Kirab Selikuran, Keraton Surakarta Peringati Lailatul Qadar dengan Dua Versi

oleh
Kirab Selikuran, malem selikuran
Kirab Selikuran Keraton Surakarta dalam peringatan Lailatur Qadar, Jumat (22/4/2022) | MettaNEWS / Adinda Bunga

SOLO, MettaNEWS – Memasuki hari ke-21  Ramadan, Keraton Kasunanan Surakarta memperingati malam Lailatul Qadar, Jumat (22/4). Menggelar tradisi Hajat Dalem Kirab malam selikuran 21 Pasa (puasa), kirab ini terbagi menjadi dua versi.

Pada kesempatan kali ini, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar dua kirab di waktu yang hampir berdekatan. Yakni kirab malam selikuran Paku Buwono XIII dan kirab yang digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta.

Kedua kirab ini dilakukan dengan tempat yang sama, dari Kori Kamandungan hingga Masjid Agung Solo. Waktu kedua kirab hanya berjarak setengah jam. Kendati begitu, kedua kirab ini tetap pada ruh-nya sebagai acara adat berlandaskan nilai-nilai malam Lailatul Qadar, salah satunya dengan pembagian 1.000 tumpeng.

“Secara konsep sama, semuanya mengangkat nilai-nilai selikuran,” ucap takmir Masjid Agung Solo, HM Muhtarom seusai acara, Jumat (23/4).

Muhtarom pun tak mempermasalahkan kedua pihak ini menggelar dua kirab di waktu yang saling berdekatan, selama dua pihak itu tak saling berbenturan.

“Prinsipnya Masjid Agung Solo memfasilitasi selama tidak berbenturan,” jelasnya.

Dimulai pukul 20.50 WIB, sekira 500-an abdi dalem dan keluarga Keraton Kasunanan Surakarta berjalan dari Kori Kamandungan menuju Masjid Agung Solo. Para peserta kirab membawa beberapa lampion berbentuk bintang, bulan, masjid bertuliskan tulisan Hijaiyah. Melewati Jalan Supit Urang diiringi dengan sholawat, kirab tersebut juga diiringi dengan lampung ting (lentera) untuk penerangan. Sedanganlan 10 jodang yang berisi 1.000 tumpeng kecil dipikul oleh 20 orang.

Sesampainya di serambi Masjid Agung Solo, acara dilanjutkan dengan prosesi doa bersama dipimpin ulama masjid tersebut. Setelahnya dilanjutkan dengan pembagian 1.000 tumpeng kepada peserta kirab dan masyarakat umum. Masyarakat pun sangat antusias untuk mendapatkan berkah dari tumpeng yang dibagikan.

Kirab pada malam selikuran kali ini merupakan kali pertama yang dilakukan Keraton Kasunanan Surakarta. Selama dua tahun, kirab ini absen lantaran pandemi Covid-19.

Sementara itu, tumpeng yang berjumlah 1.000 tersebut memiliki maksud filosofis. Yakni pahala malam Lailatul Qadar setara dengan 1.000 bulan atau 83 tahun.

“Seribu tumpeng itu bermakna bahwa siapapun yang mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qodar dinilai sebagai Ibadah 83 tahun berturut-turut,” ucapnya.

Dari pantauan MettaNews, pembagian tumpeng berjalan kondusif. Masyarakat umum pun mengambil tumpeng  tanpa menimbulkan kericuhan. Namun ada juga yang menunggu pembagian dari peserta kirab agar tidak berdesak-desakan masuk ke area masjid.