhadap lawan. Setiap berhasil melakukan lemparan sesuai keinginannya, ia kerap berteriak untuk membangun atmosfer pertandingan dan mengganggu konsentrasi lawan secara sportif.
“Sebenarnya itu cuma buat pressure lawan saja. Itu saya lakukan di setiap pertandingan. Kurang tau deh tadi berhasil (mempengaruhi lawan) atau enggak,” ucapnya sambil tertawa.
Di balik penampilan nyentrik tersebut, Afrizal tetap berupaya menjaga fokus dan ketenangan sebagai modal menghadapi pertandingan selanjutnya.
Senyum Kalem Gischa Berbuah Kemenangan
Berbeda dengan Afrizal, Gischa Zayana menunjukkan karakter yang lebih kalem. Atlet putri nomor individu BC2 itu tampak lebih banyak tersenyum sejak memasuki lapangan hingga pertandingan berlangsung.
Namun, ketenangan tersebut bukan berarti tanpa tantangan. Dalam laga pembuka Pool B melawan wakil Kamboja, Sas Sorn, Gischa sempat tertinggal dua poin. Ia kemudian mampu mengendalikan permainan dan menutup pertandingan dengan kemenangan telak 7-2.
Gischa mengakui sempat merasa gugup ketika melihat suasana stadion yang ramai. Ia kemudian berusaha menguatkan mental dan memusatkan perhatian pada pertandingan.
“Tadi sempat sedikit nervous, karena melihat stadion yang ramai, demam panggungnya agak kerasa. Setelah itu saya mencoba untuk lebih menguatkan mental lagi, lebih tenang dan bermain dengan baik,” kata Gischa.
Atlet kelahiran 3 Mei 2005 yang dijuluki Putri Solo tersebut masih harus menghadapi persaingan di fase grup. Ia dijadwalkan bertemu Satanan Phromsiri dari Thailand dan Zhazira Satybaldyeva dari Kirgistan.
“Saya akan berusaha memberikan yang terbaik dan mendapatkan medali,” ucapnya.
Tekad tersebut kemudian ditunjukkan Gischa dalam pertandingan keduanya pada hari yang sama. Ia sukses mengalahkan Zhazira Satybaldyeva dengan skor mencolok 20-0.
Tim Boccia Indonesia Sapu Bersih Kemenangan
Penampilan Afrizal dan Gischa menjadi bagian dari hasil positif tim boccia Indonesia pada hari pertama pertandingan. Total lima atlet Merah Putih menjalani enam pertandingan dalam fase grup, dengan Gischa menjadi satu-satunya atlet yang tampil dua kali.
Handayani yang turun di nomor BC1 putri mengalahkan wakil Makau, U Kei Tang, dengan skor 13-0. Sementara itu, Muhammad Bintang Satria Herlangga menang 13-1 atas wakil Uzbekistan, Nizomiddin Khayriddinnov, pada nomor BC2 putra.
Hasil impresif juga dibukukan Felix Ardi Yudha. Atlet BC2 putra tersebut menang telak 17-0 atas wakil Mongolia, Irmuun Khurelbaatar.
Dengan kemenangan kedua Gischa atas wakil Kirgistan, seluruh pertandingan yang dijalani atlet boccia Indonesia pada hari pertama berakhir dengan kemenangan.
Pelatih boccia Indonesia, Argya Setya Wimala, mengatakan rangkaian pertandingan awal menjadi bahan evaluasi bagi tim untuk meningkatkan penampilan pada laga-laga berikutnya, terutama dalam menjaga ketenangan sejak awal pertandingan.
“Total hari ini ada enam pertandingan untuk tim Indonesia. Hanya Gischa yang hari ini bermain dua kali untuk fase grup,” ucap Argya.
Para atlet Indonesia dijadwalkan kembali bertanding pada Senin (19/10/2026). Hasil positif pada hari pertama menjadi modal penting bagi tim untuk melanjutkan perjuangan di fase grup sekaligus menjaga peluang meraih medali di Asian Para Games 2026.








