Sembilan Kemenangan Warnai Perjuangan Para Tenis Meja Indonesia, Peluang Medali Asian Para Games 2026 Terbuka

oleh
oleh

NAGOYA, MettaNEWS – Tim para tenis meja Indonesia membukukan sembilan kemenangan pada hari kedua pertandingan Asian Para Games 2026 di Sky Hall Toyota, Nagoya, Jepang, Sabtu (17/10/2026). Hasil positif tersebut membuka peluang sejumlah atlet Merah Putih melaju ke semifinal, babak yang menjamin raihan medali perunggu.

Kejutan datang dari Leli Marlina di nomor tunggal putri kelas 4-5. Dia sukses menumbangkan wakil China, Zhang Miao, melalui pertandingan ketat dengan skor 3-2. Leli kemudian melanjutkan tren positif dengan mengalahkan Lali Tamang dari Nepal 3-0.

Hamida juga tampil impresif di tunggal putri kelas 8 dengan mengemas dua kemenangan. Dia menaklukkan wakil Thailand, Kanlaya Chaiwut, dengan skor dramatis 3-2 pada sesi pagi, kemudian mengalahkan Balziya Tash dari Kazakhstan 3-0 pada sesi sore.

Sementara itu, Komet Akbar menyapu bersih pertandingan melawan Lin Chun-ting dari Chinese Taipei di tunggal putra kelas 10 dengan kemenangan 3-0.

Pelatih tim para tenis meja Indonesia, Bayu Widhie Hapsara Purba, menilai hasil tersebut memperbesar peluang atletnya melangkah ke babak semifinal. Pertandingan penentuan posisi juara pool dijadwalkan berlangsung Senin (19/10/2026), setelah tidak ada pertandingan pada Minggu (18/10/2026) karena upacara pembukaan.

“Komet Akbar menang. Tinggal lusa ya, karena besok nggak ada pertandingan. Lusa itu penentuan. Kalau bisa keluar [sebagai juara] pool, Insya Allah dia semifinal,” ujar Bayu, Sabtu (17/10/2026).

Peluang serupa juga dimiliki Hamida. Menurut Bayu, kemenangan atas pemain Thailand menjadi modal penting bagi atletnya untuk menghadapi laga penentuan.

“Hamida juga tadi menang lawan Thailand. Menang 3-2, dramatis sekali tadi. Lusa masih main lagi, di tanggal 19. Kalau dia bisa keluar pool, Hamida juga bisa semifinal,” katanya.

Hamida Bidik Perunggu, Berharap Bisa Raih Emas

Hamida mengakui pertandingan melawan Kanlaya Chaiwut berlangsung menegangkan. Dia menilai kemampuan para pemain di kelasnya relatif berimbang sehingga keberanian dan strategi menjadi faktor penting untuk meraih kemenangan.

“Menegangkan, Mbak. Tegang,” ujar Hamida.

“Semuanya hampir sama kekuatannya sih. Cuma dengan kekuatan ini, keberanian aja lah. Tinggal strategi servis aja,” lanjutnya.

Meski persaingan ketat, Hamida mulai berani memasang target medali pada debut perjuangan di level Asia tersebut.

“Targetnya perunggu aja dulu, mudah-mudahan bisa emas,” tegasnya.

Bayu mengakui persaingan di pool tunggal putri kelas 8 berlangsung merata. Karena itu, setiap pertandingan menjadi penentu bagi peluang Hamida melangkah ke babak berikutnya.

“Kalau lawan di kelasnya Hamida ini, di pool-nya itu sangat merata, hampir seimbang semua,” jelasnya.

Untuk Komet Akbar, Bayu menyebut hasil positif dalam sejumlah turnamen uji coba menjadi bekal tambahan. Namun, dia mengingatkan atletnya agar tetap rendah hati dan menjaga fokus.

“Beberapa turnamen kita ikuti waktu try out, alhamdulillah menang. Semoga tidak takabur, kita tetap fokus ke permainan biar bisa menjadi juara pool dan langsung masuk ke semifinal,” kata Bayu.

Secara keseluruhan, Bayu menilai anak asuhnya telah menunjukkan penampilan yang cukup baik sepanjang pertandingan hari kedua.

“Atlet-atlet ini banyak sih yang sudah main bagus sebenarnya,” ujarnya.

Barce Layaba dan Kusnanto Bangkit Setelah Kalah

Di tengah sembilan kemenangan yang diraih, sejumlah atlet Indonesia juga harus melewati pertandingan ketat. Barce Layaba di tunggal putra kelas 4-5 nyaris membuat kejutan saat menghadapi unggulan pertama asal Chinese Taipei, Cheng Ming-chih.

Barce sempat unggul dalam pertandingan tersebut, tetapi akhirnya harus mengakui keunggulan lawan dengan skor tipis 2-3. Meski demikian, dia mampu bangkit pada sesi sore dengan mengalahkan Ip Chi Keong dari Makau 3-0.

“Itu juga lawan unggulan pertama. Lawannya berat. Dia sempat leading juga tadi, tapi akhirnya kalah 3-2 sama unggulan pertama dari Taipei,” ungkap Bayu.

Kusnanto mengalami hasil serupa di tunggal putra kelas 9. Pada pertandingan pagi, dia kalah 0-3 dari Wong Hon Lam asal Hong Kong yang merupakan unggulan kedua di kelasnya.

Bayu menilai ketegangan menjadi hal yang wajar, terutama bagi atlet yang baru pertama kali tampil di ajang olahraga sebesar Asian Para Games.

“Mungkin yang baru main ini, kayak Kusnanto tadi, sedikit ada tegangnya. Pasti ada ya, soalnya ini event besar, pasti ada rasa tegang itu,” ujarnya.

Kusnanto juga mengakui dirinya belum tampil maksimal karena gugup menghadapi pertandingan pertamanya.

“Mungkin ini event terbesar ya buat saya. Pertandingan pertama ini saya nervous, tegang, tidak maksimal,” katanya seusai laga pagi.

Namun, dia tidak ingin berlarut-larut dalam kekalahan. Kusnanto bertekad memanfaatkan pertandingan berikutnya untuk memperbaiki penampilan dan menjaga peluang lolos dari pool.

“Akan saya maksimalkan nanti melawan Malaysia. Semoga bisa menang, insyaallah. Target harus keluar pool untuk mencapai 8 besar,” tegasnya.

Tekad tersebut berhasil diwujudkan. Pada sesi sore, Kusnanto menaklukkan Chee Chaoming dari Malaysia dengan skor 3-1.

Catatan Hasil Pertandingan Hari Kedua

Selain kemenangan Leli Marlina, Hamida, Komet Akbar, Barce Layaba, dan Kusnanto, atlet Indonesia lainnya juga mencatatkan hasil beragam.

Yayang Gunaya menang 3-0 atas Munidasa Walimunige dari Sri Lanka, sedangkan Adyos Astan mengalahkan Yoy Kosal dari Kamboja 3-1. Adyos kemudian kalah tipis 2-3 dari Wanchai Chaiwut asal Thailand. Yayang juga menelan kekalahan 0-3 dari Genki Saito asal Jepang.

Osrita Muslim di tunggal putri kelas 3 harus mengakui keunggulan Huang Zhirui dari China dan Noriko Batuhan dari Filipina, masing-masing dengan skor 0-3.

Sementara itu, Muhammad Dwiputra di tunggal putra kelas 11 dan Banyu Tri Mulyo di tunggal putra kelas 8 tercatat kalah melalui walkover (W/O) dalam dua pertandingan masing-masing.

Dengan hasil tersebut, tim para tenis meja Indonesia masih memiliki kesempatan memperbaiki posisi pada pertandingan berikutnya. Laga penentuan pool pada Senin (19/10/2026) menjadi momentum penting bagi para atlet untuk mengamankan tiket semifinal sekaligus membuka jalan menuju podium Asian Para Games 2026.